Pengalaman Sakit LPR (Laryngopharyngeal Reflux) - Rumah Cinta Zie

Pengalaman Sakit LPR (Laryngopharyngeal Reflux)


Pengalaman Sakit LPR (Laryngopharyngeal Reflux)

Beberapa bulan lalu saya sakit batuk. Karena biasa batuk, ya saya anggap ini normal, saya tidak terlalu memperhatikan, karena teman sekantor juga banyak yang batuk. Dan seperti biasa, saya mengonsumsi obat tradisonal semacam mengunyah kencur dan daun sirih, minum jeruk hangat dengan madu, habbats sauda, zaitun, jinten hitam, beli vitamin C, makan enak dan perbaikan gizi, minum wedang uwuh, wedang serai plus jeruk nipis plus kayu manis plus rempah lain. Serta berbagai usaha lain seperti ke pijat, bekam, dan dokter. Satu bulan tidak sembuh. Padahal udah banyak usaha. mulai dari tradisional hingga dokter. Tiap masukan teman saya ikuti. Hingga ke dokter 3 kali belum juga sembuh. Malah merambah ke suara yang hilang.
Saya sakit apa ini? Pertanyaan mulai muncul.
Alhamdulillahnya saat itu aktivitas pembelajaran banyak libur. Mulai libur tanggal merah, anak kelas 6 ujian, libur awal puasa, hingga libur puasa. Saya sangat  bersyukur satu tahun ini jarang sakit. Untuk profesi guru kelas, dengan satu guru di satu kelas, suara adalah senjata saat mengajar. Alhamdulillah saya sakit di saat banyak libur dan saat ada guru baru yang percobaan di kelas saya. Alhamdulillah Allah merencanakan demikian indah.
Pernah saat suara hilang dan saya masuk kelas, akhirnya saya buat game di kelas. Game nya adalah berkomunikasi dengan tulisan. Jadi obrolan, tanya jawab, dan pemeblajaran melalui tulisan. Alhamdulillah anak-anak bisa mengikuti, kelas jadi hening, dan saya tidak banyak bicara. Ingatan saya kembali ke tahun 2010, saya pernah melakukan hal serupa saat suara saya hilang. Pengalaman ini sayya tulis disini.
Oke kembali ke sakit batuk.
Karena enam minggu sakit tidak sembuh, malah parah dan suara hilang. Saya coba konsultasi ke teman dokter yang resign dari dokter menjadi blogger. Kata si Mbak, saya harus ke THT. Karena dengan obat yang saya foto, harusnya saya sudah sembuh. Ini satu bulan lebih belum sembuh.
Saya coba ingat-ingat, dokter semacam kenal dengan dokter THT, tapi siapa ya. Alhamdulillah ingatan saya terhenti pada wali murid yang dokter THT, Pak dokter Ahmad Dian. Saya WA istri beliau untuk tanya jadwal.
dr. Ahmad Dian praktik di RS Unisma, RS Persada, dan RSSA. Jadwal beliau yang sore di UNISMA, malam di Persada. Karena pagi sekolah jadi 2 pilihan ini yang menjadi pertimbangan saya.
Di hari yang disepakati, saya berobat. Bismillah..
Saat diperiksa, saya kesulitan membuka mulut. Rasanya sakit, bicara saja tidak bisa apalagi buka mulut lebar-lebar. Jadi alat yang masuk tidak maksimal, hanya kelihatan luka di tenggorokan yang dekat lidah.
Pengalaman Sakit LPR (Laryngopharyngeal Reflux)
foto ini adalah foto di kontrol kedua. saat sudah bisa buka mulut. Sedih banget lihatnya.

