CERPEN JUARA 1 LMCA 2013, SEUNTAI PUISI UNTUK ADIKKU

Orang tua seringkali memperlakukan anak-anaknya secara berbeda. Hal itu dapat menimbulkan kecemburuan dan perselisihan antar saudara. Hal itulah yang diangkat Giza Arifkha Putri dalam cerpen Seuntai Puisi untuk Adikku. 

Cerpen tersebut terinspirasi dari kisah nyata Giza sendiri yang mempunyai adik berkebutuhan khusus. Sejak lahir adiknya berada dalam kondisi cerebral palsy yang diterjemahkan menjadi lumpuh otak dalam bahasa Indonesia.

Perlakuan orang tua yang berbeda karena kondisi fisik yang tak sama itu sempat menimbulkan kecemburuan dan kekesalan di hati Giza. Sebagian besar cerita cerpen dan puisi benar-benar pernah dialami Giza. 

Tema yang tepat, kisah yang menyentuh, dan pilihan kata yang cukup puitis menjadikan cerpen karya pelajar kelas VI SD Negeri Bintoro 5 Demak itu meraih peringkat pertama pada Lomba Menulis Cerita Anak 2013 yang diadakan oleh Kemendiknas. 

Jika kamu sudah membaca cerpen ini, mungkin kamu juga akan mengatakan bahwa Giza pantas menjadi juara pertama lomba menulis itu.

