Allah Tidak Pernah Membuat Kita Benar-Benar Tersesat



Allah Tidak Pernah Membuat Kita Benar-Benar Tersesat


Sepertinya judul di atas mewakili cerita kami bertiga. Saya, Bu Nur Khasanah, dan Pak Ahmad Amran (Anita). Bermula dari penolakan rencana penelitian dari salah satu sekolah Islam di Surabaya, kami memroses surat penelitian (lagi) ke kampus UNESA Lidah Wetan. Lebih tepatnya, karena dosen pembimbing kami adalah salah satu guru besar di Lidah Wetan, jadi kami mencari tanda tangan beliau di sana. Alhamdulillah akhirnya bisa silahturahim ke kampus UNESA belahan bumi lain.

Perjalanan dari Ketintang menuju Unesa Lidah Wetan melalui GPS dimulai. Alhamdulillah perjalanan kali ini lancar, tidak nyasar, dan tidak ada yang rusuh. Selesai mencari tanda tangan, kami keliling kampus UNESA (untuk mencari teman seperjuangan). Sampailah kami di salah satu pojok gedung O, mata kami bertiga tertuju pada benda yang sama: kardus-kardus yang berserakan.

Saya teringat dengan tumpukan buku yang tidak kebagian jatah tempat di rak. Tanpa babibu kami mendekat. Tapi boleh tidak ya? Kardus ini dijemur atau dibuang? Tak lama kemudian lewatlah bapak-bapak yang kami tidak tahu siapa. Bapak tersebut mendekat. Saya dan Pak Ahmad menjauhi kardus. Sedang Bu Nur masih asyik dengan kardus-kardus tersebut. Wajahnya memerah karena senangnya. Pas sadar ada bapak-bapak mendekat, Bu Nur memberikan kalimat ajaib yang membuat kami tenang, “Pak, kardus-kardus ini dipakai lagi atau tidak?”

Jawaban bapak yang lewat tak kalah membuat saya adem, si Bapak mengizinkan kami membawa pulang semua kardus tersebut. Tapi karena nggak muat, jadi kami cuma bawa berapa.

“Lumayan ini, di dekat UNESA 7.000 dapat 3,” celetuk Pak Ahmad.

Semoga dia tidak punya pikiran untuk datang lagi dan mencari kardus untuk dijual. Semoga kardus yang dibawa benar-benar dipakainya sendiri, bukan dikilokan karena mupeng harga kardus yang mahal. Aamiin.





Pulang dari UNESA Lidah Wetan, kami berencana untuk mampir ke Citraland (buat foto di dekat icon Singapura). Terinpirasi dari foto saya yang ini

Namun apa dikata, kami nyasar sampai daerah golf Citraland. Patung icon Singapura seakan-akan menghilang. Lenyap ditelan bumi, kami tidak menemukannya!
Agak kecewa sih, tapi mau bagaimana lagi. Apa perlu melepaskan gelasnya biar pecah, atau harus lari ke hutan? Tidak, cukup dengan selfie, capek itu hilang, apalagi bertemu dengan dua adik imut yang mau diajak foto bareng di salah satu taman Citraland.



Episode tersesat yang mengintai kami tak hanya di sini. Hari berikutnya dan berikutnya. Pernah kami bolak-balik masuk ke Markas Angkatan Laut. Diminta balik jalan karena bukan jalan umum. Lha terus kami tadi nerabasnya lewat mana. Entahlah.
Yang jelas semua episode tersesat ini bukan sepenuhnya salah kami. Tapi sebagian besar disebabkan oleh google map. Ehm.. atau karena katroknya kami nggak bisa baca google map ya? Jadi arahnya kemana-mana.
Kalau dirangkum, acara tersesat nyasar berkelana kami seru juga
Tersesat berkelana 1: SD Al- Azhar, nyasar di Kenjeran Park, endingnya nyoba kuliner sate kupang

Tersesat berkelana 2 : UNESA Lidah Wetan, pulangnya nyasar di golf Singapore of Surabaya, endingnya dinner cumi dan cah kangkung ala Pondok Dhahar 

Tersesat berkelana 3 : SD Muhammadiyah 20, nyasar sampai basis TNI AL Perak dan menyasarkan diri ke wisata Sunan Ampel, tak lupa nyoba kuliner roti maryam plus gule kacang ijo

Tersesat berkelana 4 : SD Muhammadiyah 20 dan SD Al Irsyad Surabaya, dilanjutkan dengan menyasarkan diri ke Suramadu, Bangkalan buat nyoba kuliner Bebek Sinjai Bangkalan 




Setelah peristiwa tersesat atau nyasar di atas, saya jadi tahu kalau nyasar tidak sepenuhnya tersesat. Ada banyak definisi nyasar yang saya temukan. Diantaranya adalah
  1. Tersesat berarti menemukan jalan lain untuk menuju suatu tempat tertentu
  2. Tersesat sama saja dengan kita punya wawasan lain terhadap daerah yang belum kita ketahui sebelumnya
  3. Tersesat bisa diartikan kita tahu rahasis jalan mana saja yang baiknya tidak dilalui
  4. Tersesat adalah kita memiliki pengalaman baru dengan orang baru
  5. Tersesat juga bisa diartikan Allah meminta kita untk lebih membuka mata agar lewat jalan alteratif lain
  6. Atau bisa juga tersesat berarti menghilangkan kebosanan karena melewati jalan yang itu-itu saja ;)
  7. Tersesat... (menurut kamu, tersesat itu apa? )
Melalui pengalaman di atas, saya semakin tersadar kalau Allah tidak benar-benar membuat kita tersesat. Selalu ada hikmah yang Allah tampakan setelahnya,
Previous
Next Post »

2 comments

Write comments
10 June 2016 at 06:36 delete

Anda benar, Allah menginginkan kita masuk syurga ....

nice artikel..... salam ACADEMIC IND

Reply
avatar

Senang sekali jika teman-teman berbagi komentar di lapak saya :)

EmoticonEmoticon

Bukuku

Bukuku