Trends and Challenges toward Asian Economic Community UNESA

Trends and Challenges toward Asian Economic Community UNESA

Ada yang lain di hari Sabtu tanggal 5 Desember 2015. Biasanya hari Sabtu saya kuliah Bahasa Inggris. Namun karena ada acara seminar Trends and Challenges toward Asian Economic Community, jadwal kuliah diliburkan. Alhamdulillah jadi tidak ketinggalan pelajaran. Tahulah saya kurang banget untuk pelajaran yang satu ini. Namun ternyata seminar dengan lima pemateri keren itu pun pakai bahasa Inggris. Sama saja ikut mata kuliah Bahasa Inggris dong, bedanya sekarang dari native speaker.

Acara yang mengangkat tema Tren dan Tantangan Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asia ini, diadakan di Auditorium Prof, Slamet Dajono. Kampus Unesa Ketintang Surabaya dengan mendatangkan lima Keynote Speakers

  1. Prof. Dr. Fou-Lai Lin (Taiwan), National Taiwan Normal University
  2. Prof. Dato’ Abdul Rahman B Abdul Aziz Ph.D (Malaysia)
  3. Dr. Bill Atweh (Australia), Curtin University
  4. Dr. Zenaida Q Reyes (Philippines), Philippine Normal University
  5. Prof. Dr. Muchlas Samani (Indonesia), The State University of Surabaya – berhalangan hadir 
  6. Prof. Dr. Muhammad Nuh, DEA (Indonesia), Former Republic of Indonesia Minister of Education and Culture 2009-2014

Run Down Acara Trends and Challenges toward Asian Economic Community

Hari ini adalah pengalaman pertama saya ikut seminar internasional dengan pemateri dari luar negeri dan tidak menggunakan jasa translator. Rasanya pingin beli alat bantu pendengaran yang otomatis bisa menerjemahkan bahasa tersebut ke teliga saya. 

Acara dimulai pukul 08.30  dan dibuka dengan Tari Kiprah Glipang. Sebuah tari khas Jawa Timur yang merupakan bagian dari kesenian Ludruk. Tarian ini banyak berkembang di desa Pendil, Banyuanyar, Probolinggo. Tari Kiprah Glipang merupakan tarian perpaduan budaya Islam dan budaya Jawa yang di kemas menjadi sebuah tarian. Aransemen lagunya mirip the remix, bikin semangat.


Tari Kiprah Glipang

Tari Kiprah Glipang

Dari awal saya berusaha mencerna kata-kata MC dan  para pemberi sambutan. Dahi saya berkerut mencoba menerjemahkan sebisanya. Sampailah pada sesi Bapak Mohammad Nuh saya merasa mendapat agin segar. Pak Nuh memakai Bahasa Indonesia. Yeaaai Alhamdulillah.

Bapak Muhammad Nuh menyempaikan kalau setiap era memiliki massanya. sekarang massanya e-learning, e-banking, dan e- yang lain. 

Kalimat Pak Nuh mengingatkan saya pada ucapan Sahabat Ali, “didiklah anak sesuai dengan massanya”. Iya tepat sekali, jaman dulu beda pake banget dengan  sekarang. Harus selalu ada usaha pengembangan diri bahasa kerenya inovasi tiada henti.

Sebagai usaha meningkatkan pendidikan di Indonesia, Pak Nuh membuat online course (free) di www.indonesiax.co.id. Tak menunggu lama, saya langsung broswing dan daftar di alamat tersebut. Benar-benar web penuh ilmu. 

Penampakan www.indonesiax.co.id dari layar hp

Jadi ingat sama buku The One World Schoolhouse oleh Salman Khan, yang diterjemahin Mbak Nadia Abidin. Buku ini menjelaskan tentang pengalaman, kinerja, dan manfaat transfer ilmu secara online. Selain juga gagasan-gagasan beliau untuk dunia pendidikan. Sepertinya hampir sama dengan ide Pak Nuh.

 The One World Schoolhouse oleh Salman Khan

Kembali ke Pak Nuh, Pak Nuh menjelaskan pentingnya mencari ilmu, karena melalui ilmu inilah kita bisa melakukan perubahan fundamental. Ilmu juga merupakan pemutus mata rantai kemiskinan, ketidaktahuan, dan keterbelakangan peradaban. Namun ilmu saja tidak cukup, harus diimbangi dengan kemuliaan etika, dan agama yang bagus.  Saat berkomunikasi mereka harus paham dengan bahasa yang diucapkan, subtansi yang disampaikan, etika, dan makna.


“Jadilah kreatif meski minoritas. Meski kecil tapi bisa menjadi penggerak yang besar. Jadilah prosessor, meskipun ukurannya jauh lebih kecil dibanding komputer, tapi ia adalah penggerak komputer itu sendiri.” pesan Pak Nuh.

Menurut Moore’s law: Celocity  Setiap 12 bulan prosessor kecepatannya dua kali lipat dengan harga yang sama

Selain itu, ada hal yang tak kalah penting: net working atau jejaring. Menurut Metculfe’s law, banyaknya jejaring ditentukan oleh banyaknya titik kuadrat hidup. Kalau mau sukses jangan memperbanyak musuh, tapi perbanyak link.

