Drakor Can This Love Be Translated?: Bisa Banyak Bahasa Asing, Tapi Sulit Menerjemahkan Bahasa Perempuan
Saya lihat drakor ini karena judulnya, “Can This Love Be Translated?” terdengar sederhana, tapi menyimpan jebakan emosional yang rapi. Saya pikir ini akan jadi drama cinta intelektual tentang penerjemah bahasa asing. Ternyata tidak sepenuhnya bebar. Ini bukan soal berapa banyak bahasa yang kamu kuasai. Ini soal seberapa dalam kamu memahami manusia.
Dan di situlah drama ini menusuk.
Entah kenapa, sejak episode pertama, rasanya seperti sedang membaca potongan diary orang lain, yang pelan-pelan berubah jadi diary saya sendiri.
Tokoh laki-lakinya, Ju Ho-jin, muncul dengan aura yang rapi. Cara bicaranya terukur, ekspresinya minim, hidupnya terstruktur. Dia penerjemah profesional, menguasai banyak bahasa asing, berpindah dari satu ruang internasional ke ruang lainnya tanpa terlihat goyah. Saat melihatnya, saya sempat berpikir: hidup orang sepintar ini pasti aman. Tidak banyak drama. Tidak banyak salah paham.
Ternyata saya salah.
Lalu muncul Cha Mu-hee. Perempuan yang berisik. Dari pertemuan mereka saja, saya sudah merasa ada sesuatu yang tidak akan berjalan lurus.
Saya menonton sambil menyandar di sofa, tapi pikiran pelan-pelan masuk ke layar. Cara Ho-jin merespons Mu-hee selalu “benar”. Kata-katanya sopan. Logikanya utuh. Tidak ada kalimat kasar. Tidak ada niat menyakiti. Tapi setiap selesai satu adegan, dada terasa agak sesak. Karena saya pernah ada di posisi itu. atau mungkin pernah menjadi Mu-hee n.
Tidak ada konflik besar yang meledak-ledak di drama ini. Yang ada justru kesalahpahaman kecil yang dibiarkan tumbuh. Kata yang tidak ditanyakan ulang. Nada yang tidak diklarifikasi. Dan saya sadar, beginilah hubungan di dunia nyata sering berakhir, bukan karena cinta hilang, tapi karena terlalu yakin sudah saling paham.
Sebagai penonton, saya mulai memperhatikan detail kecil. Cara Mu-hee memilih diam. Cara Ho-jin menjawab terlalu cepat. Dalam psikologi bahasa, ini nyata. Bahasa perempuan sering kali membawa emosi dalam konteks, bukan dalam kata. Sedangkan Ho-jin hidup di dunia yang menuntut ketepatan makna. Baginya, satu kata punya satu arti. Padahal, perasaan tidak bekerja seperti kamus.
Ada satu dialog yang membuatku pause sebentar:
“Kamu menerjemahkan kalimatku, tapi tidak perasaanku.”
Kalimat itu sederhana, tapi rasanya seperti dibisikkan langsung ke telinga. Saya memikirkan percakapan-percakapan di hidupku sendiri. Betapa sering saya merasa sudah menjelaskan, sudah jujur, sudah terbuka—tapi tetap gagal dipahami. Atau sebaliknya, betapa sering saya mendengar tanpa benar-benar hadir.
Menariknya, drama ini juga seperti menyindir zaman sekarang. Dunia yang bangga dengan kemampuan multibahasa, sertifikat internasional, dan kecakapan global. Tapi di saat yang sama, kita canggung menghadapi emosi. Kita lebih nyaman menulis pesan panjang daripada bertanya, “kamu baik-baik saja?”
Ho-jin adalah representasi itu. Ia fasih berbicara ke dunia, tapi gagap saat harus membaca perubahan nada Mu-hee. Dan Mu-hee, dengan segala keheningannya, bukan perempuan lemah. Ia hanya lelah menerjemahkan dirinya sendiri terus-menerus.
Kemudian hadirlah Dorami. Awalnya saya mengira dia hanya tokoh pendukung, pemanis cerita, penghubung antar adegan. Tapi semakin lama saya menonton, semakin terasa: Dorami adalah cermin.
Dorami tidak secerdas Ho-jin dalam hal bahasa. Ia juga tidak sedalam Mu-hee dalam mengolah perasaan. Tapi justru di situlah perannya terasa manusiawi. Ia sering salah ucap, sering ragu, sering merasa tidak cukup.
Dalam struktur cerita, Dorami bukan tokoh utama, tapi fungsi emosionalnya besar. Ia seperti jembatan yang goyah, tapi tetap berdiri karena dibutuhkan. Lewat Dorami, drama ini menunjukkan satu hal penting: tidak semua orang gagal berkomunikasi karena tidak mau memahami. Ada yang gagal karena takut salah.
Jika Ho-jin adalah simbol orang yang percaya bahwa semua bisa diterjemahkan,
dan Mu-hee adalah simbol bahwa tidak semua perlu diterjemahkan,
maka Dorami adalah simbol orang-orang yang terjebak di tengah, yang ingin dipahami.
Di konteks dunia hari ini, Dorami terasa sangat relevan. Banyak dari kita seperti dia:
- bisa berbicara di ruang publik,
- bisa menulis panjang di media sosial,
- tapi gagap saat harus jujur pada satu orang secara langsung.
Dorami mengajarkan bahwa masalah komunikasi bukan cuma soal kosa kata atau empati, tapi juga soal rasa aman. Aman untuk salah. Aman untuk terdengar tidak sempurna. Aman untuk tidak selalu benar.