Kata beliau saya menderita LPR
(Laryngopharyngeal Reflux). Deg.. sakit apa ini. Kuatir.
Sepertinya dokter Dian paham kalau saya takut. Beliau langsung menyampaikan kalau ini tak apa. Bisa sembuh.
Beliau menjelaskan, batuk ini disebabkan oleh asam lambung yang naik hingga mengganggu pita suara. Saya lupa lengkapnya, lupa kenapa nggak saya rekam.
Saya sampaikan kalau tidak punya magh. Tidak pernah telat makan juga.
Lha, ternyata kesalahan saya malah karena kebanyakan makan hahahha. Trus habis makan tidur. Tidak nunggu 2 jam.
Jadi ingat beberapa  hari belakangan memang saya sering kuliner sampai malam. Sehari bisa 3 jenis makanan. Sampai kos capek trus tidur. Lambung.. maafkan aku.
Selain itu saya tidak pernah pakai bantal. Nempel Kasur gitu aja udah nyenyak. Lha ini salah juga. Saat kekenyangan, trus kita tidur tanpa bantal. Posisi perut sejajar bahkan kadang lebih tinggi dari kepala. Si asam lambung jalan-jalan ke faring dan laring.
Asam lambung dikenal keras lain bahkan bisa merusak organ lain. Dalam kasus saya sampai membuat tenggorokan luka dan pita suara bermasalah.
“Coba minum ini selama satu minggu, kalau belum ada peningkatan, Senin pagi ke RSSA, cek pakai alat yang lebih canggih. “ ujar beliau. dag dig dug lagi.
dr Dian juga mengirimin list makanan untuk diet LPR. Banyak makanan kesukaan saya yang masuk list. Ujian buat saya yang suka makan tapi pingin kurus. Trus makanan yang disukai nggak boleh dikonsumsi. hehehe
Saat itu Ramadhan, dengan kata lain pas banyak-banyaknya job kluar masuk resto dan hotel. Dan saya hanya bisa mupeng liat teman-teman liputan. Bismillah fokus sembuh, tidak makan menu yang aneh-aneh hehe.
Makanan, saya memilih yang halus-halus semacam lontong, bubur, dan jenang. Kadang masak sendiri agar bisa memenuhi syarat diet LPR. Alhamdulillah saat itu dapat Magic com dan mixer dari Cosmos. Jadi bisa nyoba resep roti. Allahu Akbar rezeki nggak kemana dan sesuai dengan yang saya butuhkan.

Sekali lagi saya bersyukur saat sakit waktu puasa dan libur. Makan lebih teratur di jam yang sama tiap hari nya. Dokter pun tidak menyarankan libur puasa. Malah puasa terus. Obat diminum sehari dua kali. Sebelum makan dan sesudah makan. Alhamdulillah.
Setelah tahu nama penyakit dan cara menyembuhkan, saya lebih banyak di kos dan rumah. Mengatur menu makanan agar tidak melanggar diet. Padahal sebelumnya, saat suara hilang saya sempat liputan keluar kota, ikut workshop, liputan kuliner, review hotel, dan aneka kegiatan lain. Maklum saat itu belum tahu kalau sakit LPR. Dipikir sakit batuk biasa, jadi show must go on.   
Selama sakit saya coba cari tahu LPR itu apa, dan betapa kagetnya saya ketika LPR itu saudara dekat GERD huhuhu. Akhir-akhir ini saya sering dengar orang meninggal gegara GERD. Ya Allah saya belum siap meninggal. Dosa saya banyak. Amanah ada yang belum diselesaikan pula. Sedih saya.
Jadi apa sih bedanya LPR dan GERD? LPR ini biasanya kalau bertamasya suka yang jauh-jauh, sampai ke faring dan laring, bahkan juga hingga ke bagian belakang hidung. Sedangkan GERD biasanya cuma sampai ke esofagus (kerongkongan). Iihh kenapa sebelas dua belas ma diri sendiri yang suka jalan jauh hehhe.
Trus mengapa LPR bisa terjadi?
Dari baca-baca, ini dikarenakan sfingter (otot cincin) bagian atas, yang memisahkan esofagus dengan laring, melemah sehingga asam lambung bisa dengan mudah melalui otot pemisah tersebut. Pada esofagus terdapat dua sfingter, yaitu LES (Lower Esophageal Sphincter) dan UES (Upper Esophageal Sphincter). Pada penderita GERD otot cincin yang lemah biasanya yang bagian bawah saja atau otot LES. Tetapi pada penderita LPR kedua otot itu bisa jadi lemah.
Gejalanya bagaimana?
1.     Tenggorokan gatal
Serasa ada sesuatu dalam tenggorokan. Semacam ada daging atau benjolan yang bikin kita sering mengeluarkan ludah
2.    Lendir yang terlalu banyak dalam tenggorokan
Tiap sekian detik sekali saya harus kluar untuk meludah. Karena ada banyak lendir di tenggorokan. Jadi nerangin sekian kata, trus lari ke kamar mandi buat meludah. Kadang di tanah meludahnya.
3.    Suara serak bahkan sampai habis
4.    Batuk kronis
Batuknya panjaaaang dan ganggu orang tidur hehe. Saya sering batuk sampai muntah. Bahkan makanan yang udah masuk perut kluar semua. Karena itulah saya selalu memberi jarak antara makan dengan kamar mandi dan sikat gigi. Kalau habis makan langsung ke kamar mandi, bisa huek huek kluar semua tuh makanan. Apalagi kalau lansung sikat gigi, puasa bakal lemas karena makanan keluar.
5.    Kalau tertawa rasanya sakit.
Allah saya langsung ingat kalau hidup saya bahagia #tsaaah…  sering hepi. Lha sekarang diuji kalau ketawa karena senang atau lucu langsung sakit. Heheh
Jadi saya menghindari nonton film lucu dan menahan rasa gembira agar tidak sampai senyum lebar heheh.  
Pengalaman Sakit LPR (Laryngopharyngeal Reflux)
WA dari dr. Ahmad Dian

