SMA Muhammdiyah 10 Surabaya: Talents Executive School

School Visit Menulis bersama tim Faber Castel. SMA Muhammadiyah 10 Surabaya: Talents Executive School

Kamis, 17 Desember 2015 adalah jadwal saya ke SMA Muhammadiyah 10 Surabaya untuk mengisi acara School Visit Menulis bersama tim Faber Castel. Acara dimulai jam delapan, karena belum tahu dimana tempatnya, jadi saya berangkat mruput. Jaga-jaga nyasar atau macet (sepanjang jalan berdoa semoga kagak kejadian). Alhamdulillah sampai sekolah sekitar 30 menit sebelum acara.

Di teras sekolah saya bertemu dengan Pak Iwan, salah satu Waka di sana. Di ruang kepala sekolah kami ngobrol banyak hal tentang pendidikan, itung-itung sambil menunggu acara dimulai. Konsep pendidikan di mata kami tidak jauh beda. Jadi klop deh. Kemudian beliau bercerita kalau tahun ini adalah tahun kedua SMA Muhammadiyah 10. Pandangan saya berputar memperhatikan keliling kantor.

“Tahun kedua sudah seperti ini?” tanya saya heran dengan penampilan sekolah yang wow.

Pak Iwan tersenyum mengiyakan. Jadilah saya kepo pingin tahu lebih banyak tentang sekolah ini.

Akhirnya Pak Iwan cerita hal ihwal tuh sekolah. Cerita beliau membuat saya berkaca-kaca. Kalau saya boleh menghitung mundur usia, saya pasti akan sekolah di sini! Ini adalah model  sekolah yang saya idamkan. Sekolah yang masih ada di luar negeri, belum di Indonesia.

Jadi ceritanya SMA Muhammdiyah 10 Surabaya ini adalah sekolah yang berani membuat kurikulum berbeda dari Diknas. Sempat ditolak karena tidak sesuai dengan kurikulum yang ada. Sempat ditutup dan digabung ma sekolah lain juga. Namun alhamdulillah, dengan sedikit “renovasi kurikulum”, sekolah ini bisa bertahan sampai sekarang.

Di tahun pertama, sekolah menerima dua kelas siswa. Pencapaian ini melejit di tahun kedua. Tahun kedua ada lima kelas. Jadi sekarang ada tujuh kelas. Sekolah ini tidak pernah menolak siswa! Ini nih yang pas banget ma prinsip saya! Jangan menolak siswa, karena Allah tidak pernah membuat produk gagal! Mungkin kitanya yang belum tahu potensi terpendam siswa.

“Bu, nanti jangan kaget ketika melihat murid sini ya,” ujar beliau.

“Ehm, muridnya aktif Pak?” saya menduga.

“Iya,”

“Mantap itu Pak, kebanyakan anak yang aktif cerdas-cerdas.”

“Tidak hanya itu Bu, di sini juga ada yang inklusi,”

“Wah keren, jadi benar-benar tidak menolak siswa ya Pak?” tanya saya. Beliau mengangguk.

“Nanti Ibu akan tahu sendiri, anaknya ikut pelatihannya Ibu,”

“Siap Pak,”

Kurikulum seperti apa sih yang sampai Dinas tidak setuju?

Talent Executive School,” satu ciri khas sekolah ini. Jadi siswa dikelompokan berdasar pada bakat mereka. Kalau yang ini mah banyak sekolah yang menerapkan. Trus apa bedanya?

Bedanya adalah siswa langsung belajar pada ahlinya, Di sekolah ini ada 20 guru mata pelajaran dan 15 guru ahli atau praktisi. Jadi siswa mendapat jam dari arsitek, dokter, pengusaha, dan lain-lain. Kegiatan ini masuk dalam jadwal. Selain itu kadang mereka yang berkunjung. Misal kelas tahfizh mulai jam 7.00-09.30 siswa tidak masuk kelas melainkan menghapal di rumah tahfizh, kelas hukum belajarnya di pengadilan, kelas memanah belajar di KONI, kelas musik akan mendapat ijin nge-band meski di waktu jam sekolah, kelas penyiar langsung siaran di radio, kunjungan ke PT Campina Ice Cream Industry, penyuluhan dari Microsoft, baksos bersama Universitas Sains Islam Malaysia, belajar di Tugu Pahlawan dan Museum Kesehatan, dan lain-lain. Jadi lebih ke potensi (saya mupeng dengarnya hehehe).

