The Brain Charger: Novel Misteri yang Mengupas Liberalisme dan Atheisme Melalui Ilmu Psikologi


Judul             
:
The Brain Charger
Penulis            
:
Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi
Penerbit          
:
Salsabila, 2012
Halaman        
:
298 Halaman
ISBN              
:
9786029854398
Ukuran          
:
14.5 x 21.5 cm

Pasar Ciputat mendadak Ramai. Sebuah mayat mahasiswi terbaik 2005 di Universitas Islam Bangsa (UIB) tahun ditemukan dalam posisi mengenaskan. Tangan, kaki dan beberapa bagian tubuhnya menghilang tanpa meninggalkan jejak. Kepalanya terpisah dicukur botak oleh si pelaku. Petunjuk lain disisakan pelaku hanyalah tiga huruf bertuliskan ”MDR” dan angka 42.
Seminggu kemudian, kampus Islam terbesar di Indonesia itu kembali dibuat geger. Ghefira Maylana Fasha, mahasiswa terbaik tahun 2006, ditemukan terbunuh. Di kaki kiri mahasiswi jurusan Kimia itu ditemukan tiga kata bertulis: Zweifel, Zweitracht, Zwitter. Ia terkubur di taman Fakultas Sains dan Teknologi yang didalamnya tertera relief Sudamanda, sebuah gambar ritual penyembahan Pagan pada era Dewi Isytar di Babilonia Kuno yang sarat dunia numerologi.
Alur di bagian awal bener-bener greget. Membuat saya urung untuk melepaskan. Penasaran novel seperti apakah ini?
Novel ini mengisahkan tentang Annisa Lexa Meteorika (Anna), perempuan atheis cantik nan cerdas. Ia menganggap bentuk pemisahan diri terhadap Tuhan adalah jalan meraih kebahagiaan. Cara berfikir seperti ini tentu menjadi kontroversi karena ia kuliah dan menjadi asisten dosen di sebuah kampus Islam.
Di kampus ia bertemu dengan Rizki, pemuda yang mengangkat kejayaan ilmu-ilmu Islam. Ia tidak silau melihat peradaban Barat. Karena menurutnya dibalik kemajuannya, Barat sangatlah rapuh. Rizki seringkali adu debat bersama sang dosen yang tidak lain adalah Anna. Di sinilah nanti akan kita temui debatan cerdas antara mereka.
Ditengah-tengah pergulatan Rizki dan kawan-kawannya menjawab tantangan Anna, ia dititipi Arisiska Lenila Wahid (Upik) yang akan melanjutkan kuliah di UIB. Arisiska memiliki pemahaman kajian perbandingan agama yang cukup mendalam. Bersama Rizki meneliti berbagai kode mutilasi yang menyimpan sekat agama-agama kuno dan analisis masalah kejiwaan yang ada di dalamnya pada kasus pembunuhan di kampusnya.
Siapakah pelaku pembunuhan sadis ini? Apakah yang menjadi motif mutilasi? Apa hubungan simbol kuno yang ditemukan dalam tubuh korban? Dapatkah Rizki dan Upik berhasil menguak tabir misteri dibalik pembunuhan mahasiswa tebaik di UIB? Bisakah Rizki menjawab tantangan Anna untuk menbuktikan keberadaan Tuhan sekaligus menyadarkan Anna?
Bisa dikata novel ini adalah pertemuan antara “Nietszche perempuan” dan “Sayyid Quthb muda”. Dengan tema utama psikologi tentang teori psikologi Sigmund Freud dan Fredrich Nietzsche serta beberapa kelainan jiwa, penulis juga meracik alur cerita dengan bumbu liberalisme, atheisme, simbologi, dan mistisme. Ibarat baca ensiklopedi lengkap sekali: Psikologi, Sains, Kedokteran, Ilmu Agama, dan Sejarah. Bayangkan bagaimana cerdasnya penulis mampu menulis tema berat ini dengan bahasa yang mudah dimengerti.
Dialog antara Rizki dan Upik, tentang simbol-simbol kuno mengingatkan pada film Davinci Code. Selain itu ada pembahasan Sudamanda atau engklek yang sudah berumur ratusan tahun yang ternyata sarat dengan pesan mistis kuno. 

