Membangun Keberanian dalam Diri Muslim


Judul                           : Seberapa Berani Anda Membela Islam?
Pengarang                   : Na’im Yusuf
Penerbit                       : Maghfirah Pustaka
Cetakan                       : Cetakan I, Mei 2016
Dimensi Buku             : 145 x 210 x 13mm
Jumlah Halaman          : xiv + 274 hal
ISBN                           : 978-979-25-2643-1

“Keberanian adalah kemampuan mengelola resiko. Keberanian yang terbaik adalah memiliki daya tahan besar, berterus terang dalam kebenaran, mampu menyimpan rahasia, mengaui kesalahan, bersikap obyektif terhadap diri sendiri, dan menahan nafsu di saat marah.” (hal 144)
Membaca buku ini mengingatkan saya pada kondisi Nusantara hari ini. membuat saya flashback dan mengaitkan kisah para Rasul dan sahabat Rasul akan kondisi Islam di Nusantara dan dunia. Buku ini hadir di saat dan cara yang tepat.
Di dalam buku ini dijelaskan bahwa Islam hadir dengan cara yang baik dan damai. Namun meski begitu, Islam bukan agama yang lembek. Naím Yusuf membeberkan kepada kita tentang sosok pemberani. Ada beberapa sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh seorang muslim sejati. Yaitu sikap berani dalam membela setiap penyimpangan, penghinaan dan penistaan terhadap ajaran agama islam, baik itu laki-laki, perempuan maupun anak-anak.
Banyak orang beranggapan bahwa berani itu milik laki-laki dewasa. Hal ini tidak sepenuhnya benar. Sejarah telah mencatat bahwa banyak juga perempuan-perempuan pemberani dalam membela Islam. Ada beberapa shahabiyah yang juga ikut terjun dalam membela Islam, diantaranya adalah Khadijh, Aisyah, Nasibah binti Ka’ab, Shafiyyah binti Abdul Muththalib, Asma binti Abu Bakar, dan lain sebagainya.
Lebih detil lagi penulis memaparkan karakter-karakter yang harus dimiliki oleh seorang pemberani yaitu :
1.      Mencintai masjid
Ciri pertama kedewasaan seorang laki-laki adalah memakmurkan masjid. Hati mereka selalu terkait pada-Nya. Masjid merupakan tempat pembentukan laki-laki yang sebenarnya. Di tempat inilah mereka mensucikan diri, bersujud, berdzikir, dan sholat. Perdagangan, jual beli, dan berbagai tontonan duniawi tidak melalaikan diri untuk selalu ingat Allah dan mengerakan sholat.
2.      Menyeru ke jalan Allah
Ada kisah menarik yang dikutip Na’im Yusuf dalam buku ini. kisah tentang Musa dan Fir’aun. Musa dalam pandangan Fir’aun adalah seorang yang ekstrem dan membahayakan agama, maka harus dilenyapkan. Apalagi ia (Fir’aun) menganggap dirinya adalah seorang penjaga agama yang paling benar dan berkuasa di zamannya. Maka, tidak ada jalan lain bagi Musa kecuali minta perlindungan Allah. Dan seperti yang kita ketahui, apabila kita menolong agama Allah pasti Allah akan menolong kita.
3.      Bersungguh-sungguh dan tanggap
Kesungguhan adalah sifat paling dasar dan harus ada pada tiap manusia. Sebab hanya dengan kesungguhan, kewajiban dan tanggungjawab dapat dilaksanakan, dakwah dapat disebarluaskan, dan semua penderitaan serta kesulitan dapat dikalahkan. Kesungguh-sungguhan dan penampilan yang menarik akan selalu meninggalkan kesan yang mendalam di setiap situasi dan kondisi.
4.      Bersikap aktif dan bertanggungjawab
Pemimpin yang memiliki pemahaman agama yang baik pasti memiliki sikap empati, tanggung jawab, dan merasa diawasi Allah. Seperi kisah Umar. Saat musim dingin tiba, Umar duduk dengan mengenakan pakaian tipis hingga tubuhnya menggigil kedinginan. Ali bin Abi Thalib menemuinya dan bertanya, “Semoga Allah selalu merahmatimu, wahai Amirul Mukminin, apa perlu aku ambilkan baju tebal agar tidak kedinginan?”
Umar menjawab, “Tidak perlu, aku lakukan ini agar aku bisa merasakan apa yang sedang dirasakan para fakir miskin itu.”
5.      Bercita-cita yang tinggi
Ada orang yang mengatakan, bahwa mengikuti cara hidup orang hebat  yang memiliki cita-cita tinggi akan membawa kebahagiaan. Maksud cita-cita tinggi dalam buku ini adalah menganggap kecil sesuatu jika belum sampai pada puncaknya. Dalam pengertian lain, menjadi yang terbaik dan mencapai puncak kesempurnaan dalam ilmu dan amal.
