Hutan De Djawatan Banyuwangi: Menemukan Suasana Negeri Dongeng di Tengah Hutan Trembesi
Selama ini, ketika membicarakan Banyuwangi, pikiran kita mungkin langsung tertuju pada Kawah Ijen, Baluran, atau deretan pantainya yang memesona. Padahal, ada sudut lain yang tak kalah menarik untuk dijelajahi, yaitu hutan trembesi dengan batang-batang raksasa dan tajuk pepohonan yang membentuk lorong hijau alami.
Bayangkan berada di antara pepohonan trembesi raksasa. Batangnya besar, cabangnya menjulur ke berbagai arah, sementara dedaunan membentuk kanopi yang menaungi kawasan hutan. Bentuk pohon-pohon itu begitu khas hingga banyak orang membandingkannya dengan Hutan Fangorn dalam film The Lord of the Rings.
Tak perlu jauh-jauh ke Selandia Baru untuk menemukan suasana hutan yang dramatis. Di Banyuwangi, Jawa Timur, ada tempat yang menawarkan lanskap serupa, dengan karakter alamnya sendiri.
Begitu membicarakan De Djawatan, hal pertama yang terbayang tentu saja pepohonan trembesi berukuran besar. Pohon-pohon inilah yang menjadi daya tarik utama kawasan wisata yang berada di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi.
Lanskapnya berbeda dari hutan wisata yang dipenuhi jalur pendakian atau aktivitas petualangan berat. Di sini, daya tarik utamanya justru berada di sekitar pepohonan itu sendiri. Tidak heran jika De Djawatan menjadi salah satu tujuan favorit pencinta fotografi dan pembuat konten perjalanan.
Sebagai seorang traveler, saya selalu tertarik pada destinasi yang memiliki cerita di balik keindahannya. Bukan hanya tempat untuk berfoto, tetapi juga tempat yang membuat kita ingin tahu lebih banyak tentang alam, sejarah, dan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Bagi pencinta fotografi, setiap sudutnya juga menawarkan karakter visual yang berbeda. Ada batang pohon yang tampak dramatis, akar yang membentuk pola alami, hingga celah-celah di antara pepohonan yang menarik dijadikan latar foto. Rasanya, tidak perlu banyak properti untuk menghasilkan foto yang berkesan. Alam sudah menyediakan panggungnya sendiri.
Ada Cerita di Balik Nama De Djawatan
Sebelum dikenal sebagai destinasi wisata, kawasan De Djawatan berkaitan dengan aktivitas kehutanan dan penimbunan kayu. Pengembangan kawasan ini sebagai tempat wisata dimulai sekitar 2017, kemudian resmi dibuka untuk umum pada Juni 2018. Nama Djawatan sendiri berkaitan dengan istilah Djawatan Kehutanan, sebutan yang memiliki hubungan dengan sejarah Perhutani.
Mengetahui latar belakang tersebut membuat kita melihat kawasan ini dari sudut pandang yang berbeda. Hutan yang sekarang ramai dikunjungi wisatawan bukan sekadar latar foto, melainkan bagian dari sejarah pemanfaatan kawasan kehutanan di Banyuwangi. Menurut saya, informasi semacam ini penting bagi traveler. Ketika mengetahui cerita di balik sebuah tempat, pengalaman berkunjung menjadi lebih kaya daripada sekadar datang, berfoto, lalu pulang.
Aktivitas yang Bisa Dilakukan di De Djawatan
Berwisata ke De Djawatan tidak harus selalu berakhir dengan berburu foto untuk media sosial. Ada beberapa aktivitas yang bisa dinikmati selama berada di kawasan ini.
1. Berburu foto dengan latar pohon trembesi
Ini tentu menjadi aktivitas favorit banyak pengunjung. Pepohonan besar menciptakan latar yang khas, baik untuk foto perjalanan, potret pribadi, maupun dokumentasi bersama keluarga.
Jika ingin mendapatkan suasana yang lebih tenang, datanglah pada hari kerja dan usahakan tiba lebih awal, setelah memastikan jam operasionalnya.

2. Berjalan santai menikmati suasana hutan
Cobalah sesekali menyimpan ponsel dan menikmati lingkungan sekitar. Perhatikan bentuk batang, tekstur kulit pohon, dedaunan, serta cahaya matahari yang menembus celah ranting.
