Biografi Badiuzzaman Said Nursi: Transformasi Dinasti Usmani Menjadi Republik Turki

Biografi Badiuzzaman Said Nursi: Transformasi Dinasti Usmani Menjadi Republik Turki

Penulis                : Sukran Vahide
Berat                  : 0.40 kg
Tahun                 : 2013
Halaman             : 528
Ukuran               : 15 x 23 cm
ISBN                  : 9786021779903
Penerbit              : Anatolia Prenada Media Group

Baiduzzaman Said Nursi adalah salah satu pemikir Islam paling cemerlang di zaman modern, sosok yang konsiten memperjuangkan gagasan dan tetap menjadikan Islam sebagai agama yang dinamis di dunia modern. 
Beliau cerdas sekali, buku-buku yang beliau baca langsung menempel  d di ingatan dengan baik. Ratusan kitab. Sampai halaman dan baris ke berapa beliau hapal dan paham. Inirbukti dari gelar yang diberikan untuk beliau: Baiduzzaman yang berarti keajaiban zaman.
Pertama saya mengenal nama beliau adalah saat membaca Api Tauhid milik Kang Abik. Saya langsung jatuh cinta dengan perjuangan beliau dan cara keluarga beliau mendidik mulai dari sebelum menikah.
Ketika saya mengandung Said, saya tidak pernah menginjakkan kaki di atas tanah tanpa menyucikannya dengan berwudhu. Dan ketika dia hadir ke dunia, tidak pernah sehari pun saya menyusuinya tanpa menyucikan diri dengan berwudhu. (hal 9)
 Setelah menghabiskan Api Tauhid, saya langsung mencari karya-karya tulisan beliau. Cukup lama mengumpulkan tulisan beliau, sampai saat ini masih memiliki empat buku. Semoga bisa segera menghabiskannya. Aamiin.
Beberapa yang unik dari Said Nursi adalah beliau hidup di zaman Usmani dan Turki. Ada dinamika politik, sosial, keagamaan, dan pendidikan yang mempengaruhi pemikirannya saat itu.
Beliau disegani para ulama dan ditakuti pemerintah. Beberapa kali keluar masuk penjara. Lucunya, polisi yang bertugas memenjarakan beliau adalah murid beliau. Dan polisi tersebut tidak bisa berbuat apa-apa karena perintah langsung pemerintah. Dan ketika di penjara, ada saja yang datang untuk meminta nasehat.
Yang jelas-jelas muncul di dalam biografi ini adalah konsep-konsep Nursi mengenai identitas Islam zaman modern, yakni bagaimana ilmu-ilmu Islam tradisional bisa dibangkitkan kembali untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kekuasaan dan penguasa, modernitas dan tradisi, serta bagaimana ilmu-ilmu Islam berhubungan dengan kehidupan ini dan kehidupan selanjutnya. Salah satu perhatian utama Nursi adalah bagaimana menghidupkan kembali etika Islam dalam dunia yang sangat sekuler. Dalam pengertian yang lebih dalam, Nursi yakin bahwa tidaklah mustahil bagi etos islami untuk hidup bersama-sama kehidupan kontemporer dan bahwa Muslim bisa menjalankan Islamnya tanpa bantuan penguasa politik. (hal x).
 Menyelami kehidupan Said Nursi tidak akan terlepas dari konteks keadaan negara saat ia tinggal. Terhadap kenyataan yang terjadi pada saat itu, pertemuan antara kaum muslim dengan peradaban barat, masuknya westrenisasi dan terkikisnya budaya keislaman, hingga masa akhir kejayaan dinasti Utsmani dan perubahannya menjadi Republik.
Secara garis besar terdapat tiga fase dalam kehidupan Said Nursi: fase Said lama yang dimulai sejak kelahirannya, proses pencarian ilmu, pergerakannya di bidang politik pra perang dunia pertama hingga kekalahan Utsmani dalam perang dunia pertama dan penangkapan oleh tentara Rusia kepadanya.
