Kadang, perjalanan itu seperti puisi: tak hanya soal sampai di tujuan, tapi juga tentang titik koma di sepanjang jalan, tentang jeda napas di tanjakan, tentang senyum asing yang menyalakan semangat.
Perjalanan ke Bukit Premium yang terletak di Dusun Kandang Sari, Desa Mororejo, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, di kaki Gunung Bromo di Pasuruan ini bagiku lebih dari sekadar wisata, ia adalah cerita yang membekas, lengkap dengan peluh, tawa, dan kejutan kecil yang tak pernah kuduga.
Menuju Nongkojajar: Jalan Panjang yang Bercerita
Perjalanan dimulai dari Nongkojajar, sebuah kawasan sejuk yang jadi pintu masuk menuju Bromo lewat jalur Pasuruan. Jalanan berliku, diapit kebun apel, ladang sayur, dan hutan pinus.
Tak hanya itu, kami juga disambut pemandangan tak biasa. Di pinggir jalan, berjajar truk-truk sound horeg, truk dengan tumpukan sound system yang besar, dihias lampu warna-warni, seakan siap berpesta. Suaranya belum bergemuruh, tapi imajinasiku sudah membayangkan dentuman bass yang bisa menggetarkan dada.
Tiba di Bukit Premium, atau sebutan aslinya Bukit Keciri, juga dikenal dengan nama Sabana Guntur Loreng, kami disambut deretan motor ojek. Para abang menawarkan jasa antar naik. “Naik ojek aja, Mbak. Cepat sampai, nggak capek.”
Harga ojeknya sekitar 50.000 PP, cukup ramah di kantong. Tapi kami menggeleng. Aku ingin merasakan setiap langkah, setiap tanjakan. Kami memilih jalan kaki. Entah itu keputusan berani atau nekat, biarlah waktu yang menjawab.
Untuk masuk ke kawasan ini, kami membayar parkir sekitar Rp20.000 untuk mobil dan Rp 5.000 untuk tiap orang. Betewe untuk motor, parkirnya Rp 10.000
Langkah Pertama
Langkah pertama di jalan tanah menanjak sudah membuat napas tersengal. Tanah berbatu kecil, rumput di sisi jalan, dan pohon-pohon yang seakan menatapku sambil tersenyum jahil. Agar tidak terlalu capek, saya mengambil dokumentasi sepanjang perjalanan. Percayalah dokumentasi tuh membuat kita tersenyum meski napas tersengal.
Sesekali ojek lewat, membawa penumpang yang melambai ke arahku. Aku balas dengan senyum kikuk, sambil menenangkan diri: “Santai, perjalanan ini untuk cerita, bukan untuk lomba cepat-cepat sampai.”
Bukit Premium 1: Hadiah Pertama
Akhirnya, kami sampai di Bukit Premium 1. Pemandangan terbuka perlahan: bukit-bukit hijau seperti ombak membeku, awan tipis berarak pelan di langit biru.
Aku duduk sebentar, mengambil air mineral. Air mineral yang tadinya biasa saja, mendadak jadi minuman terenak di dunia. Setelah itu kami ambil foto dan video beberapa kali. Bener-bener keren nih viewnya…
Di titik ini aku mulai merasa, “Wah, pantesan banyak yang suka Bukit Premium. Baru di spot pertama aja udah bikin hati plong.
”Di sini aku sadar, setiap langkah yang berat membawa hadiah. Setiap peluh yang jatuh membuka pemandangan baru.









Bukit Premium 2: Angin yang Menyapa
Perjalanan berlanjut ke Bukit Premium 2. Katanya, view di sini lebih kece lagi. Jalurnya? Masih landau, tidak terlalu menanjak. Kali ini aku sudah lebih terbiasa. Nafas memang tetap ngos-ngosan, tapi aku mulai bisa menikmatinya.
Dan benar saja, sesampainya di Bukit Premium 2, angin berhembus kencang. Pemandangannya lebih luas, lebih dramatis. Dari sini, gunung-gunung di kejauhan tampak berlapis-lapis, seolah langit sedang melukis dengan gradasi hijau dan biru.
Aku berdiri lama, untuk meresapi rasa kecil di hadapan alam yang agung. pemandangannya semakin menakjubkan. Diam, menatap luasnya alam. Ada rasa syukur yang besar.









Sabana: Padang Hijau
Dan tibalah aku di tujuan paling dinanti: Sabana Bukit Keciri. Jalurnya mulai landai, lebih bersahabat. Hamparan hijau perlahan terbuka seperti karpet luas yang digelar langit. Begitu sampai, aku benar-benar terpana.
Sabana di Bukit Premium ini luas, hijau, dan sejuk. Anginnya berhembus lembut, membuat rumput bergoyang pelan seperti ombak. Langit biru cerah jadi latar yang sempurna. Rasanya semua capek, pegal, dan ngos-ngosan tadi hilang seketika.
Suara alam begitu hening, hanya angin dan langkah-langkah kecil pengunjung yang terdengar. Rasanya seperti memasuki dunia lain, dunia yang sederhana tapi penuh keindahan.
Aku duduk di atas rumput, menatap sekitar, sambil berkata ke diri sendiri, “Worth it banget.” Di sini aku paham kenapa orang menyebutnya Bukit Premium—bukan karena tiketnya mahal, tapi karena kualitas pengalaman yang begitu “mahal.”
Bahkan aku merasa, perjalanan jalan kaki tadi justru bikin momen ini lebih bermakna. Kalau tadi naik ojek, mungkin aku hanya akan fokus ke hasil, tanpa benar-benar meresapi prosesnya.