CERPEN JUARA 1 LMCA 2013, SEUNTAI PUISI UNTUK ADIKKU

Seuntai Puisi untuk Adikku
Oleh: Giza Arifkha Putri

Rinai membasuh bumi dengan riangnya. Bagai anak manja yang telah melewati masa hukuman setelah beberapa lama terkurung, membuncah deras titik-titik air dari langit menyongsong kebebasan. Namun sayang, hatiku tak seriang rinai yang menciptakan embun tebal di jendela kamarku. Hatiku tak sebebas rinai yang melompat-lompat di atas paving teras rumahku. Ada rasa kesal yang mengentak-hentak dinding kalbu. Pada dia, adik lelakiku, yang menyita habis seluruh perhatian Mama, Papa, dan segenap keluarga.
Faza, sebuah nama yang sebenarnya aku turut andil dalam penciptaannya meskipun hanya dengan ucapan “ya”, tanda setuju, ketika Papa melontarkan kata itu saat calon adikku masih tertidur nyaman di dalam perut Mama. Kata Papa waktu itu, hasil USG menunjukkan kalau calon adikku berjenis kelamin laki-laki. Oleh karena itu, Papa sudah mempersiapkan nama untuk bayi laki-laki bagi adikku nantinya, hingga tercetuslah nama “Faza”.
Ketika genap kandungan Mama menginjak usia 6 bulan, adikku keluar tanpa diminta, seolah-olah tak sabar melihat dunia yang begitu indah, atau mungkin tak sabar bertemu denganku, saudara perempuannya. Akibat dari kelahiran yang belum waktunya itu –orang dewasa sering menyebutnya prematur-- adikku terlahir tak sempurna. Cedera otak atau istilah yang sering disebut oleh dokter ketika berbicara dengan Mama adalah Cerebral Palsy, merupakan penyakit yang diderita adik lelakiku, Faza. Karena penyakit itu, adikku tidak mampu beraktivitas secara normal seperti anak-anak normal pada umumnya. Faza tidak bisa bicara, tidak bisa melihat, tidak bisa duduk, apalagi berjalan. Mungkin hanya pendengaran dan detak jantungnya saja yang masih normal bekerja. Semua harus dibantu orang-orang di sekelilingnya. Dan itu, sungguh merepotkan bagiku. Penyakit itu pula yang membuat kasih sayang Mama, Papa, dan segenap keluarga terenggut dariku. Tentu saja, ketaksempurnaan tubuh Faza membuat semua orang begitu memperhatikannya.
Dulu, sebelum dia lahir, perhatian Mama sepenuhnya untukku. Tapi kini, waktu Mama habis untuk memperhatikan anak kesayangan Mama ini dengan segala kelemahan organ tubuhnya. Papa juga sama, selalu menghabiskan waktu untuk adikku begitu pulang kerja dan tak pernah lagi menawariku jalan-jalan sore, menghabiskan waktu di alun-alun kotaku sambil makan jagung bakar manis dan sate kerang kesukaanku. Adik lelaki yang dulu sangat kukasihi ketika masih tidur nyenyak di perut Mama, kini menjadi orang yang paling kubenci sejak dia lahir ke dunia.
Siang itu sepulang sekolah, Wali Kelasku memintaku menghadap karena ada sesuatu hal yang ingin ia bicarakan. Aku pun segera menuju ke ruang guru untuk menemui Bu Jatun, Wali Kelasku.
“Sasa, tiga hari lagi kamu mewakili sekolah dalam Lomba Macapat Islami tingkat Provinsi di Semarang. Apakah kamu sudah memberitahu kedua orangtuamu untuk mendampingimu dalam lomba tersebut?” tanya Bu Jatun, yang langsung kujawab dengan satu kata, “sudah”. Padahal jawaban itu kukarang dengan spontan, karena sebenarnya aku tak pernah menyampaikan hal tersebut kepada kedua orangtuaku. Bagaimana mungkin aku menyampaikan hal itu pada Mama dan Papa, jika waktu mereka habis untuk Faza. Jadwal terapi dan berobat Faza seolah harga mati yang tidak mungkin terusik oleh acara sepenting apa pun, termasuk lomba yang akan kuikuti ini. Percuma, pikirku, toh mereka pasti akan menjawab tidak bisa hadir. Jadi, kuputuskan untuk diam hingga mendekati hari pelaksanaan lomba.
Suatu hari sepulang sekolah, Mama tiba-tiba bertanya, “Sa, tadi Mama bertemu Bu Jatun. Katanya, besok kamu akan mengikuti Lomba Macapat Islami tingkat Provinsi di Semarang. Bu Jatun menanyai Mama tentang siapa dari Mama dan Papa yang akan mendampingi kamu di acara itu. Terus terang Mama gelagapan ketika ditanya Bu Jatun. Mama akhirnya mengatakan kalau Papa yang akan mendampingimu. Kamu kok nggak pernah mengatakan kepada Mama tentang hal ini, Sa?”
Seolah meluapkan kekesalan, aku pun menjawab dengan ketus, “Apakah jika Sasa bicara, Mama dan Papa mau hadir dalam acara itu? Lagi pula, apa Mama dan Papa mau mendengar jika Sasa bicara?”
“Lho, Sasa kok bicara gitu sih. Ya pasti dong, Sayang, Mama dan Papa mau mendengarkan setiap kali Sasa ingin menyampaikan sesuatu,” jawab Mama dengan sabar dalam memberi reaksi pada keketusanku.