Di awali saat Said Lama.
Pada umur sembilan tahun, Said Nursi gemar sekali mencari ilmu, namun karena saat itu dia sangat nakal, jadi masa kecil Nursi dihabiskan dengan berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain, satu guru ke guru lainnya. Hampir di setiap sekolah ia berkelahi dengan salah seorang muridnya hingga kemudian ia dikeluarkan.
Berbeda dengan kakaknya yang terpelajar dan cemerlang. Dari sang kakak inilah Said Nursi mendapatkan semangat untuk mencari ilmu. Setelah satu tahun belajar kepada kakaknya, Said Nursi memulai pengembaraannya untuk mencari ilmu.
Ia adalah seorang anak yang cerdas, mudah baginya untuk menghafalkan dan memahami buku yang ia baca. Ia pun sering merasakan ketidakpuasan karena guru yang mengajarinya tidak lagi mengajari hal yang ia belum ketahui sehingga ia memutuskan untuk berpindah mencari guru lain. Ia juga rajin membaca, bahkan dari membaca inilah ia lebih banyak mendapatkan ilmu ketimbang dari gurunya.
Ia pernah sekolah di Madrasah Beyazid di kota Bitlis, yang dipimpin oleh Syekh Muhammad Celali saat berusia 14 tahun dan ia hanya belajar di sana selama tiga bulan. Namun masa tiga bulan di sana ia telah mampu belajar dan menguasai berbagai macam buku. Ia mampu untuk menghabiskan buku setebal lebih dari 200 halaman dalam waktu 24 jam. Menurut pengakuannya kepada kakaknya, ia telah menghabiskan 80 buku selama ia berada di sekolah itu. Iapun mampu menguasai kitab Jam`ul Jawami, Syarh al-Mawaqif, dan buku fikih karya Ibnu Hajar al-Haitsami. Dan ia mendapatkan ijazah diplomanya dari sekolah itu.
Said Nursi pernah mimpi bertemu Rasulullah Shallallahu `alaihi wa Sallam, saat itu Rasulullah berpesan kepadanya, “Pengetahuan tentang al-Quran akan diberikan kepadamu, asalkan kamu tidak mempertanyakan tentang kaumku yang manapun.” Sejak saat itu ia tidak lagi mempedulikan ataupun bertanya kepada orang lain, ia hanya fokus terhadap apa yang ia hadapi.
Di beberapa kota dan berhasil melakukan debat ilmiah dengan para ulama di kota yang ia singgahi. Reputasinya semakin meningkat. Ia mengunjungi kota Siirt dan mengalahkan para ulama di kota itu, ia kemudian pulang ke kota Bitlis dan menjadi semakin populer di sana. Hal ini membuat mereka yang kalah menyusun sebuah konspirasi untuk menjatuhkannya di hadapan umum. Akhirnya ia pergi ke kota Tillo dan menyendiri mengasingkan diri di sebuah bangunan berkubah di sana.
Setelah itu ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain, bergaul dengan pemimpin dan para cendekia. Ia pernah bertemu dengan dua orang pendatang di kota Mardin, satu pendatang adalah merupakan pengikut dari Jamaluddin al-Afghani dan satunya adalah anggota Ordo Sanusi yang memainkan peran penting melawan penjajahan kolonial di Afrika Utara. Nursi banyak berdiskusi dengan mereka berdua.
Masa remaja ia habiskan dengan membaca buku dan berdialog. Pada umur 17 tahun, ia tinggal di rumah Gubernur Bitlis yang memiliki perpustakaan dan banyak koleksi buku. Ia menghabiskan waktu untuk membaca di sana.
