Lika-Liku Jadi Guru: Pengalaman Saat Siswa Hilang




Ada banyak kenangan ketika menjadi guru Sekolah Dasar (SD), apalagi saat mendapat tanggung jawab menjadi wali kelas untuk kelas penuh inspirasi. Kelas inspirasi karena tiap hari saya ingin menulis tentangnya, kelas yang membuat saya harus lebih banyak belajar, kelas asyik karena setiap hari harus menjaga hati agar tak terusik.

Dua kali saya memegang kelas ini. Tahun pertama saat bersama mereka, alhamdulillah beberapa masalah tulisan saya tentang pendidikan dimuat di majalah dan menang lomba menulis.
Tahun kedua, tak kalah seru dan semoga membawa kebaikan. Aamiin..
Hal-hal seru yang kami alami adalah

#1

Rutinnya para guru curhat tentang perilaku anak-anak saya ke adik kelas. Jagoan saya kadang gemes mengganggu siswa lain kelas. Ehm ini menjadi kabar yang hampir setiap hari saya dengar.
Tiap ada masalah dengan kelas lain, biasanya saya tabayun, mempertemukan para terdakwa, berbicara dari hati-hati. 

Dan satu hal lagi, menulis buku diary. Kami memiliki buku diary bersama. Satu buku diisi oleh siswa, guru, dan orang tua. Dari sini kami coba merekam jejak dan mengumpulkan kenangan yang mungkin nanti akan tertawa sendiri ketika membacanya.
Melalui buku ini, orang tua siswa mengetahui kegiatan anak di sekolah. Ada senang senang, pengalaman sedih, dan coretan kreativitas yang unik.

#2

Saya paling senang membuat percobaan atau sesuatu dengan anak-anak. Saat itu kami belajar tentang proses penyaringan air kotor menjadi air bersih. Siswa membawa perlengkapan yang dibutuhkan.
Dengan bantuan worksheet dan sedikit panduan dari saya, satu persatu membuat dan menunjukan ke saya.

Tak bisa dipungkiri kalau mereka bermain air. Ini yang bikin heboh hehe. Asal tidak mengganggu teman dan dapat mempertanggungjawabkan ke depan orang tua saya memberi kebebasan.
Sebelum jam belajar kelar, saya dikejutkan oleh penemuan mereka. Mereka menyatukan alat-alat penyaring air dan mencoba menyaring. Hasilnya, gabungan dari alat-alat itu lebih cepat membuat air bersih. Jenius!

#3

Salah satu suasana yang nyaman untuk curhat adalah saat makan. Di kelas, saya menentukan satu hari (seminggu sekali) untuk makan bersama saat istirahat. Hanya sekitar 15-20 menit. Tapi di sinilah anak-anak mulai cerita dengan lancar. Cerita tetang teman, keluarga, kakak dan adik kelas, pengalaman, serta cerita yang lain.

Waktu yang sedikit, efektif membuat saya dekat dengan  mereka.

#4

Menemani siswa yang mau puber butuh perhatian ekstra. Tak jarang saya pulang agak sore untuk dengerin curhat mereka. Bahkan ada yang pesan ke ortu agar jemputnya tak tepat waktu alias molor. Di sini saya belajar, anak-anak butuh tempat buat cerita.
Ketika mendengar cerita mereka, sharing, dan hahahihi bareng, saya jadi tahu masalah mereka. Jadi siapa bilang kalau anak kecil selalu bahagia? Mereka punya masalah dan jalan keluar yang unik.

#5

Musuhan, masing-masing anak pasti pernah ngalamin. Beda pendapat, bertengkar, atau diem-dieman. Kadang saya tertawa sendiri liat tingkah mereka. Pagi berantem, siang dah jalan bareng.

Ada juga yang lebih dari dua hari tidak menyapa. Kalau seperti ini saya biasanya membawa mereka ke ruang tertutup (UKS, perpus, masjid, dll). Membiarkan mereka di sana untuk beberapa saat sampai mau nyapa, senyum, dan salaman. Kadang tak sampai sepuluh menit mereka sudah tak betah dieman. Siapa yang nyaman diem berdua di tempat yang sepi lama-lama. Hehe.

#6

Ada saat yang paling membat saya takut, khawatir, dan marah. Saat itu adalah saat mendengar beberapa siswa sepedaan keluar sekolah tanpa ijin dengan kata lain menghilang saat jam sekolah masih berlangsung.

Jadi ceritanya, hari Sabtu sekolah saya ada ekstra. Masing-masing siswa berkumpul di kelompok ekstra pilihan masing-masing. Lha, ada siswa saya dan siswa kelas lain yang membawa sepeda merencanakan jalan-jalan. Jumlahnya 6-8 siswa. Menurut berita yang saya dengar mereka pergi ke pasar burung.