“Sudamanda adalah sebuah petualangan misteri. Dia bukanlah sebuah permainan biasa. Ini bukan simbol sederhana. Ini kabut dari mistisisme yang dimainkan orang Eropa berabad-abad lamanya.” (hal 161)

“Di Betawi permainan ini lebih sering kudengan dengan sebutan engkle. Dimainkan dengan cara melompat satu kaki hingga puncaknya berada pada setengah lingkaran atas.”(hal 162).


Tentang tujuh kotak Sudamanda juga dibahas, “Dalam tradisi agama di Eropa Barat, angka tujuh memiliki andil besar dalam tiap pemujaan Dewa Matahari. Dalam kepercayaan itu, tiap jiwa munculdalam tujuh planet. Sebab secara simbolik digambarkan bahwa ada tujuh buah pintu yang harus dilalui seorang ahli dengan menanggalkan sepotong pakaian di tiap pintunya sebagai simbol pergantian sifat manusia dengan sifat lainnya. Kasus ini bermula di Babilonia Kuno, ketika Dewi Isytar mengunjungi dunia rendah.” (hal 163)



Selain itu ada analisi hubungan antara angka 13 dengan Jumat Kliwon.


”Sebagai angka keramat, Jumat Kliwon sebenarnya adalah hasil penerjemahan sebuah penanggalan melalui angka 13.”

“Urutkan hari Ahad sampai Jumat selama dua minggu berturut-turut, kamu akan mendapati bahwa pada hitungan ke-13 akan jatuh pada hari Jumat.”

“Lalu, bagaimana dengan penanggalan Jawa? Bukankah hari dalam tanggal Jawa ada lima, bukan tujuh?”

Arisiska menaruh cangkirnya, dan mulai membentagkan kelima jari. “Kita mulai menghitung. Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing. Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing. Pon, Wage, dan...”

“Kliwon!” Rosa mendesah. Matanya sulit terkatup. 

“It’s a code!” (hal 140)


Dalam novel ini juga diceritakan beberapa pusaka budaya kuno tanah air yang terungkap keberadaannya sudah tidak ada lagi di tanah air. Seru pokoknya. Imajinasi kita dibawa ke beberapa kalimat jenius penulis dalam memecahkan kode pembunuhan.
Dari novel ini saya belajar tentang tanggung jawab penulis terhadap tulisannya. Bayangkan apa jadinya kalau tulisan yang kita buat menginspirasi seseorang untuk menjadi pembunuh. Naudzubillah. Tulisan tidak hanya kita pertanggungjawabkan di dunia tapi kelak di akhirat juga.
Berdasar pengalaman penulis yang pernah bergelut menjadi konselor di sebuah Rumah Sakit jiwa di Jakarta. Pizaro pernah menangani beberapa pasien yang menderita skizofrenia, neurosis, dan fobia. Tidak sedikit pasien mengalami sekat traumatis mendalam akibat masa lalunya. Ia menerapkan ilmu psikologi barat yang sebelumnya dipelajarinya. Hasilnya ternyata tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya. Metodelogi Barat yang dipakai ternyata tidak banyak merubah pasien menjadi lebih baik. 
Menariknya ketika dia memakai metode Islam seperti taddabur Qur’an, Shalat Dhuha, dan dzikir kepada Allah ternyata perkembangan psikologis pasien beranjak kepada peningkatan posisitif.
Kelemahan novel ini satu. Kurang banyak halamannya! Sayangnya sekali novel ini hanya ditulis 298 halaman. Padahal bisa lebih tebal dan lebih menantang jika diteruskan.



Previous
Next Post »

Senang sekali jika teman-teman berbagi komentar di lapak saya :)

EmoticonEmoticon

Bukuku

Bukuku