Pelangi untuk Jingga, Cerpen Terbaik 1 LMCA 2012

Cerpen Pelangi untuk Jingga ini, karya Sherina Salsabila. Ia berhasil meraih juara pertama pada Lomba Menulis Cerita Anak tingkat SD/MI tahun 2012. Saat menulis cerpen bertema Kasih Sayang ini, Sher masih tercatat sebagai siswa kelas VI SDN Jatirahayu VIII Bekasi. Cerpen ini dimuat ulang dari buku elektronik 13 Naskah Terbaik Lomba Menulis Cerita Anak (LMCA) 2012 yang juga berjudul Pelangi untuk Jingga. 
Selamat membaca, semoga menginspirasi 
Pelangi untuk Jingga, Cerpen Terbaik 1 LMCA 2012

Pelangi untuk Jingga


Pulang sekolah siang itu, aku turun dari becak. Membayar ongkos, dan segera membuka pintu pagar. Tiba-tiba pita rambutku ditarik oleh seseorang dari belakang. Tapi aku sudah tidak kaget lagi, karena pastilah itu si Jingga. Aku menoleh padanya sambil tersenyum. Jingga pun tertawa dengan girang, sembari berlari menuju rumahnya.
Usia Jingga sebaya denganku. Seandainya dia normal, barangkali saat ini Jingga juga telah duduk di kelas 6 sepertiku. Wajahnya cantik, dengan mata sedikit sipit. Muka cantik itu selalu terlihat polos, apalagi kalau ia sedang diam. Tak seorang pun akan menyangka kalau Jingga adalah anak yang berkebutuhan khusus.
Jingga mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. Ia hanya bisa mengucapkan beberapa kata, dan kata yang sama selalu diucapkan berulang-ulang. Aku dan Jingga berkawan baik. Kami bertetangga, dan sama-sama tinggal di komplek perumahan yang padat penduduk.
Jingga jarang keluar dari rumah. Kedua orangtuanya melarang Jingga untuk sering bermain di luar. Karena selalu saja ia menjadi bahan olok-olok, diejek, bahkan dijauhi. Tidak hanya anak-anak saja, bahkan para orangtua mereka pun, seringkali tak mau anaknya bermain dengan Jingga.
Tapi tidak demikian halnya denganku. Aku selalu tetap berusaha untuk menerima Jingga apa adanya. Bahkan Mama dan Papa sangat senang ketika aku bisa bermain dan tertawa bersama Jingga. Kata Mama, alangkah baiknya jika kita bisa menemani Jingga. Mengajari ia untuk mengenal hal-hal unik diluar sana, yang mungkin belum Jingga ketahui.
Kedekatan aku dan Jingga bermula dari sebuah lukisan. Sebuah kenangan yang tidak akan pernah aku lupakan. Ketika itu aku sedang menyelesaikan sebuah lukisan yang akan aku ikutkan dalam sebuah perlombaan tingkat kotamadya. Lukisan itu temanya tentang Hijaunya Alamku. Aku mengerjakannya berhari-hari dengan penuh kesungguhan. Begitu cermat dan teliti, dari siang sepulang sekolah, hingga tiba suara adzan Maghrib menyapa. Dari sinilah awal kisah itu dimulai. Yakni pada sebuah Maghrib yang hampir gelap. Saat aku berhenti sejenak dari lukisanku, untuk mandi dan berwudhu lantaran harus menunaikan sholat.
Ketika kembali ke ruang belajar itulah, aku melihat Jingga sedang tertawa gembira. Tak ada yang aneh dengan kebiasaan Jingga yang seperti itu. Tapi..., seketika kakiku terasa lemas. Kepalaku langsung pusing seketika. Lukisanku! Ya Allah, lukisan itu. Aku melihat Jingga tengah mencorat-coret lukisanku, menyembur-nyemburkan cat air dengan kuas, sambil tertawa gembira! Lukisan yang telah susah payah aku kerjakan beberapa hari ini, hancur dalam sekejap. Rusak akibat goresan cat air yang ditorehkan Jingga di atasnya....