Selain itu juga ada sistem magang, jadi siswa magang di pekerjaan yang diminati. Yang tak kalah penting adalah memfasilitasi bakat siswa, misal mengikutsertakan siswa pada banyak lomba dan membuat penerbitan sendiri. Tak hanya itu, di usianya yang masih belia sekolah ini juga menjadi tempat kunjungan sekolah-sekolah lain misalnya Universitas Sains Islam Malaysia dan K3M MTs Muhammadiyah Kab Purbalingga.

Oiya, sekolah ini adalah satu-satunya sekolah yang punya kelas di Mall BG Junction, nyentrik kan? Hehhe. Kelas di BG Junction yang terletak di L 2, Stand A 23-A25 ini adalah kelas pencak silat, tari, dan musik. Waaah.. gak bakal bosen sekolah di sini.

Program pendidikan dan potensi minat meliputi keberbakatan, futsal, atletik, pencak silat, panahan, musik, hockey, tari, dan Anggar.

Minat diantaranya adalah
  1.  Potensi Entrepreneurship
  2. Potensi ilmu ekonomi dan manajemen
  3. Potensi ilmu kedokteran
  4. Potensi ilmu kesehatan
  5. Potensi ilmu hukum
  6. Potensi ilmu psikologi
  7. Potensi ilmu bahasa dan sastra inggris
  8. Potensi ilmu jurnalistik dan broadcast
  9.  Potensi seni desain
  10. Potensi seni musik
  11. Potensi ilmu keolahragaan
  12. Potensi ilmu teknik mesin
  13. Potensi ilmu teknik arsitektur
  14. Potensi ilmu analisis ilmiah
  15. Potensi ilmu informatika
  16. Potensi ilmu tata boga

“Pak, boleh tahu latar belakang kepala sekolah?” tanya saya, biasanya sekolah bagus tidak jauh-jauh dari peran kepala sekolah.

“Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah 10 Surabaya bernama Pak Sudarusman. Beliau adalah seorang arsitek yang mempunyai passion dalam dunia pendidikan dan kepenulisan. Beliau menerbitkan beberapa buku mewajibkan guru di sana untuk menulis,” cerita Pak Iwan sambil memberikan brosur dan dua buku tulisan Pak Sudarusman pada saya. 
School Visit Menulis bersama tim Faber Castel. SMA Muhammadiyah 10 Surabaya: Talents Executive School

Latar belakang murid bagaimana Pak?

Beberapa siswa dari kalangan atas, 30% adalah anak-anak Panti, yang lain dari latar belakang yang beragam. Jadi yayasan punya panti yang anaknya disekolahkan di sini. Pembiayaan menggunakan subsidi silang.

Tim Faber Castell  mengingatkan kami kalau acara sudah siap. Saya pun ke salah satu kelas yang disulap untuk pelatihan menulis. Di ruangan ini terdapat proyektor LCD dan AC. Pagi itu sekitar 50 siswa siap bermain-main dengan saya.

Saya coba menggali sejauh mana kemampuan menulis mereka dengan pertanyaan siapa yang memiliki kamus bahasa Indonesia. Bukan rahasia umum, sebagian orang Indonesia lebih memilih menyimpan kamus Bahasa Inggris dari pada Kamus Bahasa Indonesia. Mendengar pertanyaan saya, 90% siswa mengacungkan tangan. Alhamdulillah.

Pertanyaan berikutnya berapa novel yang dibaca, siapa yang pernah ikut lomba, siapa yang pernah menang lomba, dan siapa yang sudah punya buku. Kalau tidak salah tiga dari peserta mengacungkan tangan kalau dia sudah menulis novel. Tambah wow nih..

Pas berbicara soal blog, ternyata beberapa dari mereka juga punya blog. Ehm makin nyambung aja. 

So, acara pelatihan kemarin lebih ke trik dan motivasi untuk menulis lebih banyak buku. Untuk teknik dasar, sebagian dari mereka dah paham.

