Tidak Ada Sesuatu yang Kebetulan



Sungguh tidak ada sesuatu yang kebetulan saat saya mengikuti acara Dancow Parenting Center di Hotel Atria Malang, Sabtu 27 Agustus 2016.

Saat itu posisi saya ada d Pare salah satu desa di Kota Kediri. Perjalanan Pare-Malang butuh sekitar 2,5-3 jam. Rencana semula saya berangkat Sabtu ba’da Shubuh dengan perkiraan bisa datang ke acara tepat waktu. Namun ingatan saya melayang pada jalanan yang macet, oper angkot, dan menunggu angkot penuh. Akhirnya saya memutskan untuk berangkat ke Malang Jumat sore setelah kelas di Elfast.

Seperti biasa karena tidak punya tempat tinggal di Malang, saya menghubungi salah satu karib, Afifah. Alhamdulillah gayung bersambut Afifah mempersilahkan saya untuk menginap di kosnya. Thanks Afifah.

Mengobrol menjadi ritual yang pasti jika bertemu teman. Sesampai kosnya, kami mengobrol sampai tengah malam. Salah satu obrolan kami adalah ternyata besok (Sabtu) dia juga ada acara di hotel Atria. Ada seminar nasional yang diadakan Psikologi UM. Wah alhamdulillah berarti bisa nebeng bareng hehe.

Hal lain yang tak disangka adalah Prof Fattah Hanurawan sebagai salah satu pembicara seminar tersebut. Prof. Fattah adalah salah satu dosen favorit saya saat kuliah di UM. Beliau adalah salah satu penyemangat saya saat menulis karya tulis ilmiah, membimbingi saya hingga ke tingkat nasional, dan menjadi penasehat untuk buku Pendidikan Seks untuk Anak Autis. Perasaan saya meletup-letup ketika mendengar besok bertemu beliau.

Kejutan yang lain juga adalah saat mengecek di google map, letak Hotel Atria tak jauh dari makam putri tercinta saya, Qaisarah Lathifah Azzahra. Allah hanya menitipkan bidadari mungil itu dua minggu pada saya. Jadi sebelum acara kami bisa mampir ke makam terlebih dahulu. Sudah menjadi kebiasaan kalau ke Malang saya mampir ke makam si kecil, kebiasaan yang lain adalah saya selalu mengenalkan teman-teman saya ke si cantik Key, panggilan putri saya. Really miss you my sweet heart.

Allahu Akbar bukan suatu kebetulan saat Allah memilih kos Afifah sebagai tempat singgah, bukan suatu kebetulan saat acara kami di hotel yang sama dengan ruang yang berdampingan. Bukan suatu kebetulan saat Prof. Fattah menjadi salah satu pembicara. Bukan suatu kebetulan Allah mempertemukan saya dengan Prof. Fattah di tengah kesibukan beliau yang super padat dan tempat tinggal saya yang nomaden. Bukan suatu kebetulan tempat seminar dekat dengan makam. Bukan suatu kebetulan saya mampir ke makam si kecil.

“Tidak ada sesuatu yang kebetulan di dunia ini, selalu ada campur tangan Allah dalam setiap takdir hidup kita (Fauziah 2016). 

Plan ke makam dan seminar alhadulillah berjalan mulus. Yang agak perjuangan adalah usaha bertemu Prof. Fattah. Beliau sudah semacam aktor dengan jam terbang tinggi. Selesai acara saya menghubungi Afifah, menanyakan posisi Bapak Profesor. Kata Afifah, Prof Fattah di dalam ruangan.

Kami menunggu, 5 menit, 10 meit, 15 menit. Kok tidak keluar? Ruangan ditutup. Masak beliau tidak makan siang?

“Affah, biasanya gedung gedung untuk seminar memiliki pintu lain yang bisa digunakan pemateri untuk keluar. Biar tidak jadi satu dengan peserta.”

“Sepertinya tadi tidak ada pintu Mbak,”

Baiklah, kami positif thinking, Prof. Masih di dalam. Menunggu dan menunggu.

“Sholat dulu gimana? Siapa tahu bertemu beliau di mosholla,” tawarku. Afifah mengiyakan.
Kami turun ke lobby, mengamati sekeliling dan mencari petugas hotel untuk tanya tempat sholat.

“Mbak itu Pak Fattah!” pekik Afifah. Segera kulayangkan pandanganku ke arah yang ditunjuk Afifah. Nampak Prof. Fattah makan siang bersama para pemateri lain.

“Oke kita tunggu,”

Alhamdulillah akhirnya ketemu juga. Kami menunggu di lobby.

Pas tanya ke petugas dimana letak mushola, ternyata mushola ada d lantai dua. Tepat di lorong depan ballroom tempat acara Dancow. Wuiits, kok sampai nggak lihat ya? Hehehe. Tak disangka Allah menggerakan kaki kami ke lobby untuk mencari musholla dan bertemu Mr. Fattah. Alhamdulillah.

Melihat Prof. Fattah selesai makan siang dan berjalan ke lobby saya langsung menghampiri dan menyapa. Senangnya beliau ingat saya, “Fauziah bagaimana kabar?”

“Alhamdulillah Prof.. Wah senangnya Bapak masih ingat saya :) ?

“Selamat ya, dapat besasiswa. Kenapa tidak di UM?”

“Ditempatkan oleh pusat Prof,” ujar saya sambil nyengir.

“Nggak papa, alhamdulillah sudah dapet. Nanti S3 nya siapa tahu bisa di UM.”

“Di UM ada S3 PGSD Pak?”

“Sepertinya mau buka, saya diminta tanda tangan sesuatu,”

“Alhamdulillah. Mohon doaya Prof. Semoga bisa ketularan jadi profesor seperti Bapak, hehehe”
Dan bla bla..

Tak lupa sebelum pamit, kami foto bersama.

Tak hanya seorang guru yang senang ketika muridnya masih ingat, tapi juga ketika seorang murid masih diingat oleh gurunya.

 “Tuhan menaruhmu di tempat yang sekarang, bukan karena kebetulan. Orang yang hebat tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan. Mereka dibentuk melalui kesukaran, tantangan, dan air mata” (Pinterest.com)

bersama Prof. Fattah Hanurawan

Makam Qaisarah Lathifah az Zahra

bersama Afifah
saat acara parenting berdampingan dengan acara prikologi +Hotel Atria . satu gedung beda ruang


Previous
Next Post »

2 comments

Write comments
Amanda Ratih
AUTHOR
28 August 2016 at 07:55 delete

Wah dosennya masih muda mba zee *gagal fokus :D

Reply
avatar
28 August 2016 at 16:16 delete

hahahaha.
iya Mbak..beliau awet muda.. ;)

Reply
avatar

Senang sekali jika teman-teman berbagi komentar di lapak saya :)

EmoticonEmoticon

Bukuku

Bukuku