Mengasah Kemampuan Berpikir ala Abdurahman bin Auf


Kemarin saat pelajaran Filsafat Ilmu, Prof. Dr. Warsono. M.S -Rektor UNESA- memberi pertanyaan, “apakah seorang kuli bisa menjadi tukang, mandor, kemudian menjadi pemborong?”
Kami para mahasiswa dengan mantap menjawab bisa.
Kemudian beliau tanya lagi, “Bagaimana bisa?”
Banyak argumen yang kami sampaikan. Belajar mengamati lingkungan, belajar berpikir, selama ada interaksi pasti ada pembelajaran, dan lain-lain.
"Kritis, kreatif, dan inovatif," tiga kata kunci dari Pak Warsono
Sebagai pembelajar hendaknya kita belajar berpikir, coba kalau Newton tidak berpikir ada sesuatu di balik apel yang jatuh, apa yang menyebabkan? Mengapa ketika jatuh selalu jatuh ke bumi. Pemikiran-pemikiran inilah yang menjadi sejarah gravitasi bumi.
Kalau secara kasat mata, apel jatuh ya jatuh saja. Selesai hehehe..
Tapi di otak pembelajar, apel jatuh bisa menjadi inovasi tak terduga.
Pembelajaran kemarin, membuat saya teringat dengan salah satu buku yang saya tulis. Buku yang bercerita tentang 10 Kunci Rezeki ala Sahabat Rosul Bab Abdurahman bin Auf.
Saat itu Rasulullah mempersaudarakan beliau dengan Sa’ad bin Rabi’ Al Anshori, salah seorang kaya yang pemurah di Madinah.
Pada suatu hari Sa’ad berkata, “Wahai saudaraku Abdurahman, saya termasuk orang kaya di antara penduduk Medinah, hartaku banyak. Saya mempunyai dua bidang kebun yang luas dan dua orang istri. Pilihlah salah satu di antara dua bidang kebunku itu. Kuberikan kepadamu mana yang kau sukai. Begitu juga dengan salah seorang istriku, akan kuserahkan mana yang kamu senangi, kemudian saya kawinkan kamu dengan dia.
Abdurahman menjawab, “Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepada Saudara, kepada keluarga Saudara, dan kepada harta Saudara. Saya hanya minta tolong untuk menunjukkan di mana letak pasar di Medinah?”
Dari informasi tentang pasar ini, Abdurahman membaca peluang dengan menjadi kuli panggul. Setelah sukses mengamati pasar, beliau menjadi seorang pedagang perantara yang mengambil peran sebagai pemasok bagi pasar di Medinah.
Dan dalam waktu singkat beliau bisa membuat pasar baru milik umat Islam yang menerapkan sistem antiriba, antimonopoli, administrasi yang baik, dan harga sewa yang murah.
Bagaimana proses detail Abdurahman bin Auf. Hal ini akan penulis bahas di bagian Manajemen Bisnis Abdurahman bin Auf yang ada di dalam buku saya.



Previous
Next Post »

Senang sekali jika teman-teman berbagi komentar di lapak saya :)

EmoticonEmoticon

Bukuku

Bukuku