Dan pada umur 19 tahun ia tinggal di Rumah Gubernur Van, membaca di perpustakaan, bertemu dengan orang-orang penting dan para cendekia. Saat itu ia telah dikenal sebagai Badi`uzzaman, keajaiban zaman, karena kecerdasannya. Ia tetap di Van hingga pergi ke Istambul pada tahun 1907 saat berumur 30 tahun.
Ada perbindangan yang unik antara Said Nursi dan Pasya
Pasya: Sultan titip salam untuk Anda. Beliau telah memerintahkan untuk menggaji Anda seribu kurus. Kata beliau, saat Anda sudah kembali ke timur, beliau akan menaikkannya menjadi dua puluh hingga tiga puluh lira. Beliau juga menitipkan uang lira emas ini untuk Anda sebagai hadiah kerajaan.”
Said: Saya bukan pengemis yang mengejar gaji; saya tidak bisa menerimanya meskipun jumlahnya seribu lira. Saya tidak datang ke Istanbul untuk kepentingan saya sendiri. Saya datang demi bangsa saya. Lagi pula, sogokan yang ingin Anda berikan kepada saya adalah uang suap.
Pasya: Anda menolak titah raja. Titah kerajaan tidak boleh ditolak
Said: bahkan jika akibatnya adalah dibuang ke laut. Laut akan menjadi kuburan yang lapang. Jika saya dieksekusi, saya akan bersemayam di jantung bangsa. Dan ketika saya datang ke Instambul, saya akan mempersembahkan diri saya sebagai sogokan. Lakukan apa saja sesuka Anda. Saya katakana dengan serius kepada kawan-kawan saya sesame warga negara bahwa hubungan kita dengan pemerintah hanyakah untuk berbakti kepadanya, bukan untuk mencari gaji. Orang seperti saya berbakti kepada bangsa dan pemerintah dengan cara memberi nasehat dengan memperingatkannya dengan memberi pengaruh yang baik, tanpa mengharapkan imbalan apapun, tanpa berprasangka, tanpa motif-motif tersembunyi dan dengan menyampingkan segala kepentingan pribadi. Kosekuensinya, saya dibebaskan karena tidak menerima gaji.
dst (hal 69).
 Tujuan beliau murni untuk kebaikan negara. Namun sepertinya ada beberapa hal yang tidak sejalan dengan pemerintah. Berulang kali beliau dipenjara dan diisolasi. Hingga ada upaya pemusnahan Islam oleh Mustafa Kemal (Turki) pada masa Said Baru.
Dengan huruf yang dibuat dalam versi Turki, langkah logis berikutnya adalah membuat Islam versi Turki. Huruf Arab dimusnahkan. Kemudian Bahasa Arab sendiri diganti dengan Bahasa Turki. Mempertahankan Bahasa Arab dianggap tidak sesuai dengan prinsip nasionalisme, salah satu dari enam prinsip Kemalisme (keenam ajaran Kemalisme adalah sekulerisme, nasionalisme, republikan-isme, etatisme, popularisme, dan revolusionisme). Maka setelah Januari 1932 kata-kata Bahasa Arab yang sangat indah untuk azan, tanda, dan symbol Islam yang sangat besar pun dilarang dan diganti dengan versi Turki. Azan versi Turki ini, menurut seorang sejarawan “menyebabkan kebencian yang lebih tersebar luas daripada tindakan-tindakan penganut paham sekuler lainnya, tetap dipakai sampai pemerintahan Demokrat mencabutnya melalui Undang-Undang pada bulan Juni 1950, sebagai salah satu pekerjaan legislasi pertamanya.
Tindakan lainnya adalah yang disebut pemurnian Bahasa Turki dengan menghapuskan kata-kata serapan dari Bahasa Arab dan Persia dan pengenalan atau penciptaan kata-kata Turki. Pada 1934 diperkenalkan nama keluarga. Pada 1935 hari libur diubah dari hari Jumat menjadi hari Minggu, memotong salah satu mata rantai terakhir dunia Islam. (hal 281).