Iya ini juga yang saya rasakan, sepintar apapun kita, kalau tidak punya link atau jejaring pasti ada kesulitan. Jejaring, teman-teman yang banyak akan membantu dan melengkapi kekurangan kita. Jadi ingat, dulu pernah melakukan percobaan pada diri saya sendiri. Satu semester saya fokus belajar, tidak ikut kegiatan kampus. Pulang kuliah ke kos, esoknya kuliah terus ke kos lagi, begitu terus. Ee... IP saya malah turun. Jauh beda dengan saya yang sering main dari kampus sendiri ke kampus tetangga, diskusi dengan teman dari berbagai kampus, ikut seminar, dll. IP saya naik. Padahal pekerjaan saya main terus. Jadi kesimpulannya adalah kalau ingin IP tinggi sering-seringlah main (plaaaak...). 

Dalam catatan saya, ada buanyaaaak materi keren yang disampaikan Pak Nuh. Tapi saya takut teman-teman bosan bacanya. Jadi sudah dulu ya. Atau mau nerusin? Ini masih Pak Nuh saja lo! Belum yang lain. Bagaimana? Lanjut?

Baiklah, biar tidak penasaran saya terusin materi dari pak Nuh. Pak Nuh menyampaikan hasil riset F. Covey. 

F. Covey melakukan riset selama enam tahun ke beberapa negara. Riset tersebut tentang prioritas. Jadi yang namanya hidup itu ada yang penting dan yang tidak penting. Dalam 60% hidup, kita melakukan hal-hal penting dan 40% yang lain kita melakukan hal-hal tidak penting! Nah lo!

Lha biar hidup bisa lebih efektif, maka baiknya kita membuat kolom-kolom prioritas. Mana yang harus kita lakukan terlebih dahulu, mana yang bisa ditunda, dan mana yang bisa dicancel. Belajar membiasakan diri mengerjakan yang penting dan meninggalkan kepecumaan atau kemubadhiran. 

Intinya harus bisa memanage waktu, kalimat Pak Nuh mengingatkan saya pada  surat Al-Asr, 
“Demi Masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran,”

Beliau juga menyampaikan tentang Five Minds for The Future yang digagas oleh Howard Gardner. Lima hal tersebut antara lain
1. Disciplined Mind
2. Synthesizing Mind
3. Creating Mind
4. Respectful Mind
5. Ethical Mind

Lima hal di atas adalah mindset education and integration. Di sinilah pentingnya keutuhan logika, etika, dan estetika. 

Tak hanya itu Pak Nuh juga memberi semangat ke kita -generasi Indonesia- untuk terus berkompetisi. Karena 40,8 penduduk ASEAN adalah orang Indonesia. Dan 37% perputaran investasi di ASEAN berada di Indonesia. Ini berarti Indonesia punya peran penting di ASEAN dan negara yang lain. 

Beliau juga menyinggung nasionalisme. Nasionalisme tidak tergantung tempat tinggal, tapi tergantung dari kontribusi pada perkembangan negara. Tak masalah ada orang ilmuwan Indonesia di luar negeri, asal saat di luar negeri orang tersebut membantu mahasiswa Indonesia di sana. 

Sebenarnya saya ingin cerita lebih lanjut, tapi belum pede untuk menyampaikan rangkuman materi dari Taiwan, Malaysia, Filipina, dan Autralia. Takut beda dengan yang disampaikan atau malah menyesatkan karena grammar saya memprihatinkan. Tapi saya akan mencoba memaparkan materi dari pemateri hebat ini. Namun tidak sekarang, insha Allah pada postingan berikutnya.

Sebelum mengakhiri cerita. Saya akan memberikan testmoni buat acara Trends and Challenges toward Asian Economic Community. 

Kalau dirangking 1-10, acara ini mendapat nilai 9. 
Pematerinya keren banget, harga terjangkau (ada harga khusus untuk mahasiswa UNESA), fasilitas: snack 2x, makan siang yang lezat, blocknote, polpen, tas, flashdisk 8GB, guide book, buku Identitas Kultural dan Karakter Siswa-Siswa di Indonesia dalam Perspektif Perubahan Global, id card, dan sertifikat yang langsung jadi di hari yang sama. 
Sedikit hal yang perlu diperbaiki adalah waktu, di rundown tertulis registrasi pukul 07.00-08.00 saya dan teman datang pukul 07.08. Acara dimulai sekitar 08.40. 

Oiya saya sangat berterimakasih karena ada fasilitas flashdisk, kebetulan flashdisk saya rusah hehehe. Tambah senang ketika tahu flashdisk tersebut berisi file pdf dengan ketebalan 500 halaman lebih. Namun mendadak pening karena semua isinya file tersebut bahasa Inggris. Lha kan sudah dapat flashdisk tuh, lebih mantap lagi kalau slide pemateri juga ada di dalamnya. 

Over all, terimakasih buat panitia yang telah menghadirkan acara super duper keren di kampus UNESA. 

Trends and Challenges toward Asian Economic Community UNESA

Trends and Challenges toward Asian Economic Community UNESA
bersama Bu Nur

Trends and Challenges toward Asian Economic Community UNESA
Fasilitas

Trends and Challenges toward Asian Economic Community UNESA
kika: Pak Bahrul Ulum, Zie, Bu Nur, dan Bu Lita

Trends and Challenges toward Asian Economic Community UNESA



Bapak Mohammad Nuh

Serah terima cinderamata




Trends and Challenges toward Asian Economic Community UNESA


kika: Pak Bahrul Ulum, Bu Lita, Zie, Bu Hera, dan Pak Budi
Trends and Challenges toward Asian Economic Community UNESA
Sertifikat

Previous
Next Post »

Senang sekali jika teman-teman berbagi komentar di lapak saya :)

EmoticonEmoticon

Bukuku

Bukuku