Wisata alam tidak selalu harus dipenuhi agenda. Terkadang, berjalan perlahan tanpa terburu-buru justru menjadi bagian perjalanan yang paling menyenangkan
.

3. Menikmati aktivitas wisata yang tersedia
Sejumlah informasi wisata menyebutkan adanya aktivitas tambahan seperti naik dokar atau berkuda. Ketersediaan wahana dapat berubah, jadi tanyakan langsung kepada pengelola sebelum berkunjung. Biaya aktivitas tambahan juga perlu diperhitungkan di luar tiket masuk. Tarif naik dokar Rp50.000 untuk satu perjalanan berdurasi sekitar 30 menit, dengan kapasitas satu hingga empat orang. Pastikan kembali tarif yang berlaku ketika berkunjung.

4. Membuat konten perjalanan
Bagi travel blogger dan pembuat konten, De Djawatan menawarkan banyak kemungkinan cerita. Kita bisa membuat video perjalanan, mengambil foto detail pepohonan, merekam suasana sekitar, atau menulis refleksi tentang hubungan manusia dengan alam.
Lokasi dan Cara Menuju De Djawatan
De Djawatan berada di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Jaraknya sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Banyuwangi, dengan waktu tempuh kurang lebih satu jam menggunakan kendaraan pribadi, tergantung kondisi lalu lintas dan titik keberangkatan. Jika berangkat dari pusat kota, perjalanan dapat diarahkan melalui jalur Banyuwangi–Jember menuju kawasan selatan, kemudian dilanjutkan ke arah Srono dan Benculuk.
Bagi wisatawan yang baru pertama kali datang, gunakan aplikasi peta digital untuk memandu perjalanan. Pastikan tujuan yang dipilih adalah De Djawatan di Benculuk, Kecamatan Cluring, bukan tempat lain dengan nama serupa. Untuk transportasi, kendaraan pribadi atau kendaraan sewaan akan memudahkan perjalanan, terutama jika De Djawatan menjadi salah satu dari beberapa destinasi yang ingin dikunjungi dalam sehari.
Jika menggunakan transportasi umum, sebaiknya rencanakan perjalanan hingga tahap terakhir menuju lokasi. Cari informasi kendaraan lokal atau ojek dari titik kedatangan yang paling dekat. Jangan lupa mempertimbangkan biaya perjalanan pulang agar tidak kesulitan mencari kendaraan setelah selesai berwisata.
Harga Tiket Masuk Hutan De Djawatan Banyuwangi
Salah satu hal yang biasanya ingin diketahui sebelum berwisata adalah biaya masuk. Kabar baiknya, De Djawatan termasuk destinasi yang relatif terjangkau. Saya ke sana tahun 2024, jadi harga di bawah ini sesuai harga 2024 ya 🙂
| Keperluan | Perkiraan biaya |
|---|---|
| Tiket masuk per orang | Rp7.500–Rp10.000 |
| Parkir sepeda motor | Rp2.000 |
| Parkir mobil | Rp5.000 |
| Delman wisata | Rp50.000 per perjalanan, informasi 2024 |
| Makan dan minum | Sesuai pilihan menu |
Simulasi bujet untuk dua orang
Supaya lebih mudah membayangkan pengeluaran, berikut simulasi sederhana jika datang berdua menggunakan sepeda motor.
| Keperluan | Total |
|---|---|
| Tiket masuk 2 orang | Rp15.000–Rp20.000 |
| Parkir motor | Rp2.000 |
| Total tiket dan parkir | Rp17.000–Rp22.000 |
Artinya, untuk dua orang yang hanya ingin masuk, berjalan-jalan, dan menikmati suasana hutan, bujet tiket serta parkir bisa disiapkan sekitar Rp22.000 berdasarkan perkiraan tarif di atas. Angka tersebut belum termasuk bensin, makan, minum, atau wahana tambahan. Jika ingin naik delman, tambahkan biaya sesuai tarif terbaru yang berlaku. Inilah salah satu hal menarik dari wisata alam seperti De Djawatan: kita bisa menikmati pemandangan yang khas tanpa harus mengeluarkan biaya besar untuk tiket masuk.
Kapan Waktu Terbaik Berkunjung?
Menurutku, untuk destinasi yang mengandalkan keindahan pepohonan seperti De Djawatan, waktu kedatangan bisa memengaruhi kenyamanan perjalanan. Pagi hari layak dipertimbangkan karena udara biasanya belum terlalu panas dan cahaya matahari dapat menghasilkan foto yang menarik. Datang pada hari kerja juga bisa menjadi pilihan jika ingin mengurangi kemungkinan bertemu banyak pengunjung.
