Drunken Monster: Cacatnya Harian Pidi Baiq

Drunken Monster: Cacatnya Harian Pidi Baiq

Judul buku: Drunken Monster
Penulis: Pidi Baiq
Penerbit: DAR! Mizan
Tebal: 204 halaman
ISBN: 978-979-752-832-4

Buku ini adalah buku Pidi Baiq pertama yang saya punya. Pemberian seorang teman yang tak ingin diketahui namanya. Agak melongo ketika lihat sampulnya. Ini buku apaan? Abstrak dan nggak jelas banget sampulnya (apalagi isinya). Hehe
Mungkin kalau tidak ada teman yang diam-diam ngasih hadiah ini, saya tidak mengenal siapa itu Pidi Baiq. Setelah baca nih buku, saya mulai mencari tahu tentang beliau dan browsing buku beliau yang lain. Pidi Baiq adalah mantan vokalis band indie The Panasdalam, mantan Dekan sebuah Universitas di Bandung, anggota Tim Kreatif Project-P, Staf Ahli di Bimbel Villa Merah, konsultan di galeri seni dan budaya SPACE 59, serta ilustrator di Penerbit Mizan. Buku beliau yang lain yang pernah saya review yang judulnya Dilan.
Oke, kali ini saya akan bahas tulisan nyeleneh dan agak absurd Pidi Baiq buku Drunken Monster.
Sebenarnya tidak ada kisah yang sangat istimewa dalam “kumpulan kisah tidak teladan” atau “cacatnya harian”ini, semua kisah berangkat dari pengalaman Pidi Baiq. Seperti mengantar anak ke sekolah, naik kereta ke jakarta, obrolan dengan temannya, derita karena sakit, dll. Namun Pidi dengan keisengan dan cara berpikirnya yang memang usil membuat keseharian yang biasa-biasa saja menjadi kejadian-kejadian yang lucu dan menarik untuk dibaca. Pidi juga memiliki keberanian yang luar biasa untuk mengungkap dan bertindak apa yang dipikirkannya itu terhadap siapapun lawan bicaranya yang ia temui mulai dari tukang parkir, tukang becak, satpam, penjual rokok, hingga istrinya sendiri. Semuanya dijadikannya objek kejahilannya.
Pidi berhasil pada titik tersebut. Dia menceritakan perkara yang ditemuinya setiap hari -tentu dengan gayanya itu- untuk mengambil satu pelajaran di baliknya.
Delapan belas kisah di dalamnya berjudul Air Lembang Panas; Drunken Monster; Jalan Ke Mana-Mana; Jalan-Jalan Minggu; Mengejar Kereta; Institut Tahi Burung; Mangga Monyet; Hari Senin; Pulang Dari Jakarta; Oh, Kerja; Martinus, O; Manggo Mimo; Noor Rosak; Ronda; Ayah Sakit; Dayat; Angkot Kiri; Ojek Nyegik.
Dari tulisannya yang nyeleneh dan agak absurd, Pidi tak hanya menawarkan kelucuan dan keisengannya. Melainkan ada nilai-nilai kehidupan yang terbungkus dalam candanya. Siapa yang berpikir kritis dan mau sedikit berjerih memaknainya, pasti akan menemukan makna kehidupan yang berharga. Menghargai sesama, berbagi pada sesama yang membutuhkan dengan seninya tersendiri tanpa adanya kesenjangan atau jarak di antaranya. Ia sayang istri, duh romantis tepatnya. Ia sayang anaknya, mendongengkan cerita untuk mereka..
“Kenapa sih saya ini suka melakukan hal yang sebenarnya tidak perlu dilakukan? Tapi hidup di bumi dengan cuma melakukan hal yang biasa saja, saya suka merasa tidak melakukan apa-apa.” (Hal 142)
Prof. Dr. Bambang Sugiharto (Guru Besar Filsafat di Unpar dan ITB) dalam kata pengantar di buku ini “Kegilaan dan permainan adalah terapi yang penting untuk menjaga kewarasan dan keindahan hidup. Manusia telah menjadikan hidup terlampau seirus, terencana dan rasional -terlampau “normal” kata Michel Foucault- hingga hidup tak lagi menawan, menggemaskan dan orang terjangkiti amnesia massal alias lupa. Lupa pada tertawa, lupa pada kekonyolan manusia yang kerap menggelikan. Lupa bahwa hidup barangkali sebuah permainan indah yang mengasyikan; akal-akalan manusia, permainanTuhan.” (hal 14)

Dibalik keisengannya, Pidi memang benar-benar baik dan dermawan. Ia tak segan-segan memberikan sejumlah uang yang cukup besar pada orang-orang kecil yang ditemuinya seperti tukang parkir, tukang becak, sopir taksi, tukang ojek, dan lain-lain.
Masuk ke cerita yang berjudul “Air Lembang Panas” saya ngakak nggak ketulungan. Cerita ini berkisah tentang suatu malam minggu, saat Pidi dan karyawannya pergi ke pemandian air panas di Lembang.
Sampai di loket tiket, ia berkata pada si penjaga, “Saya dari rombongan rumah sakit jiwa! Ini, saya bawa pasien, Pak. Mau mandi di sini. Mau terapi. Bisa ya?” (hal. 28).
Atau cerita lain yang berjudul “Hari Senin”. Ia memberi tukang rujak uang 150ribu sebagai tanda terima kasih karena telah suka rela dan tanpa merasa jadi korban keisengan Pidi, ups! Eh, enggak, maksudnya biar Tukang Rujak itu bisa ngajak anak-anaknya main.
Ajak anak-anak main. Saya serius, nih! Kasian mereka. Jangan dagang terus. Anak-anakmu mungkin butuh uang, tapi anak-anakmu juga butuh ayah. (hal 171).
Dalam menulis, Pidi seringkali menggunakan kalimat-kalimat pendek, tak lazim, tidak terstruktur selayaknya bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kalimat-kalimatnya meluncur melanggar tata bahasa Indonesia yang baku, semuanya seakan jumpalitan semaunya sendiri. Seolah-olah menegaskan bahwa Pidi memang ingin sepenuhnya mendobrak normalitas. Selain itu Pidi punya kacamata berbeda melihat suatu peristiwa. Ia acak dan spontan. Reaksi beragam tertuang menjadi dialog kocak dan segar. 
Buku berbahaya ini (yang kalau ditiru bisa bikin malu-maluin),  cocok untuk dibaca siapa saja. Bagi mereka yang kadang berpikir terlalu serius anggaplah buku ini sebagai penyeimbang dan sebuah tawaran agar bisa sedikit lebih ‘gila’ dan tak terlalu serius menghadapi kehidupan ini.
Pada akhirnya di luar ekspektasi, saya menyukai buku ini. Terima kasih buat teman yang telah memberi buku absurd dan bermakna ini.
Sampai kita berjumpalitan !


Previous
Next Post »

Senang sekali jika teman-teman berbagi komentar di lapak saya :)

EmoticonEmoticon

Bukuku

Bukuku