“Bohong. Selama ini yang ada di pikiran Mama, Papa, dan semua orang hanyalah Faza dan Faza. Tidak ada yang peduli lagi dengan Sasa. Setiap Sasa menginginkan sesuatu, Mama dan Papa selalu menolak dengan alasan Faza. Semua orang tidak ada lagi yang sayang samaSasa,” teriakku sambil menangis.
Menghadapiku, Mama dengan kesabarannya mendekatiku. “Sasa anakku, jika Mama dan Papa bisa memilih, maka kami akan memilih anak seperti Sasa. Anak yang pintar, cantik, dan berprestasi. Tapi rupanya Allah menganugerahkan Mama dan Papa, juga Sasa tentunya, anak dan adik yang seperti Faza. Membandingkan antara kondisi Faza dan Sasa, tentunya Sasa sebagai kakak harus punya pengertian yang sangat besar jika Mama dan Papa sedikit lebih memperhatikan Faza. Ketika Faza tidak bisa melihat dan Sasa bisa melihat, maka tentunya Mama dan Papa akan memapah Faza dengan tanpa mengabaikan Sasa. Ketika Faza tidak bisa berjalan dan Sasa bisa berjalan dengan normal, maka Mama dan Papa akan menggendong Faza dengan tanpa mengabaikan Sasa. Dalam hal ini, Mama dan Papa minta maaf jika mungkin selama ini terkesan lebih memerhatikan adikmu. Tapi sungguh, harapan kami, kasih sayang kami tidak berat sebelah antara satu anak dengan anak yang lainnya. Sasa bisa mengerti maksud Mama?”
Panjang lebar Mama menasihatiku, tapi rupanya rasa kesalku terhadap Faza lebih bertahta dari rasa sayangku terhadap Mama. Maafkan aku, Ma. Aku belum sanggup menerimanya.
Di antara rasa kesal yang masih menggelora, keesokan harinya aku pun mengikuti Lomba Macapat Islami dengan didampingi Papa. Ternyata, rasa kesal mempengaruhi hasil suaraku sehingga aku harus berpuas diri meraih juara harapan ke-3. Papa membesarkan hatiku, demikian juga dengan Mama, melalui pesawat telepon di seberang sana.
“Selamat ya, Sayang,” sambut Mama begitu aku sampai di rumah. Aku tidak begitu bersemangat menanggapi pelukan Mama yang tangan kanannya repot memangku Faza --dengan mulut yang belepotan air liur dan makanan seperti biasanya.
Huh, menyebalkan!
Aku pun meletakkan begitu saja piagam penghargaanku, lalu buru-buru berlari ke kamar mengadukan kekesalan hati pada bantal dan guling. Mungkin karena kelelahan, aku pun tertidur untuk beberapa saat. Namun, ocehan dan teriakan Faza mengusik mimpiku dan memaksaku bangun untuk menghampirinya dengan bersungut. “Dasar anak nggak normal! Bisanya cuma mengganggu ketenangan orang,” gerutuku dengan menurunkan volume suara tentunya, karena jika Mama mendengar aku menyebut Faza sebagai “anak nggak normal”, pasti aku akan kenamarah nantinya.
“Ya Allah, Faza. Apa yang kamu lakukan pada piagam Kakak?” Aku berteriak ketika melihat piagam penghargaan yang kuperjuangkan tadi siang, dilumat habis olehnya. Memang, semua benda yang tersentuh tangan Faza, selalu habis ia makan pada akhirnya. Dan memang, sebenarnya kesalahanku juga telah meletakkan piagam itu di atas kasur Faza sehingga sampailah benda berharga itu di mulutnya. Kukeluarkan dengan paksa remahan piagamku dari mulut Faza. Kupunguti piagam yang sudah tak berupa itu dengan isakan tangis dan rasa kesal pada adikku. Kucubit pipinya yang gempal dan putih hingga memerah dan membuatnya menangis keras. Kutinggalkan ia dengan tangisnya, sampai Mama yang baru mandi keluar terbirit-birit menghampiri dan kemudian menenangkan Faza.
Jam menunjukkan pukul 04.30. Kudengar suara gaduh dari luar kamar. Aku pun keluar menghampiri asal suara yang mengusik tidur nyenyakku. Kulihat Mama dengan muka cemas menggendong Faza yang sudah memakai jaket dan selimut tebal seperti hendak bepergian. Sementara Papa membawa tas yang biasanya berisi pakaian Faza.
“Papa dan Mama mau membawa Faza ke mana?,” tanyaku mengusik kecemasan mereka.
“Oh, kamu sudah bangun, Sayang. Ini, adikmu semalam panas tinggi dan kejang. Mama khawatir karena sampai sekarang panasnya belum turun. Jadi mau Mama bawa Faza ke rumah sakit. Kamu shalat subuh dulu sana, doakan Adik supaya tidak ada apa-apa ya!” kata Mama menggoreskan luka di hatiku.
Kudekati Faza, kupegang dahinya, dan kurasakan panas menjalar di sekujur tubuhku. Tiba-tiba saja ada rasa penyesalan yang melanda atas perlakuanku kepadanya tadi sore. Kutengok pipi putih yang merona merah sisa kekejamanku. Ya Allah, aku takut jika sakitnya Faza karena ulahku. Ya Allah, sembuhkan adikku dari sakit yang dideritanya saat ini. Aku meminta dengan ketulusan hati dalam shalat subuhku.