6.      Mulia dan terhormat
Sikap mulia artinya menghormati diri sendiri demi meraih kedewasaan dan menyadari kemampuan diri meski dunia membelakanginya, keluarga tidak mengakui keberadaannya. Orang yang memuliakan diri idak berjiwa pengecut, dia sangat sopan dan sabar.
Kemuliaan akan berkata pada pemiliknya, “Allah ingin engkau menjadi seekor macan, bukan seekor kucing. Agamamu adalah agama yang berani dan merdeka, maka jadilah laki-laki yang merdeka. sesungguhnya Islam yang ada bersamamu adalah samudera –sangat luas- maka tinggalkan semua angan-angan kosong (hal 117).
7.      Berani di atas kebenaran
Setiap orang hendaklah siap bertanggung jawab atas kebenaran yang lisan dan perbuatan mereka. Seperti Al-Qur’an Surat Al-Ahzab (33):39 “(Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka taku kepada siapapun kecuali selain kepada Allah.
8.      Berani
Berani termasuk sifat yang harus dimiliki tiap orang, sebab masing-masing kita harus menyebarkan kebenaran. 
Untuk memenangkan kebenaran, harus ada bahu-bahu kuat yang memikulnya dan mampu menahan kebatilan. Keberanian adalah sumber kekuatan dan lawan darisikap pengecut dan kelemahan. Ia merupakan sifat terpuji yang mendorong pemiliknya menjadi pemberani (hal 144).
9.      Jihad dan pengorbanan
Pengorbanan yang dimaksud bukan hanya berkorban nyawa, tetapi juga berkorban tenaga untuk memahami agama ini secara mendalam, menerapkannya pada diri kita, menentukan peran kita dalam menyebarkan risalah, dan menggunakan agama untuk menciptakan kedamaian, serta mempelajari keadaa dan berbagai kemungkinan musuh agar kita siap menghadapi kejahatan.
10.  Teguh diatas kebenaran
Dalam dunia ini ada banyak rintangan berbahaya dan fitnah yang menyesatkan. Kadang berbentuk isu yang membingungkan atau rayuan yang mematikan. Untuk menghadapi semua ini dibutuhkan keteguhan diri di atas kebenaran.
Seperti kisah Bilal bin Rabbah, saat dia dilempar di atas pasir yang membara dan punggungnya ditindih dengan batu yang panas menyala. Namun bibirnya tiada henti mengucapkan kalimat Ahad, Ahad sebagai bentuk pelecehan dan tantangan kepada orang-orang zalim yang memaksanya menginggalkan prinsip yang dipegangnya. Apapun yang dihadapi, dia tetap teguh memegangnya. (hal 192)
11.  Sabar dan membiasakan diri
Ketika sabar menjadi sifat dasar pribadi muslim, itu akan memberi pengaruh yang sangat besar dalam banyak sisi kehidupan. Sabar bisa diartikan mengekang dan menaha serta bisa juga diartikan dengan memohon pertolongan Allah.
Sebagian orang shalih berpesan, “Orang mukmin sabar menghadapi cobaan, tetapi tidak ada yang sabar menghadapi kesehatan, kecuali orang-orang yang benar-benar beriman.” (hal 216).
12.  Memenuhi janji dan jujur kepada Allah
Seorang muslim akan dituntut atas apa yang diucapkan, maka dia harus menghormati dan memenuhi janji yang dibuatnya. Tujuan pemenuhan janji adalah untuk membangun kepercayaan orang lain dalam berinterksi dan menumbuhkan kejujuran di antara mereka.
Nabi bersabda, “Jagalah keenam hal ini dalam diri kalian, maka aku jamin kalian mendapat surga: berjata jujur, menepati janji, menjalankan amanat yang diberikan, menjaga kemaluan, menundukan pandangan, dan menahan tangan dari perbuatan jahat.” (hal 240).
13.  Tidak mudah putus asa dan pesimis
Dr. Yusuf al-Qardhawi mengatakan. “Seseorang yang benar-benar mukmin tidak mengenal arti putus asa dan tidak pernah kehilangan harapan, meskipun keadaan di sekitarnya begitu suram dn kejahatan berkomplot menyerangnya.” (hal 253).
Orang yang optimis tidak akan tertekan dengan berbagai cobaan yang dihadapi dantidak pernah mau menyerah meski musuh sangat keras dan banyak. Dia selalu merasakan kebersamaan dengan Allah Yang Mahaperkasa dan Mahakuat. Dia bergerak sesuai dengan perintahnya. Jika tangannya menyerang, ada kekuatan Sang Khalik bersamanya. Jika berjalan melaksanakan