Bagusnya kemampuan diksi dan pembuatan plot mereka terlihat saat sesi lomba dari Faber Castell.  Jadi setiap pelatihan, Faber Castell selalu memberikan kompetisi untuk peserta. Mendapat materi, menulis ditempat, penilaian di tempat, dan pemberian hadiah di tempat. Saya membutuhkan waktu lebih lama dari biasanya. Karena diksi dan alur yang yang mereka rangkai keren-keren.

Dua jam terasa sangat cepat, saya menikmati kebersamaan kami. Oiya tentang siswa inklusi yang ikut kelas saya. Sekilas saya amati siswa motorik halus siswa dan penangkapan materi perlu ditingkatkan. 

Ada satu hal yang membuat saya kagum, dia memiliki rasa percaya diri dan kemampuan berbicara yang bagus. Jadi, meski dengan terbata, dia selalu menjawab pertanyaan dan menanggapi apa yang sampaikan. Lingkungan membuatnya tidak merasa rendah diri.

“Bu, nanti sebelum pulang ke ruang kepala sekolah dulu ya. Bapak ingin berbicara,” ujar pak Iwan.

“Nggih pak,” alhamdulillah mendapat kesempatan bertemu bapak kepala sekolah.

Selesai beres-beres laptop, saya meluncur ke ruang kepala sekolah.

Kami membicarakan alasan beiau membuat sekolah ini adalah karena pendidikan di Indonesia yang mewajibkan siswa untuk belajar banyak hal, cenderung baru fokus baru di perkuliahan (kecuali untuk SMK) dan obrol-obrolan yang lain. Kalau saya ketik di sini semua, ngelu jari saya hehehe.

“Masalah di sini adalah banyaknya wali murid yang belum paham dengan konsep pendidikan yang kami bawa. Mereka cenderung ke nilai ulangan. Ini anakku kok pelajarannya tidak sama,”

“Iya Pak karena di sini masih baru, beda dengan sekolah lain. Tapi saya percaya, dengan pembuktian karya pasti sekolah ini melejit. Profesor Yohannes Surya bisa mempersingkat pelajaran Matematika yang harusnya enam tahun menjadi enam bulan,”

“Lha ya itu. Benar... Itulah yang harus dipahami anak-anak dan orang tua. Saya ingin sekolah ini lebih ke agama, etika, moral, dan skill yang lain.”

“Mantap Pak, senang sekali saya punya kesempatan datang ke sini.

Saya teringat dengan salah satu dosen S-2 di UNESA yang mengadakan study banding di Singapura. Saat itu siswa sibuk mengerjakan LKS yang dibuat guru, sedang guru menilai pekerjaan siswa dengan duduk di mejanya.

“Ibu, saya jauh-jauh dari Indonesia ingin belajar tentang metode pendidikan di sini, tapi mengapa Ibu duduk-duduk saja?”

“Pak, pelajaran bisa dipelajari sendiri. Mengapa saya duduk-duduk di sini, karena saya memberi kesempatan pada anak-anak untuk bekerja sama, komunikasi, ngobrol dengan teman. Pembentukan kharakter,”

Kurang lebih begitu kalimat yang disampaikan Pak Dosen.

Benar juga, sebagian besar kita kalau diminta kerja kelompok biasanya hanya beberapa orang yang mengerjakan. Yang pintar cenderung tidak mau memberi tahu, yang kurang nitip nilai. Atau hanya beberapa dari anggota kelompok yang mengerjakan. Tapi tidak semua seperti ini. hanya sebagian saja hehehe.
“Jadi siswa pintar yang biasanya dapat nilai A ujung-ujungnya ke guru, dosen, peneliti. Nilai B ke jaksa, pengacara, dokter. Sedang yang nilai C menjadi anggota DPR, MPR. Karena siswa yang kurang bisa, biasanya sebelum ulangan mereka menraktir teman-teman biar nanti kalau ulangan diberi bantuan. teknik lobying nya hebat. Jadi dari kecil sudah mencari link agar membuat dia sukses. Beda dengan yang smart, dia selalu menutupi pekerjaannya agar tidak dicontek,” jokes dosen saya. Hahaha.. benar juga.
Pesan moral: Smart saja tidak cukup, harus punya link yang luas juga. Jadi ingat ma tulisan saya yang ini Trends and Challenges towardAsian Economic Community.

