
Diary Rasa di Bukit Delight: Menuntaskan Rindu Bersama Walimurid
Berawal dari Grup WhatsApp
Kadang rindu itu sederhana. Ia muncul dari notifikasi kecil di layar ponsel. Notifikasi ajakan buat ngumpul dari walimurid. Lalu pesan-pesan lain menyusul seperti hujan di awal musim: cepat, hangat, dan tak terduga.
Sudah lama kami tak duduk satu meja tanpa membicarakan PR anak, nilai ulangan, atau jadwal lomba. Anak-anak kini tumbuh, beberapa sudah remaja. Tapi kami? Masih orang tua yang selalu setia membersamai.
Dan entah bagaimana, nama Bukit Delight muncul sebagai titik temu. Bagi saya ini adalah Ide Sederhana yang Jadi Luar Biasa
“Di sana saja. View-nya bagus, tempatnya luas.”
“Bisa outdoor, enak buat sharing.”
Tak perlu banyak debat. Bukit Delight seperti jawaban atas rindu yang lama tertunda.
Mengenal Bukit Delight
Terletak di kawasan perbukitan Kota Malang, Bukit Delight menawarkan pemandangan kota dari ketinggian. Dari sana, rumah-rumah terlihat seperti miniatur, lampu-lampu seperti kunang-kunang yang bersiap menari ketika senja datang.
Jalanan menuju Bukit Delight sedikit menanjak, berliku. Tapi aman kok, karena sudah full aspal. Udara di atas bukit terasa lebih jujur. Ia menyapa kulit tanpa basa-basi. Sejuk. Bersih. Menenangkan.
Konsep Tempat: Outdoor Dining dengan Pemandangan Kota
Bukit Delight bukan sekadar tempat makan. Ia adalah ruang terbuka yang memberi kita jarak dari riuhnya kota. Area duduknya didominasi taman dan teras terbuka. Kursi kayu, meja panjang, bean bag warna-warni, serta lampu-lampu gantung yang kelak akan bersinar temaram saat malam turun.
Kita bisa memilih duduk lesehan, duduk formal, atau sekadar bersandar sambil memandangi langit.
Di sini juga ada sudut-sudut yang memang diciptakan untuk dikenang: pagar kayu dengan latar langit, lampu-lampu gantung yang menyala saat gelap mulai turun, serta area rumput hijau yang luas.
Pastinya kita tidak akan melewatkan momen memotret plating makanan dengan latar sunset. Cantik. Dramatis. Instagramable, kata anak zaman sekarang.
Salah satu agenda pertemuan kami adalah tuker kado. Saya lupa saat itu dibatasi berapa rupiah.. ehm sekitar 20k kalau nggak salah. Ada yang datang membawa kue, ada yang membawa goodie bag kecil untuk tukar hadiah. Kami seperti anak sekolah yang hendak piknik. Rasanya ringan. Tanpa beban.
Meja Panjang, Cerita Panjang
Begitu memasuki area Bukit Delight, mata langsung dimanjakan hamparan rumput hijau dan meja-meja kayu yang tertata rapi. Lampu gantung kecil tergantung di atas kepala, belum menyala, tapi sudah menjanjikan kehangatan malam nanti.
Saya menarik napas panjang. Udara bukit selalu punya cara untuk menghapus lelah yang tak terlihat.
Kami memilih meja panjang. Satu meja untuk semua. Tak ada sekat. Tak ada kelompok kecil. Semua menyatu.
Satu per satu mulai bercerita. Mulai dari cerita kehidupan masing-masing, anak-anak, sampai rencana-rencana ke depan. Kami saling menguatkan, berbagi tips, bahkan tertawa atas drama kecil yang ternyata hampir sama di setiap rumah.
Di antara cerita serius, selalu ada canda. Dan di situlah saya sadar: kami tak hanya datang untuk makan. Kami datang untuk menuntaskan rasa kangen.
Momen Tukar Hadiah
Setiap orang membawa hadiah kecil—dibungkus rapi, tanpa nama. Masing-masing membawa hadiah sejumlah orang yang datang. Jadi masing-masing dari kami membawa sekian hadiah. MashaAllah tabarakallahu.. makasih Mama-mama.
Saat kado dibuka, wajah-wajah sumringah terlihat jelas. Ada banyak hadiah yang sesuai kebutuhan kami. Dan yang membuatnya lebih istimewa adalah prosesnya.

Menikmati Menu Bukit Delight
Bukit Delight menyajikan menu yang cukup beragam. Dari nasi goreng, ayam bakar, mie, hingga steak dan pasta. Kami memesan campur aduk—sesuai selera masing-masing.
Plating-nya sederhana tapi menarik. Cocok untuk difoto tanpa perlu filter berlebihan. Harga pun masih terjangkau untuk ukuran tempat dengan view seindah itu.
Untuk minuman ada teh, kopi, cokelat panas, jus, dan aneka minuman kekinian. Uap tipis mengepul dari gelas, seperti doa kecil yang naik ke langit.

Saat kami ke sana, Malang diguyur hujan. Kami sempat pindah duduk beberapa kali. Selain itu senja datang tanpa suara. Langit berubah warna. Kami terdiam sesaat, menikmati.
Di momen itu, aku merasa bersyukur. Untuk pertemanan yang bertahan. Untuk anak-anak yang mempertemukan kami. Untuk Bukit Delight yang menjadi saksi.
Bukankah hidup sering kali terlalu cepat? Tapi sore itu, waktu terasa melambat.
Kami mencicipi banyak rasa. Menilai tekstur, aroma, plating. Tempat ini bukan sekadar restoran di atas bukit. Ia adalah ruang untuk hati yang ingin dipeluk kembali oleh kenangan.
Pertemuan di Bukit Delight bersama walimurid SD dulu bukan hanya reuni biasa. Ia adalah pengingat bahwa hubungan tak pernah benar-benar selesai hanya karena anak-anak lulus sekolah. Di atas bukit itu, kami berbagi cerita, bertukar hadiah, bermain game, dan menuntaskan rasa kangen yang lama tertunda.
Bukit Delight memberi lebih dari sekadar makanan enak dan pemandangan indah. Ia memberi ruang untuk tertawa, menangis kecil, dan merasa pulang—meski hanya untuk beberapa jam.
Dan ketika malam benar-benar turun, kami pulang dengan hati yang lebih ringan.