Pentingnya memahami ciri-ciri para pemberani, apa-apa yang harus dilakukan untuk menjadi pemberani, bentuk-bentuk keberanian, dan tantangan yang harus dihadapi para pemberani dapat membuat generasi muslim yang mempunyai jiwa berani dalam mempertahankan dan membela Islam untuk meraih keridhaan Allah.
Secara keseluruhan buku ini layak dijadikan bacaan untuk membangkitkan semangat dalam menjalankan dan membela agama Islam. Ada puluhan literatur yang dijadikan referensi, terlihat dari daftar pustaka yang berjumlah empat halaman dan catatan kaki di beberapa halaman tertentu.
Kelebihan buku ini memberikan gambaran kepada kita karakteristik seorang pemberani, gambaran keteladanan para nabi dan Rasul-khususnya Rasul Muhammad SAW-, para sahabat Nabi. Tidak hanya untuk laki-laki, tapi juga perempuan. Dengan membacanya secara seksama, kita akan mendapati sosok-sosok pejuang Islam yang pemberani, yang mampu memantik kobaran api semangat dan nyali dakwah dalam diri kita.
Kekurangan buku ini adalah tidak adanya gambar ilustrasi yang dicantumkan. Mengingat sebagian penduduk Indonesia memiliki gaya belajar visual yang lebih memperhatikan gambar. Jadi sayang sekali buku yang bagus ini tidak dibaca keseluruhan oleh pembaca atau hanya dibaca sekilas. Jika dilihat dari segi tata bahasa atau Ejaan Bahasa Indonesia (EBI), hanya ada sedikit  kesalahan dan sedikit yang belum mencamtumkan sumber. 
Saya menemunui sedikit sekali kesalahan ketik di buku ini. Tepuk tangan buat Kak Editor. ini salah satu kesalahan ketiknya (tanda merah)

Previous
Next Post »

2 comments

Write comments
1 December 2016 at 00:15 delete

Masih banyak kata yang salah tulis Neng...hehe

Reply
avatar

Senang sekali jika teman-teman berbagi komentar di lapak saya :)

EmoticonEmoticon

Bukuku

Bukuku