Aku segera meraih lukisan itu, dan berlari menuju kamar Mama. Aku berlari sambil menangis, dengan air mata tak terbendung. Jingga juga ikut berlari dan tertawa senang di belakangku. Barangkali ia mengira aku mengajaknya bermain petak umpet seperti biasanya.
Dalam pelukan Mama, aku menangis sejadi-jadinya. Aku mengadu sambil memperlihatkan lukisan yang telah dirusak Jingga.
Mama menghiburku dan mengajakku untuk memperbaiki lukisan itu. Tapi mana mungkin? Aku tak akan mungkin sanggup mengulangnya lagi dari awal. Karena lukisan itu harus diserahkan besok pagi kepada Panitia Lomba. Ah, percuma saja aku menghabiskan tenaga, mengeluarkan semua emosiku berhari-hari. Kini yang tinggal hanyalah balasan tawa geli dari Jingga. Bahkan sepertinya ia mengejek, dan ikut memberi saran mustahil, dengan mengacung-acungkan tangannya keatas. Huhhh..., aku benar-benar sangat kesal pada kamu, Jingga!!
Sepertinya Mama memahami perasaanku pada Jingga. Dengan lembut Mama membujuk Jingga agar menjauh dariku. “Pulanglah Jingga, besok pagi boleh bermain lagi.”
Setelah Jingga pulang, aku memandang lukisan yang hampir sempurna itu dengan perasaan hancur. Betapa tidak, di balik gunung yang berwarna hijau bersih itu, seharusnya adalah langit biru cemerlang. Tapi kini telah diubah oleh Jingga, menjadi warna-warni yang tak beraturan. Sedih, marah, dan sangat kecewa.
Tak berapa lama kemudian Papa yang baru pulang dari kantor menghampiriku. Rupanya Mama telah menceritakan semuanya pada Papa. Dengan lembut Papa memberi semangat padaku, agar mau memaafkan Jingga, dan menghiburku agar bisa memperbaiki lukisan itu tanpa membuatnya dari awal lagi. Papa meyakinkanku bahwa aku pasti bisa mengolah lukisan itu menjadi lebih indah lagi, karena kata Papa aku memiliki jiwa seni yang bagus. Setelah mengecup keningku, Papa meninggalkan aku diruang belajar itu sendirian.
Papa saja yakin aku bisa membuatnya jadi lebih bagus, mengapa aku tidak? Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Lalu aku meletakkan lukisan itu diatas meja gambar, mengeluarkan peralatan dengan lengkap, dan mulai berimajinasi dengan lukisanku. Aku melihat coret-coretan Jingga, mematut gradasi warna-warni itu..., aha...!! Aku tahu bahwa semburat pelangi di balik bukit itu akan membuat langit biru menjadi sangat indah. Yup.., pelangi yang indah seperti namaku, Pelangi.
Aku mengerjakan lukisanku sambil membayangkan wajah Jingga yang sedang tersenyum manis. Huffffttttt, akhirnya selesai juga. Sekarang lukisan itu menjadi jauh lebih hidup. Aku tersenyum puas. Kemudian memperlihatkan lukisan itu kepada Mama dan Papa yang berada di ruang tamu. Mama memuji karyaku, Pelangi.
“Ini benar-benar jauh lebih indah dari yang tadi, Sayang...,” Mama memelukku. Papa menyambung pujian Mama, “Betul sekali. Itu semua karena ada sebuah pelangi yang cantik menghiasi langitnya.” Aku pun mencium pipi Mama dan Papa seraya berterimakasih telah memuji karyaku ini.
Aku segera masuk kamar dan tidur. Rencananya besok pagi setelah mengirim lukisan itu ke Kantor Pos, aku akan membelikan es krim buat Jingga. Sebagai tanda permintaan maafku padanya. Sungguh aku menyesal telah memarahi Jingga.