Menjelang akhir drama, saya menyadari sesuatu: Dorami tidak mengalami perubahan besar yang dramatis. Tidak ada titik balik yang heroic. Dan justru itu terasa paling nyata.
Semakin jauh menonton, semakin terasa bahwa Can This Love Be Translated? bukan drama tentang cinta yang gagal, tapi tentang usaha memahami yang tidak pernah diajarkan secara formal. Tidak ada kelasnya. Tidak ada sertifikatnya. Tidak ada standar kelulusannya.
Malam itu, sebelum tidur, saya membuka catatan di ponsel dan menulis satu kalimat, seperti menutup halaman diary:
“Mungkin cinta memang bisa diterjemahkan, tapi tidak semua orang mau belajar bahasanya.”
“Karena bahasa perempuan tidak selalu bisa diterjemahkan secara harfiah.”
Dan sejak itu, saya tahu, drama ini tidak akan selesai saat kredit akhir berjalan. Ia akan terus muncul di percakapan, di jeda diam, di kalimat yang terasa benar tapi tidak hangat.
Seperti cinta itu sendiri.
Yaps itulah perasaaanku saat melihat Can This Love Be Translated?
Sekarang ayo kita bahas alur atau plotnya..
Plot yang Diam-Diam Menyindir Kita Semua
Alur Can This Love Be Translated? berjalan pelan, tapi efeknya lama. Drama ini seperti berkata:
“Kamu boleh jago bahasa Inggris, Korea, Jepang, Prancis… tapi apakah kamu paham nada kecewa seseorang?”
Konflik tidak datang dari orang ketiga. Tidak ada teriakan atau adegan putus nyambung dramatis. Yang ada justru kegagalan kecil yang menumpuk:
- salah tafsir,
- respon yang terasa dingin,
- kalimat yang benar tapi tidak tepat.
Ini terasa terlalu relevan dengan kehidupan sekarang, ketika banyak orang bangga fasih bahasa asing, tapi gagal membaca emosi pasangan sendiri.
Betewe Bahasa Asing vs Bahasa Perasaan: Ini Bukan Hal yang Sama
Drama ini cerdas karena berani memperlihatkan paradoks modern: Semakin global kita, semakin sering kita salah paham secara personal.
Can This Love Be Translated? menjual satu ide sederhana tapi mahal yaitu Cinta tidak butuh kamus,.
Karena akhirnya kita sadar kalau bisa bicara ke dunia, belum tentu bisa bicara ke hati seseorang. Dan mungkin, itu terjemahan cinta yang paling sulit.
Karena psikologi bahasa perempuan itu tidak pernah benar-benar diterjemahkan. Drama ini kuat karena berani menyentuh psikologi bahasa perempuan.
Bahasa Dunia vs Bahasa Hati
Secara simbolik, Can This Love Be Translated? mempertemukan bahasa-bahasa besar dunia—Inggris, Korea, Jepang, Prancis—dengan satu bahasa yang sering diabaikan: bahasa hati.
Ho-jin bisa menerjemahkan pidato diplomatik dengan sempurna, tapi gagal membaca keheningan Mu-hee. Ini seperti sindiran elegan pada dunia global hari ini:
kita sibuk menjadi “warga dunia”, tapi lupa menjadi manusia yang mau mendengar.
Relevansinya terasa kuat di era media sosial:
- Kita cepat bereaksi, tapi lambat memahami.
- Kita menulis panjang, tapi jarang benar-benar membaca perasaan orang lain.
Keunikan Drama Ini
Beberapa hal yang membuat Can This Love Be Translated? punya daya jual kuat:
- Tema dewasa dan reflektif
Ini bukan drama cinta remaja. Ini drama tentang komunikasi orang dewasa yang lelah tapi tetap ingin dimengerti. - Dialog yang filosofis tapi membumi
Banyak dialog yang terasa seperti kutipan jurnal atau catatan terapi. - Visual tenang, simbolis
Ruang-ruang sunyi, jendela, kopi yang dingin, semuanya metafora komunikasi yang tertunda. - Minim antagonis, maksimal konflik batin
Musuh terbesar bukan orang ketiga, tapi ego dan asumsi.
Sebelum tulisan ini kelar, saya Cuma mau bilang kesuksesan sebuah drama tidak lepas dari jajaran pemain yang memiliki akting memukau: diantaranya adalah
- Kim Seon-ho: Joo Ho-jin
- Go Youn-jung: Cha Mu-hee
- Sōta Fukushi: Hiro Kurosawa
- Lee Yi-dam: Shin Ji-seon
- Choi Woo-sung: Kim Yong-woo
- Hyunri: Nanami
Penulis naskah drama Can This Love Be Translated? : Hong Sisters (Hong Jung-eun dan Hong Mi-ran), yang juga dikenal atas karya-karya populer seperti ‘Hotel del Luna’ dan ‘Alchemy of Souls’.
Lokasi syuting drama ini tidak hanya di Korea Selatan, tetapi juga di berbagai negara lain seperti Jepang, Kanada, dan Italia, untuk memperkaya visual cerita.
Setelah melihat drama ini, saya merasa harus lebih berhati-hati memilih kata. Bukan agar terdengar pintar, tapi agar terasa manusia. Karena pada akhirnya, drama ini tidak sedang bertanya apakah cinta bisa diterjemahkan, melainkan apakah kita cukup bersedia untuk mempelajarinya.