Alhamdulillah saya cocok dengan obat yang diberikan dr. Ahmad Dian. Seminggu kemudian, saya bisa membuka mulut untuk dimasuki alat lagi untuk mengecek tenggorokan. Saat lihat monitor, betapa kagetnya saya. Tenggorokan banyak benkolan merah hingga kecoklatan. Semacam luka bakar. Hhuhuhu.. merasa bersalah udah bikin si tenggorokan luka. Sampai tak bisa bersuara.
Ramadhan, identic dengan I’tikaf. Sejak hari kesepuluh Ramadhan saya sampaikan ke teman I’tikaf kalau saya pingin gabung. Tapi mereka melarang, ya teman-teman saya ini tahu bagaimana kalau saya batuk dan muntah. Mungkin tidak tega. Apalagi kalau nanti malah di masjid saya ganggu yang lain. Hanya saja keinginan I’tikaf itu demikian kuat. Tiap tahun rutin I’tikaf, sedang tahun ini absent uh rasanya ada yang kurang.
Karena inlah saya berusaha cepat sembuh. Periksa ketiga saya ke Persada. Alatnya lebih jernih, foto tenggorokan lebih bersih. Ehm.. mungkin ini karena saya udah bisa buka mulut lebar-lebar jadi si alat bisa masuk dengan leluasa.

Alhamdulillah bersyukur sekali luka membaik, jarang meludah, bisa ngomong meski belum banyak kalimat yang keluar. Hepi banget, alhamdulillah terimakasih Allah. Terimakasih Pak Dokter.
Hari-hari berikutnya suara saya mulai keluar. Seperti anak kecil yang baru bisa bicara, saya semangat sekali bicara. Nerangin ke murid-murid sudah bisa. alhamdulillah.
Namun apa yang terjadi? suara saya mengecil lagi. Lha kok? Padahal sebelumnya grafik sembuh saya membaik. Sekarang kok menurun.
Saya Wa Pak dokter, kata beliau belum boleh banyak omong dulu. Masih proses pemulihan. Hehehe.. baiklah saya puasa bicara lagi.
I’tikaf.. alhamdulillah karena sudah jarang batuk, saya memberanikan diri untuk I’tikaf di Masjid Abu Bakar. Tempat I’tikaf sejak tahun 2011-2012. Nggak berubah. Udah cocok di sana.
Biasanya saya kalau I’tikaf nggak bawa peralatan tempur selimut atau bantal seperti beberapa teman lain. Cukup jaket, mukena, dan Al-Qur’an. Sampai teman-teman heran. Bisa ya tidur nggak pake selimut atau bantal. Nyenyak pula hehehe. Padahal daerah sana dingin. Daerah Puncak Dieng. Brrrbrbrbr… alhamdulillah Allah memberi saya kemampuan cepat tidur. Pelor istilahnya, nempel molor halalala.. pernah saat kemah. Duingiiiin… guru lain tidak bisa tidur saking dinginnya, tapi saya udah nyenyak terbang kemana-mana. Bahkan saat jadi pemimpin regu pramuka, saya tidur saat apel tengah malam. Tidur sambil berdiri wkwkkww.
Balik ke cerita I’tikaf. I’tikaf kali ini beda. Saya nggak boleh terlalu dingin biar batuk tidak mendera dan harus bawa bantal agar asam lambung tidak naik. So, bawaannya saya ransel plus tas buat bantal. Teman-teman tertawa. Tumben bawa perlengkapan. Ya mau gimana lagi buat kesehatan hahahaha.
Karena sakit ini pula, yang biasanya tidur di kasur tipis di lantai. Sekarang beli Kasur lipat yang tinggi dan ada roda nya. Jadi mudah dibawa kemana-mana. Alhamdulillah dari hari ke hari kesehatan mulai membaik. Alhamdulillah.
Terimakasih Allah, untuk satu tahun yang jarang sakit. Terimakasih  sudah memberi sakit ini. Pengalaman dan pengetahun baru buat saya.

 Berikut beberapa menu yang saya makan selama LPR








2 comments:

Senang sekali jika teman-teman berbagi komentar di lapak saya :)

Powered by Blogger.