Dari semua pendukung paham Islam era sebelumnya, Nursi menonjol sebagai sosok yang unik dalam mengusung debat sengit antara penganut paham Barat dan Islam ke dalam era Republik, dan menyajikan perkara Islam dan Al-Qur’am dalam cara yang akan diterima secara antusias oleh orang banyak.
Namun, 25 Maret 1925 Said Nursi diasingkan di Kota Burdur. Di sana ia menjalankan hukuman pengasingan dengan menulis dan mengajar. Banyak orang berdatangan untuk mendengarkan pengajaran dia. Hal itu membuat pemerintah memindahkan Nursi ke Isparta pada bulan Januari 1926 saat usia beliau 49 tahum. .
Setelah berada di Isparta selama 20 hari, Nursi pun kemudian diasingkan ke sebuah desa yang terpencil di Barla. Di sana ia menetap hingga tahun 1934.
Said Nursi menghabiskan waktunya dalam kesendirian, hanya beberapa orang yang datang mengunjunginya dalam satu minggu. Waktu itu ia habiskan untuk menulis dan menyebarkan tulisannya. Tekanan pemerintah terhadapnya sangat ketat hingga tulisan-tulisannya disebarkan secara sembunyi-sembunyi dari satu tangan ke tangan lain, satu desa ke desa lain, setiap masyarakat yang telah membacanya kemudian menyalinnya dan menyebarkannya kembali secara sembunyi-sembunyi. Seperti inilah penyebaran Risalah Nur selama pengasingan dan tekanan pemerintah terhadapnya dan para muridnya.
Pada Juli 1934 Nursi dipindahkan kembali ke Isparta, di sini ia mengalami hidup yang lebih baik ketimbang sebelumnya. Di Isparta, Nursi menetap selama satu tahun hingga akhirnya ia ditangkap bersama para muridnya pada bulan April 1935.
Penyebaran Risalah Nur semakin meresahkan pemerintah. Penangkapan demi penangkapan terus terjadi kepada para muridnya. Penggeledahan dan penangkapan secara besar-besaran terjadi sejak April 1935 di seluruh penjuru Turki. Siapapun yang kedapatan menyimpan salinan Risalah Nur akan ditangkap dan dipenjarakan. Banyak yang tertangkap, banyak juga yang menyembunyikan salinan-salinan tersebut di tempat yang sekiranya tidak terjangkau.
Said Nursi dimasukkan ke penjara Eskisehir yang keadaannya dan perlakuan kepadanya sangat buruk. Namun ia tidak berhenti untuk menulis dan menyebarkan tulisannya meski berada dalam keadaan yang menyedihkan. Di penjara pun ia menjadi pemimpin agama yang memimpin keagamaan para tahanan, memberi mereka pengajaran agama dan mengimami salat.
Di dalam pengadilan ia pun dituntu dengan tuduhan yang bermacam-macam, dari menggunakan sentimen agama sebagai alat untuk meraih jabatan politis hingga tuduhan mendirikan sekte baru. akhirnya pada 19 Agustus 1935 ia dijatuhi hukuman satu tahun penjara dan pengasingan.
Pada Maret 1936 ia dibebaskan dari penjara Eskisehir, dan diasingkan ke Kastamonu dan menetap di sana selama tujuh setengah tahun sampai September 1943 (66 th). Selama masa itu berbagai macam tekanan dan percobaan pembunuhan dilakukan kepadanya. Ia beberapa kali diracun oleh orang-orang suruhan namun masih bisa bertahan hidup. Ia pun terus menyelesaikan penulisan dan penyebaran Risalah Nur yang kembali menjadikannya ditangkap dan dipenjarakan pada September 1943.
September 1943 ia ditangkap dan dibawa ke Ankara, kemudian dipenjarakan di Denizili. Ia terus berada di penjara dan pengasingan hingga akhirnya ia keluar dari penjara Afyon pada September 1949.
