FLP: Penggenggam Semangat yang Tak Berujung - Rumah Cinta Zie

FLP: Penggenggam Semangat yang Tak Berujung



Berawal dari hobi membaca dan koleksi buku, saya mulai suka menulis. Hingga… di awal tahun kuliah, tepatnya tahun 2005 awal saya bertemu FLP di sebuah seminar dengan pemateri Bang Iyus dan Mbak Dian dari Majalah Annida. Sepulang seminar Allah mempertemukan saya dengan Pak Dadang (Ketua FLP Malang saat itu) dan Mbak Novi Istina. Beberapa hari kemudian, saya dilamar Mbak Novi untuk menjadi sekretaris FLP Universitas Negeri Malang (UM) bersama Mbak Novi sebagai ketua pertama. Setelah Ranting UM, lanjut di Cabang Malang, Jatim, dan sekarang di Blogger FLP. Baru nyadar ternyata sudah 10 tahun lebih saya di organisasi satu ini.
Then.. apa sih yang membuat saya betah di FLP?
Karena FLP adalah Penggenggam Semangat yang Tak Berujung.
Iyess… mulai dari rasa satu frekuensi dengan anggota-anggotanya hingga kami menjadi saudara sampai sekarang.
Saya garis bawahi… satu frekuensi. Untuk jaman digital, mencari teman yang suka menulis dan membaca itu seperti mencari tumpukan jarusm dalam jerami. Alhamdulillah di FLP saya menemukan teman-teman yang nyambung kalau bicara buku. Kami sering janjian buat beli buku bareng, bedah buku, nonton, hingga bedah film.
Tak hanya itu, tak jarang kami juga sering main bareng. Bukankah pribadi seseorang akan terlihat ketika travelling bareng? Dan alhamdulillah di FLP, kami seakan melengkapi. Banyak kelemahan saya yang tertutupi oleh teman-teman di FLP.



Karena FLP Terus Mendengungkan Kata Ikhlas
Jaman sekarang ikut organisasi tertentu tanpa mengharap sesuatu? Ehm.. bisa dihitung tangan kali ya?
Alhamdulillah selama di FLP, saat mengadakan acara tak pernah saya menemukan ada keinginan untuk mencari untung. Malah sebaliknya, tak jarang kami yang mengeluarkan dana.
Kok mau? Ya, karena kami ingin menyebar virus membaca menulis dengan murah dan berkualitas. Bahkan beberapa kali mendapat testimoni dari peserta kalau pelatihan yang kami adakan terlalu murah jika dibandingkan dengan pelajaran yang di dapat.

 Karena di FLP Saya Menemukan Penyeimbang dalam Hidup
Di FLP saya menemukan keseimbangan kehidupan kerja dan produktivitas. Keseimbangan mencari materi dunia dan ilmu untuk bekal nanti di akhirat.
Sebagai perempuan yang bekerja, saya membutuhkan penyeimbang ini. Penyeimbang dimana kesibukan saya tidak terus untuk kerja, namun juga kegiatan sosial. Di FLP inilah kegiatan itu saya temukan.
Selain itu juga keseimbangan berbagi resah dan bahagia. Tempat asyik buat curhat, apapun itu tanpa baper dan mewek. Dan pastinya untuk mencari solusi permasalahan.

Karena FLP Membantu Mimpi Saya Terwujud
Selain menemukan passion dan keluarga yang hangat. FLP Membantu mewujudkan mimpi menjadi penulis dan blogger FLP. Di sini saya memiliki kekuatan untuk membangun impian. Di sana ada visi. Di sana ada gambaran masa depan. Ada dorongan untuk mewujudkannya menjadi kenyataan. Kekuatan itu mengarahkan kita pada do’a dan ikhtiar.
Menjadi Blogger, mengingatkansaya pada mimpi wartawan yang belum terwujud. Alhamdulillah saat menjadi blogger, saya bisa menjadi wartawan yang “aman”. Maksudnya?
Kalau wartawan deadline nulis singkat, menjadi blogger deadline nya satu minggu.
Kalau wartawan harus siap meliput kasus kejahatan, menjadi blogger meliput event, mereview tempat wisata, dan tempat makan, review produk, serta berbagai kegiatan lain yang “aman”.
          Menjadi wartawan harus bisa motoran, menjadi blogger bisa naik ojol.
Menjadi wartawan nulis dibatasi jumlah kata, menjadi blogger bebaaas.. bahkan bisa pasang foto sebanyak-banyaknya dan video juga.
Bukan membandingkan, namun dengan ini saya belajar berdamai tentang mimpi yang belum terjwujud, dan melalui Blogger FLP alhamdulillah Allah membantu mewujudkan.


FLP: Mempertemukan Saya dengan Teman-Teman “Tanpa Syarat”
Beberapa kali saya menemukan teman yang datang hanya ketika butuh. Tidak semua, tapi dalam hidup pasti kita menemukan yang semacam ini.
Hal ini mengingatkan saya pada sahabat Ali bin Abi Thalib ketika ditanya arti sahabat, “Ya Ali, kulihat sahabat-sahabatmu begitu setia sehingga mereka banyak sekali, berapakah sahabatmu itu?”
Ali menjawab, “Nanti akan kuhitung setelah aku tertimpa musibah”
Saya menemukan teman-teman yang menemani ketika tertimpa musibah di FLP. Teman yang menerima apa adanya saya, tanpa memandang status, saling mendukung untuk terus berprestasi, dan banyak hal yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
Hingga sekarang, meski FLP tersebar di wilayah Indonesia sampai luar negeri, meski jarang bertemu hingga belum pernah bertemu sama sekali, meski belum kenal, namun jika tahu kami berada di bawah bendera FLP, hati kami akan saling tertaut, otomatis. Meski raga tidak mempertemukan. Kecintaan inilah yang menyatukan kami.




*Tulisan ini dibuat dalam rangka lomba blog dari Blogger FLP pada rangkaian Milad FLP 22


No comments

Senang sekali jika teman-teman berbagi komentar di lapak saya :)

Powered by Blogger.