Pagi, di sekolah, aku tak berkonsentrasi dengan pelajaran yang disampaikan oleh guru. Pikiranku melayang-layang pada kondisi Faza. Ingin sekali mempercepat waktu agar bel pulang segera berbunyi sehingga aku dapat segera ke rumah sakit bertemu Mama, Papa, dan Faza. Kata Mama sebelum ke rumah sakit subuh tadi, Kakek akan menjemputku sepulang sekolah dan langsung membawaku ke rumah sakit jika aku berkeinginan menjenguk Faza.
“Sasa, jangan melamun! Kamu paham tugas yang Ibu minta tadi?” ucapan Bu Jatun membuyarkan lamunanku.
“Eh, maaf Bu. Mohon diulangi, saya kurang paham,” kataku berbohong.
“Baiklah, Ibu akan ulangi lagi perintah Ibu tadi. Sasa dan juga yang lainnya, dengarkan baik-baik tugas yang akan kalian kerjakan hari ini! Buatlah sebuah puisi tentang ungkapan kasih sayang kita kepada seseorang yang sangat berarti dalam kehidupan kita! Seseorang itu bisa berarti orang tua, saudara, kerabat, ataupun sahabat. Sudah paham anak-anak?” jelas Bu Jatun yang diikuti ucapan “paham Buuu” secara koor oleh aku dan teman-teman.
Tugas mengarang puisi yang diberikan Bu Jatun mengangankanku akan sosok adikku tersayang, meskipun selama ini menurutku belum benar-benar kusayang karena kecemburuanku yang buta. Sebuah puisi untuk adikku, Faza, akan kubuat untuk memenuhi tugas Bu Jatun sekaligus sebagai tanda kasih dan maafku padanya.
“Seuntai Puisi untuk Adikku” adalah judul puisiku, mengalir dalam goresan tinta dan air mata penyesalanku.
Andai sanggup kuuntai air mata
kan kurajut menjadi selimut hangat
dengan balutan kasih yang kan menutupi tubuh mungilmu
Andai kumampu
memberi warna pada harimu yang tak bermimpi
hingga luka satu-satu pergi
dan aku bebas memelukmu
dengan hujan tangis yang memburu
Adikku, bersabarlah karena Tuhan punya rencana
di balik ketaksempurnaan tubuhmu
yakinlah aku akan menerimamu tanpa ragu
Akhirnya, bel tanda berakhirnya pelajaran pun berbunyi. Bergegas aku berlari keluar kelas setelah sebelumnya bersalaman dan mengucapkan salam pada guru yang mengajar di jam pelajaran terakhir. Kubawa kertas hasil karangan puisiku yang tadi sempat kubacakan di depan kelas. Ada nilai 90 bertinta merah tertuliskan dari pena Bu Jatun sebagai penghargaan atas hasil karyaku itu. Aku berlari kencangmenghampiri Kakek yang telah menungguku di depan gerbang sekolah. Kami pun segera meluncur ke rumah sakit tempat Faza dirawat.
“Mamaaa…,” aku berteriak sambil membuka paksa pintu sebuah ruangan rumah sakit, yang ber-AC, berbau obat, dan serba putih.
“Eh, Kakak datang,” sambut Papa sambil meraihku dan mengangkat tubuhkuuntuk kemudian mendudukkanku di sisi sebuah ranjang tempat Faza
berbaring. Kulihat Faza dengan muka lemah masih sempat tersenyum sebagaimana yang selalu ia lakukan setiap kali mendengar suaraku, tersenyum tanpa makna. Tangan kanannya tampak terbebani oleh selang panjang yang berjarum --kata Mama disebut infus. Pasti sakit tentunya.
“Mama, bagaimana keadaan Faza?” tanyaku pada Mama yang ada
di sebelah Faza.
“Alhamdulillah, berkat doa Kakak, Adik Faza sudah baikan sekarang. Ini tinggal pemulihan saja,” kata Mama memberi penjelasan.
Dengan penuh kasih sayang dan rasa penyesalan, kubelai kepala Faza yang hangat. “Za, maafin Kakak ya. Kakak jahat sama kamu selama ini. Habisnya semua orang jadi tidak peduli sama Kakak gara-gara Kamu. Maafin juga kemarin Kakak marah-marah dan nyubit pipi kamu sampai merah. Salah sendiri kamu nakalngrusakin piagam Kakak.”
“Oooaa,” seolah mengerti apa yang kuucapkan, Faza menimpali ucapanku dengan ocehannya. Mama, Papa, dan Kakek pun tertawa mendengarnya.
“O iya, Kakak buatin kamu sebuah puisi lho. Dapat nilai 90 nih. Kakak bacainya,” kataku bersemangat sembari turun dari atas ranjang.

Semua pun menyambutku dengan tepuk tangan. Dengan gaya bak seorang penyair, aku pun mempersiapkan ekspresi terbaik untuk membacakan hasil karya terbaikku untuk adikku tersayang. “Sebuah puisi karya Sasa Putri Delvaira untuk Adik tercinta, Faza Putra Delvaira,” ucapku mengawali pembacaan puisiku dengan hati riang.

sumber: www.koko-nata.net
Previous
Next Post »

Senang sekali jika teman-teman berbagi komentar di lapak saya :)

EmoticonEmoticon

Bukuku

Bukuku