Shok saya dengarnya. Pasar burung letaknya lumayan jauh dari sekolah. Melewati beberapa kampus, alun-alun, museum, dan lain-lain. Rute yang dilalui termasuk rute yang sibuk. Khuatir bertambah karena saya telat tahunya. Saya masih mengisi ekstra, kabar itu saya ketahui setelah ekstra selesai. Ditambah saya tidak bisa mengendarai motor.

Alhamdulillah saya bertemu salah satu wali murid. Saya minta tolong diantar mencari mereka. Kami menelusuri jalan yang mungkin dilalui.

Sesampai di pasar burung, saya tidak melihat mereka di sana! Hampir menangis. Sepanjang jalan saya berdoa agar mereka baik-baik saja. Pulang dari pasar burung, saya lebih teliti melihat jalanan. Berharap ada penampakan mereka.

Saya meminta ibu yang mengantar untuk mampir alun-alun. Siapa tahu mereka main di sana. Tapi nihil. Mereka tak ada di alun-alun. Saya coba hubungi sekolah, kata guru-guru mereka belum kembali. Tambah lemes dengarnya.

Duh Nak Nak...

Dari alun-alun kota Malang kami ke sekolah lewat Jalan Kawi. Motor melaju dengan pelan, kami mengamati sekeliling. Di depan BRI saya melihat ada anak kecil memakai seragam pramuka. Kami mempercepat. Benar, itu salah satu dari rombongan mereka.

Alhamdulillah.

Kami memberi tanda agar mereka menepi. Rasanya saya mau meledak. Ingin ngomel dan meluk mereka. Tapi tidak jadi. Malah terharu. Ada apa?

Mereka menyusun barisan sepeda. Nama-nama di urutan pertama sampai terakhir diatur. Lha yang urutan pertama membawa peluit. Dia yang memberi kode buat teman-teman kapan berhenti, belok, dan kode yang lain. Hahah ndak jadi marah.

“Kok diikuti sih?” kata mereka saat melihat saya. Ada yang memasang wajah sebel, takut, dan 
innocent.

Piuh.. sini sudah bingung cari, ndredeg, dan khawatir. Lha kok ketika ketemu, malah gitu.. sakitnya tuh di sini (sambil megang perut).

Usut punya usut, ternyata mereka jauh-jauh hari sudah merencanakan skenario ini. Membawa sepeda ke sekolah, membawa uang lebih, dan mengatur rute jalan. Wooow.. tapi tolong ijin dulu dan bukan di jam sekolah Le.. Le...

Kami kembali ke sekolah, mencari jalan yang sepi. Sesampai di sekolah, kami disambut guru-guru. Saya tidak akan cerita bagaimana ekspresi guru-guru.. bisa ditebak sendiri hahaha.

Sebelum mendapat “ceramah” saya minta mereka minum dulu, memenangkan perasaannya, biar tidak terlalu takut menghadapi cobaan berikutnya.

Ini hanyalah salah enam dari ribuan pengalaman bersama-murid-murid.

Bersama mereka saya merasakan suka duka, rempong, dan hebohnya jadi orang tua di sekolah. Bagaimana kalau jadi orang tua beneran? Maksud saya kalau jadi ibu kelak. Menghadapi anak dengan karakter, mimpi, dan keunikan yang berbeda. Kalau bicara tentang menjadi ibu, saya jadi ingat dengan teman saya Mbak Naqiyyah Syam. Tentang sepak terjangnya menjadi ibu dan perjuangannya agar bisa ngertiin masing-masing anak.Ada banyak tips untuk orang tua yang beliau tulis. salah satunya tentang 7 tips menjadi sahabat anak dengan cara menjalin komunikasi. 
.


Previous
Next Post »

6 comments

Write comments
Amanda Ratih
AUTHOR
1 July 2016 at 12:33 delete

Jadi guru emang penuh perjuangan, tapi pahlawan tanpa tanda jasa ini kalo soal gaji, byuuuuuuh medeni -_-

Reply
avatar
1 July 2016 at 13:15 delete

Hahaha benar mb.. yang nggaji Allah saja.. hehe

Reply
avatar
1 July 2016 at 20:20 delete

wah... seneng sedih n gemesin ya mbak pengalaman bareng anak2...^^

Reply
avatar
Naqiyyah Syam
AUTHOR
1 July 2016 at 23:53 delete

Jadi guru memang membawa sejuta rasa ya, bikin hati cepat cenut hehehe Barokallah bu guru yang punya keluasan hati��

Reply
avatar
4 July 2016 at 09:15 delete

Iya cikgu..rasanya nano-nano..

Reply
avatar
4 July 2016 at 09:24 delete

Betul betul betul..
Aamiin Ya Rabb

Reply
avatar

Senang sekali jika teman-teman berbagi komentar di lapak saya :)

EmoticonEmoticon

Bukuku

Bukuku