Jam operasional yang tercantum pada sistem informasi pariwisata adalah pukul 08.00–17.00 WIB. Namun, ada publikasi lain yang menyebut jam buka mulai pukul 07.00. Sebaiknya konfirmasi terlebih dahulu sebelum berangkat agar tidak salah memperkirakan waktu.
Kalau tujuan utamamu adalah fotografi, berikan waktu yang cukup untuk menjelajahi kawasan. Jangan sampai perjalanan terasa seperti perlombaan mengumpulkan foto. Sesekali, simpan ponsel dan nikmati suasana di sekelilingmu.
Kelebihan dan Kekurangan De Djawatan
Setiap tempat wisata memiliki karakter masing-masing. Begitu pula De Djawatan. Kelebihan utamanya adalah pemandangan pohon trembesi yang khas, suasana rindang, dan harga tiket yang relatif terjangkau. Tempat ini juga menarik bagi keluarga, pencinta fotografi, serta traveler yang ingin menikmati wisata alam tanpa harus melakukan trekking berat. Fasilitas dasar seperti area parkir, toilet, tempat ibadah, dan pilihan makanan atau minuman juga tercatat tersedia di kawasan ini.

Namun, ada beberapa hal yang sebaiknya dipertimbangkan.
Pertama, jika kamu lebih menyukai wisata dengan banyak wahana modern, De Djawatan mungkin terasa sederhana. Daya tarik utamanya tetap berada pada pepohonan dan suasana hutan.
Kedua, kawasan yang populer sebagai spot foto berpotensi ramai pada akhir pekan dan musim liburan. Pengunjung yang ingin menikmati suasana lebih tenang sebaiknya mempertimbangkan waktu kedatangan.
Ketiga, keselamatan tetap harus diutamakan. Pepohonan besar memiliki cabang yang bisa rapuh, terutama ketika cuaca buruk. Hindari berada di bawah pohon saat angin kencang atau hujan lebat, dan patuhi petunjuk petugas.
Terakhir, jangan lupa bahwa keindahan kawasan ini perlu dijaga bersama. Tidak memanjat pohon, merusak tanaman, mencoret batang, atau membuang sampah sembarangan adalah bentuk penghargaan paling sederhana kepada alam.
Tips Berkunjung agar Perjalanan Lebih Nyaman
Sebelum berangkat, ada beberapa hal kecil yang bisa membuat perjalananmu lebih menyenangkan.
- Kenakan alas kaki yang nyaman dan tidak licin.
- Bawa air minum secukupnya.
- Siapkan uang tunai untuk berjaga-jaga meskipun informasi pariwisata mencantumkan pilihan pembayaran digital.
- Periksa harga tiket, jam operasional, dan tarif wahana terbaru.
- Datang lebih pagi jika ingin menikmati suasana yang relatif tenang.
- Jangan hanya fokus mengambil foto. Luangkan waktu untuk mengenal sejarah dan lingkungan kawasan.
- Jika membawa anak-anak atau orang lanjut usia, perhatikan kondisi jalur dan ikuti arahan petugas.
Untuk traveler yang ingin menghemat anggaran, biaya masuk yang relatif murah bisa menjadi keuntungan tersendiri. Namun, tetap sesuaikan pilihan transportasi, konsumsi, dan aktivitas tambahan dengan bujet perjalanan.
De Djawatan dan Pengingat untuk Lebih Dekat dengan Alam
Ada sesuatu yang menarik dari pepohonan yang telah tumbuh jauh sebelum kita datang ke tempat ini. Kita mungkin hanya menghabiskan satu atau dua jam untuk berjalan di antara batang-batang besarnya, tetapi pohon-pohon tersebut menyimpan perjalanan waktu yang panjang. Itulah sebabnya, bagi saya, mengunjungi destinasi alam seharusnya tidak berhenti pada keinginan mendapatkan foto yang bagus.
Perjalanan juga bisa menjadi kesempatan untuk belajar menghargai lingkungan, mengenal sejarah suatu tempat, dan menyadari bahwa tidak semua hal harus dinikmati dengan tergesa-gesa. De Djawatan menawarkan perpaduan antara keindahan visual, suasana teduh, dan cerita tentang kawasan kehutanan di Banyuwangi. Destinasi ini layak dipertimbangkan jika kamu ingin memasukkan wisata alam yang unik ke dalam itinerary. Dan jika suatu hari kamu berkunjung ke sana, jangan pulang hanya membawa foto-foto indah.