Oiya beliau mewajibkan semua guru menulis!
“Guru adalah role model bagi siswa, salah satunya dengan menulis. Paling tidak satu tahun satu buku atau satu tahun satu tulisan nanti dikumpulkan jadi satu dengan guru-guru yang lain. Terkait penerbitan di ISBN, sekolah menyediakan”
“Bu, misal di sini dibentuk FLP bagaimana?” tanya Pak Iwan.

“Bisa Pak. Nanti saya sampaikan ke FLP Surabaya. Sebelum membentuk FLP Ranting, baiknya gabung dulu dengan Surabaya beberapa bulan. Agar tahu model kegiatan dan mengenal FLP lebih dalam,”

“Iya Bu,”

Alhamdulillah, semoga bisa berlanjut ke kerja sama berikutnya. Terimakasih juga buat Faber Castell, Kampanye Menulis dengan istilah SchoolVisit Menulis keren! Acara ini gratis, Tak ada pungutan biaya. Jadi Faber Castell yang memfasilitasi. 


School Visit Menulis bersama tim Faber Castel. SMA Muhammadiyah 10 Surabaya: Talents Executive School
suasana pelatihan

School Visit Menulis bersama tim Faber Castel. SMA Muhammadiyah 10 Surabaya: Talents Executive School
Pembacaan Cerpen Hayati karya Kang Irfan Hidayatullah oleh Anin

School Visit Menulis bersama tim Faber Castel. SMA Muhammadiyah 10 Surabaya: Talents Executive School

School Visit Menulis bersama tim Faber Castel. SMA Muhammadiyah 10 Surabaya: Talents Executive School
Siswa praktik menulis dengan gaya mereka masing-masing

School Visit Menulis bersama tim Faber Castel. SMA Muhammadiyah 10 Surabaya: Talents Executive School
Siswa praktik menulis dengan gaya mereka masing-masing

School Visit Menulis bersama tim Faber Castel. SMA Muhammadiyah 10 Surabaya: Talents Executive School

Siswa menulis dengan gaya mereka masing-masing sambil saya putarkan instrumental. Tak ada perintah harus duduk manis ^_^. Dengan begini imajinasinya lebih bebas. 

Naskah Siswa

School Visit Menulis bersama tim Faber Castel. SMA Muhammadiyah 10 Surabaya: Talents Executive School
Naskah Pemenang

Buku ini berisi 11 Cerpen Komedi Terbaik Lomba Cerpen Faber Castell tahun 2013. Harganya murah pake banget. Hanya 15.000 bonus polpen cantik dari Faber Castell.

School Visit Menulis bersama tim Faber Castel. SMA Muhammadiyah 10 Surabaya: Talents Executive School
Foto pemenang lomba

Foto bersama pemenang dan Pak Iwan

School Visit Menulis bersama tim Faber Castel. SMA Muhammadiyah 10 Surabaya: Talents Executive School
Tim Faber Castell bersama Bapak Kepala Sekolah

School Visit Menulis bersama tim Faber Castel. SMA Muhammadiyah 10 Surabaya: Talents Executive School
Alhamdulillah dapat dua buku dari penulisnya langsung. Terimakasih Pak Sudarusman.

Dua buku karya Pak Sudarusman

School Visit Menulis bersama tim Faber Castel. SMA Muhammadiyah 10 Surabaya: Talents Executive School
Brosur SMA Muhammadiyah 10

Previous
Next Post »

3 comments

Write comments
18 May 2016 at 15:41 delete

Wah manajemennya keren banget tuh. Awalnya gimana ya sampai bisa jadi gitu. Merintis sistem yang nggak ada di sekolah lain pasti wow.

Reply
avatar
25 May 2016 at 22:46 delete

iya keren.. butuh keberanian yang besar untuk bisa beda dan bertahan...

Reply
avatar
4 June 2016 at 14:28 delete

seru ya Zie, hebat semangatnya

Reply
avatar

Senang sekali jika teman-teman berbagi komentar di lapak saya :)

EmoticonEmoticon

Bukuku

Bukuku