***
Waktu berlalu tanpa terasa. Ketika itu aku tengah bermain bersama Jingga. Seseorang datang, membunyikan bel dan menunggu di teras rumah. Aku meninggalkan Jingga dan berlari menghampiri. Ternyata seorang lelaki pengantar surat dari Kantor Pos. Ia menyodorkan sebuah amplop surat, yang jelas tertera di sudut kanannya adalah namaku. Dengan tak sabar aku membukanya. Dengan perasaan gemetar aku membaca isi surat, yang ternyata adalah sebuah pemberitahuan. Ya Tuhan! Dalam surat itu tertulis bahwa aku, menjadi pemenang Lomba Melukis Tingkat Kotamadya!! Dan hebatnya lagi, aku menjadi juara satu.
Betapa senangnya hatiku. Aku langsung berlari menemui Mama. Mama sangat senang sekali, dan berkata bahwa kemenanganku ini adalah berkat andil Jingga. Aku pun memeluk sahabatku itu dengan bahagia, dan bertekad dalam hati akan mengajari Jingga melukis.
Sejak saat itu, setiap Jingga bermain ke rumahku, aku selalu menyediakan kertas serta krayon. Sambil menggoreskan krayon di atas kertas, aku mengajari Jingga nama-nama warna. Juga tak lupa mengeja warna-warna itu dalam bentuk kata. Hari demi hari berlalu bersama Jingga, kami gembira kala menggambar dan belajar mengucapkan nama benda yang kami warnai. Ternyata Jingga anak yang luar biasa berbakat. Lihatlah sekarang, dia sudah tahu nama semua warna. Bahkan Jingga juga sudah mampu mengucapkan banyak kata.
Suatu sore, hujan baru saja berhenti Jingga berlari menuju rumahku sambil membawa peralatan gambarnya. Tapi dia tidak segera masuk seperti biasanya, hanya berdiri di pinggir pagar rumahku. Dari sana dia berteriak dan meloncat-loncat gembira seraya memanggilku dengan gerakan tangannya. Aku pun keluar menemuinya.... Tahukah kamu teman, apa yang diperlihatkan Jingga padaku?
Dia menunjuk ke arah langit dan memperlihatkan gambar yang telah dibuatnya. Karena ia begitu heboh, beberapa teman lain di komplek itu juga ikut mendekati kami. Lalu dengan sangat jelas Jingga berkata, “P E L A N G I..”
Tidak itu saja, Jingga juga memamerkan suaranya dengan menyanyikan lagu Pelangi. Diam-diam, kesungguhan Jingga menyihir yang lain untuk ikut serta. Teman-teman, dan juga aku, secara spontan mengikuti irama Jingga bernyanyi. Sungguh suasana menjadi gembira. Dari kejauhan aku melihat Mama dan ibunya Jingga berpelukan. Mereka terharu melihat Jingga, dan terutama sikap teman-teman yang biasanya menjauhi Jingga.
Semakin hari Jingga semakin ceria. Sekarang Jingga sudah tidak lagi seperti Jingga yang dulu, Jingga yang dijauhi dan dibenci oleh semua orang, perlahan-lahan sirna. Kini Jingga sudah memiliki banyak teman, dan sudah bisa bergaul dengan siapa saja.
Kegembiraan kami di sore itu meyakinkan aku akan satu hal. Bahwa kasih dan sayang yang tulus, akan menghantarkan banyak kebahagiaan dalam hidup kita.
Aku melihat langit. Sebuah pelangi muncul di antara deretan awan. Indah sekali, seperti mewakili persahabatan kami. Aku dan Jingga. [*]

sumber: koko-nata.net
Previous
Next Post »

Senang sekali jika teman-teman berbagi komentar di lapak saya :)

EmoticonEmoticon

Bukuku

Bukuku