Bawalah juga kesadaran bahwa hutan bukan sekadar latar untuk perjalanan kita. Ia adalah bagian dari alam yang perlu terus dijaga, supaya orang-orang yang datang setelah kita masih bisa menikmati keindahannya. Karena pada akhirnya, perjalanan yang baik bukan hanya tentang berapa banyak tempat yang berhasil kita datangi, tetapi juga tentang apa yang kita pelajari sepanjang perjalanan.
Tips Sebelum Berkunjung
Ada beberapa hal sederhana yang dapat membuat perjalanan lebih nyaman.
Pilih waktu yang tepat. Pagi hari biasanya lebih nyaman untuk berjalan dan mengambil foto. Untuk menghindari keramaian, pertimbangkan hari kerja jika jadwal memungkinkan.
Kenakan alas kaki yang nyaman. Pilih sepatu atau sandal yang tidak licin. Kondisi tanah dapat berubah setelah hujan.
Bawa air minum. Meski suasananya rindang, berjalan berkeliling tetap membutuhkan tenaga, terutama jika cuaca sedang panas.
Jangan hanya mengandalkan foto di internet. Cari informasi terbaru tentang jam buka, tiket masuk, fasilitas, dan kondisi akses sebelum berangkat.
Hormati lingkungan. Jangan memanjat pohon, merusak akar, mencoret batang, atau meninggalkan sampah. Hindari pula menginjak tanaman hanya demi mendapatkan sudut foto tertentu.
Siapkan pakaian yang nyaman. Jika ingin menghasilkan foto perjalanan, pilih pakaian yang sesuai dengan suasana hutan. Warna netral atau warna yang kontras dengan latar hijau bisa menjadi pilihan, tanpa harus membawa terlalu banyak perlengkapan.
Sisakan waktu untuk menikmati tempatnya. Jangan sampai seluruh kunjungan hanya dihabiskan untuk berpindah dari satu titik foto ke titik foto berikutnya.
Menjaga Hutan, Menjaga Cerita yang Akan Datang
Ada satu hal yang layak kita ingat ketika mengunjungi tempat seperti De Djawatan: keindahan alam bukan sekadar latar untuk foto.
Pohon-pohon besar yang kita lihat hari ini merupakan bagian dari perjalanan waktu yang panjang. Mereka memiliki nilai ekologis, menjadi habitat bagi organisme lain, dan membentuk lingkungan yang berbeda dari kawasan perkotaan.
Karena itu, wisata alam seharusnya tidak hanya memberikan pengalaman menyenangkan kepada pengunjung, tetapi juga menumbuhkan kesadaran untuk menjaga lingkungan.
Datanglah sebagai tamu yang menghargai tempat yang dikunjungi. Ambil foto secukupnya, nikmati suasananya, lalu pulang tanpa meninggalkan kerusakan.
Sebab, bukankah perjalanan yang baik bukan hanya tentang tempat indah yang berhasil kita datangi, melainkan juga tentang bagaimana kita memperlakukan tempat tersebut?
Menemukan Sisi Lain Banyuwangi
Banyuwangi selalu punya cara untuk membuat orang ingin kembali. Ada gunung yang menantang, pantai yang menenangkan, savana yang luas, dan hutan yang menyimpan cerita.
De Djawatan menawarkan pengalaman yang berbeda: menikmati pohon-pohon trembesi raksasa, berjalan di antara hijaunya pepohonan, sekaligus mengenal sejarah sebuah kawasan yang kini menjadi tujuan wisata.
Tempat ini cocok untuk kamu yang ingin mencari suasana alam, membuat dokumentasi perjalanan, atau sekadar menyelipkan destinasi unik dalam agenda menjelajahi Banyuwangi.
Dan jika suatu hari kamu berkesempatan datang, jangan buru-buru mengejar semua sudut fotonya. Luangkan waktu untuk benar-benar melihat sekeliling.
Barangkali, di antara batang-batang trembesi yang menjulang itu, kita bisa menemukan sesuatu yang sederhana tetapi sering terlupakan: bahwa sesekali, kita memang perlu berhenti sejenak, menarik napas, dan membiarkan perjalanan berjalan dengan ritmenya sendiri.