Saat membaca bagian ini saya teringat akan negara Indonesia yang saat ini juga mulai menjauhkan masyarakat dengan ulama. Ada saja finah untuk ulama yang diluncurkan. Harusnya belajar dari sejarah 1965 dan Kemal Pasha pemerintah bisa lebih berhati-hati dalam membuat kebijakan dan keputusan. Meski pastinya akan sulit karena ada banyak kepentingan terhadap negara ini.
Lanjut ke Said ketiga, sepuluh tahun terakhir dalam kehidupan Said Nursi yang sekaligus merupakan tahap terakhir daritiga tahap kehidupan Nursi. Said Nursi sendiri yang mengistilahkannya tahap Said Ketiga.
Pada tanggal 20 September 1949, Said Nursi dibebaskan dari Penjara Afyon. Beliau melanjutkan ke Isparta dan Instambul, Nursi menulis sejumlah surat yang selanjutnya dia kumpulkan di dalam sebuah buklet dan diterbitkan dengan judul Nur Alemin Bir Anahtari (Kunci Memasuki Dunia Risalah Nur). Saat ini Nursi memiliki kebebasan dan tidak lagi mengalami penindasan yang parah seperti saat sebelumnya. Nursi pun kembali menjalankan tugas politiknya sebagai ulama penasehat pemerintah.
Pada 15 Januari 1951 Said Nursi mendapat kunjungan dari Deputi Menteri Pendidikan Pakistan, Seyyid Ali Akbar Shah yang sedang melakukan kunjungan resmi ke Turki. Dia mengundang Said Nursi ke Pakistan dan menawarkan akses ke semua media massa, tetapi Nursi menolak. Ia mengatakan kalau “medan perangnya” adalah Turki. Karena penyakit mendasar yang menjangkiti umat manusiaitu berasal dari sana (hal 456).
Pada tahun 1953 ia pergi ke Istambul untuk menghadiri persidangan atas tuntutan terhadap salah satu tulisan Risalah Nur tentang Panduan Bagi Generasi Muda yang dicetak sebanyak 2.000 eksemplar di Istambul. Dan pada bulan Maret 1952 ia dinyatakan tidak bersalah. Kemudian diputuskan pada sebuah sidang di bulan Juni 1956 bahwa Risalah Nur tidak berbahaya bagi perpolitikan negara dan murni hanya berisi tentang nafas-nafas keislaman.
Kehidupan setelah tahun 1952 penyebaran Risalah Nur semakin meningkat dengan terbebasnya Risalah Nur dari tuntutan dan diterbitkannya edisi-edisi Risalah Nur menggunakan mesin cetak. Jaringan murid Risalah Nur pun semakin berkembang dan terus bekerja untuk penyebaran dan penerjemahan Risalah Nur. Namun meski begitu, musuh-musuh Said Nursi terus melakukan tuntutan dengan berbagai cara untuk menahan Nursi dan penyebaran Risalah Nur.
Semakin tua semakin memburuk pula kesehatannya, ia meninggal di kota Urfa pada Hari Rabu dini hari, 23 Maret 1960 yang bertepatan dengan 25 Ramadhan 1379. Saat berita meninggalnya tersebar, beribu-ribu orang memasuki Kota Urfa. Diputuskan bahwa jasad Nursi akan dimandikan dan dimakamkan di Dergah, dimana Nabi Ibrahim dimakamkan.
Dua bulan setelah Nursi wafat, terjadi kudeta militer terhadap pemerintahan Partai Demokrat. Kudeta ini dilakukan oleh kaum sekuler yang tidak suka dengan pemerintah saat itu. Dan pada 12 Juli 1960, kuburannya dibongkar oleh militer dan dibawa ke suatu tempat yang hingga kini tidak diketahui.
Previous
Next Post »

2 comments

Write comments
Ardiba
AUTHOR
22 May 2017 at 02:00 delete

Wah. Seru bgt ceritanya. Perjuangan Said Nursi luar biasa!

Reply
avatar
28 May 2017 at 11:52 delete

iya Mbak.. luar biasa mengispirasi...:)

Reply
avatar

Senang sekali jika teman-teman berbagi komentar di lapak saya :)

EmoticonEmoticon

Bukuku

Bukuku