Momen Refleksi: Tentang Perjalanan, Bukan Sekadar Tujuan
Di sabana, aku jadi mikir. Hidup kadang mirip perjalanan ke Bukit Premium ini. Kita bisa memilih jalan cepat, praktis, tapi mungkin ada cerita yang terlewat. Atau kita pilih jalan yang lebih susah, lebih lama, tapi di sepanjang jalan kita belajar banyak hal.
Aku belajar sabar, belajar menikmati setiap langkah, bahkan belajar tertawa di tengah lelah. Dan yang terpenting, aku merasa lebih “nyambung” dengan alam. Bukit, angin, dan sabana seakan mengajarkan untuk pelan-pelan, menikmati, dan mensyukuri setiap hal kecil.
Pulang: Jalan Ditutup, Cerita Bertambah
Setelah puas menikmati sabana, aku akhirnya harus turun. Total perjalanan sekitar 12.000 langkah. Alhamdulillah melebihi target harian. Perjalanan pulang tentu lebih mudah karena jalannya menurun, tapi tetap saja lutut dan kaki lumayan protes. Namun kali ini aku sudah nggak peduli. Hati terlalu bahagia, dan pikiranku masih penuh dengan pemandangan cantik tadi.
Sesampainya di bawah, aku menengok sebentar ke arah atas. Aku senyum sendiri. “Aku berhasil jalan kaki sampai atas,” batinku bangga. Bukan sekadar sampai, tapi juga membawa pulang banyak cerita
Entah mengapa, perjalanan pulang rasanya lebih cepat dan lebih ringan. Alhamdulillah kami berhasil PP jalan kaki alias tanpa naik ojek. Sampai ke parkiran, kami pulang melewati Nongkojajar lagi.
Namun, ternyata kami harus berhadapan dengan kejutan: banyak jalan ditutup. Rupanya ada acara lokal, mungkin berkaitan dengan truk-truk sound horeg yang kulihat tadi pagi. Resiko kalau travelling di Bulan Agustus. Wkkwkw..
Kami terpaksa muter lewat jalur lain, lebih panjang, lebih berliku. Awalnya kesal, tapi lama-lama aku tertawa sendiri. “Ya sudah, toh semakin lama di jalan, semakin panjang ceritanya,” batinku. Kadang perjalanan memang suka bercanda dengan kita, memberi kejutan di luar rencana.
Jadiii.. yang awalnya kami mau lewat Nongkojajar, jadinya lewat Pakis dan Sawojajar. Langsung masuk tol menuju Surabaya. Bener-bener di luar skenario. Alhamdulillah perjalanan melewati Pakis aman tidak ada jalan ditutup.
Keunikan alam Bukit Premium:
- Hamparan sabana luas yang hijau segar, mirip seperti Bukit Wairinding di Sumba
- Lanskapnya menghadirkan perbukitan berundak yang dramatis, dengan kabut tipis di pagi hari dan pemandangan Gunung Bromo, Semeru, hingga Arjuno dari kejauhan
- Cocok banget untuk foto-foto estetik, berburu sunrise atau sunset, piknik ringan, atau bahkan camping ground sederhana
- Tiket masuk dan parkir murah meriah buat scenery “premium”.
- Trekking ramah untuk pemula dan anak-anak, cukup landai dan pemandangannya “film alam” beneran
- Banyak spot instagramable
Tips Perjalanan Premium
Buat teman-teman yang ingin merasakan perjalanan ke Bukit Premium ala jalan kaki, ada beberapa hal kecil yang bisa jadi bekal:
1. Bawa air minum cukup
Percayalah, air mineral bisa jadi lebih nikmat daripada minuman manis apapun setelah tanjakan panjang.
2. Pakai masker
Selama perjalanan ada bagian yang penuh debu.
3. Kenakan sepatu atau sandal gunung
Jalan tanah dan bebatuan licin kalau habis hujan.
4. Siapkan jaket tebal
Udara di atas dingin, terutama pagi atau sore.
5. Bawa snack ringan.
Energi ekstra akan sangat berguna.
6. Datang pagi atau sore.
Sunrise dan sunset di sini katanya luar biasa.
7. Tanya warga soal kondisi jalan.
Siapa tahu ada penutupan jalur, jadi bisa siap dengan alternatif.
Perjalanan kali ini mengajarkanku banyak hal. Bahwa premium itu bukan soal uang, tapi soal pengalaman. Premium adalah ketika kita tertawa di tengah capek, ketika kita menemukan keindahan di balik peluh, ketika kita menerima kejutan jalan yang ditutup tanpa mengeluh.
Bukit Keciri, sang Sabana Guntur Loreng, mungkin hanya sebuah bukit di Pasuruan. Tapi bagiku, ia adalah guru kecil yang mengingatkan: nikmatilah proses, jangan buru-buru. Karena kadang, justru langkah-langkah paling beratlah yang membuat kita merasa paling hidup.
Dan saat aku menoleh sekali lagi ke atas bukit sebelum pulang, aku tersenyum. Perjalanan ini bukan hanya tentang sampai, tapi tentang bagaimana aku melewati semua, dengan kaki yang pegal, hati yang penuh, dan cerita yang kini abadi dalam ingatan.

2 Comments. Leave new
Baguss bgttt. Cocok buat referensi healing ✨
Met healing yaaaak…😁💫💫