Perempuan yang Ingin Lari dari Takdirnya (Malang Pos 5 April 2015)



Perempuan yang Ingin Lari dari Takdirnya (Malang Pos 5 April 2015)

Fauziah Rachmawati

“Kau yakin dengan keputusanmu?” Hajdari mengangguk, tatapan matanya kosong. Ia ingat betul bagaimana ayahnya mendidik dirinya menjadi seorang laki-laki. Mulai dari berpakaian, gaya bicara, bekerja, dan berinteraksi. Meski sebenarnya ia tetap ingin menjadi perempuan.
Hajdari -anak pertama dari lima saudara berjenis kelamin perempuan semua- yang sebentar lagi akan melakukan sumpah menjadi perawan, burrneshas.

Burnneshas, dalam bahasa Albania berarti perempuan menjadi laki-laki. Menurut tradisi, mereka tidak berganti kelamin ataupun berpenampilan seperti banci. Hal ini terjadi karena mereka beranggapan bahwa sebenarnya perempuan dan lelaki dilahirkan dengan hak yang sama, tapi mengapa perempuan harus bergantung pada lelaki.
“Hajdari, jangan memaksakan kehendak! Aku tahu kau masih setengah hati!” ujar Luis
Hajdari terdiam, perempuan itu memainkan ilalang yang ada di depannya. Tak berani menatap Luis.
“Dan kau mengabaikanku begitu saja?” Luis menatap wajah Hajdari.
“Maafkan aku karena harus memilih jalan ini Luis!” meninggalkan lelaki di depannya dengan tergesa.
Angan Luis mengapung. Rencana pernikahan yang telah mereka susun kandas karena keputusan Hajdari untuk melakukan burrneshas. Sebentuk mimpi indah menguap begitu saja. Hajdari lebih menurut permintaan orang tuanya daripada mempertahankan kisah cinta yang telah dirajut dengan Luis. Sebuah keputusan yang mengiris hati Luis tajam.
Tiba-tiba ingatan Luis melayang pada pertengkaran mereka satu minggu yang lalu. Pertengkaran yang menyebabkan semua ini terjadi. Masih karena masalah yang sama, burnneshas.
Di Baraganesh, Burrnesha adalah status yang dihormati dan dengan menyandang status tersebut, perempuan mendapatkan “kebebasan” serta kesetaraan dengan kaum adam. Mereka juga bisa memiliki tanah pribadi, hal yang mustahil bagi wanita.
“Aku harus melakukan ini Luis!”
“Tapi kamu perempuan!”
“Ya karena aku perempuan itulah, aku harus melakukannya!” dengan nada agak tinggi.
“Jangan konyol Hajdari!”
“Tidak! Aku tidak ingin membuat ayahku kecewa.
“Jadi ini karena permintaan ayahmu? Bukan karena inginmu!” Hajdari terdiam.
“Kau tahu apa akibat dari keputusanmu ini? Aku kecewa padamu!” ujar Luis lirih.
“Maafkan aku Luis.
. . .
Malam semakin berkabut, gerimis di hati lelaki tak lagi reda. Menguap mengawang memenuhi pelupuk mata. Menerawang dalam ketidakpastian. Hajdari yang selama ini ia anggap keibuan, pintar memasak, dan suka musik itu harus berubah menjadi pria. Terlebih, Luis belum siap jika pernikahan yang mereka rencanakan harus gagal. Lelaki itu mengambil jaket yang sebelumnya diletakan di kursi. Merapikan krah jaket, mengenakan sepatu, berjalan menuju rumah Hajdari.
Matanya gelap dan lelah, tak ada kilat mentari, hanya rembang petang yang tampak panjang. Nampak Hajdari menarik napas panjang, sesekali memainkan jari tangan di depan rumah. Tak Nampak cincin di sana, cincin pemberian Luis dua minggu yang lalu. Pandangan mereka beradu. Hajdari tersedak, segera mengusap embun di pipi.
“Ada perlu apa kau malam-malam begini?” ujarnya acuh.
Dia tak lagi memakai rok seperti biasanya, hanya celana panjang dan pullover yang tangannya ditarik sampai ke siku. Rambut panjangnya dipotong pendek. Kalau saja tak ada lesung pipit yang manis ituLuis mungkin tak mengenalinya. Dia benar-benar berubah!
“Aku hanya ingin tahu, sebenarnya apa yang kau cari dari Burnneshas. Kalau kau ingin harta, aku mendapatkannya dari keluargaku. Nanti setelah kita menikah, harta itu akan menjadi milikmu juga,” kata Luis dengan wajah memohon.
 “Tidakkah kau ingat petuah yang kau berikan padaku kala itu. Orang yang baik bukan berarti tak pernah salah, tapi ia mengerti bagaimana memperbaiki diri. Kau pun melarangku menyalahkan kesalahan orang dan balas dendam, tapi memintaku menunjukkan jalan menuju perbaikan diri. Aku bahkan masih ingat akan perkataanmu, mengapa kau malah mengingkarinya?” lanjut Luis.
 “Nanti kau akan mengerti mengapa aku melakukan ini!” Hajdari memasukkan jari ke dalam saku celana.
“Aku mau kau sampaikan sekarang!”
“Tak ada gunanya! Tak ada yang bisa mengubah keputusanku!” beranjak dari kursi bambu.
“Kau egois!”
“Ya, aku memang egois! Untuk itu, tolong tinggalkan aku!” perempuan itu melangkah menjauhi Luis.
“Kau memang egois! Tapi egoismulah yang membuatku tak bisa meninggalkanmu!”
“Terserah! Cepatlah pulang! Tak baik malam-malam bertandang ke rumahku. Apalagi besok aku akan melakukan sumpah itu!” Hajdari berjalan memasuki rumah meninggalkan diriku sendiri.
Sumpah itu? Besok? Begitu cepatkah?
Segera kutarik tangannya.
Plaak!
 “Hentikan! Tolong hargai keputusanku!” dia masuk ke dalam rumah dengan penuh amarah dan meninggalkan Luis dalam kegundahan.
. . .
Kesedihan bagai bayangan hitam yang terus membayangi dan terus mengikuti. Membawa terpaan badai menerjang hati yang makin kalut.
Sumpah telah terucap, nada suara dan gerak tubuhnya berubah, begitu pula dengan pakaian yang ia kenakan.
Xhimi,” panggil ayah hajdari bangga, perempuan yang telah menjadi lelaki tersenyum tipis. Xhimi adalah sebutan untuk lelaki tulen.
Caranya membawa cangkir, meminumnya, bahkan memukulnya di atas meja, mirip sekali dengan gaya laki-laki. Begitu pula ketika mengobrol dengan para tamu. Cepat sekali dia belajar menjadi pria.
Luis meninggalkan tempat itu segera, tak rela jika melihat perempuan yang pernah mengisi hatinya harus bergaul dengan para pria. Meski dia tahu Hajdari tidak akan menikahi pria-pria ituDia tidak akan menikah seumur hidup. Tak terkecuali dengan dirinya, lelaki yang sangat dan amat mencintainya. Lembayung kesunyian tak henti menari di pelupuk mata Luis.
. . .
Satu minggu kemudian.
“Luis, ibu sudah tua, ayahmu juga. Cepatlah kau menikah, lupakan Hajdari, masih banyak wanita lain yang lebih baik darinya,” tak sanggup lelaki itu menjawabnya.
“Luis kau harus mempunyai keturunan untuk meneruskan keluarga ini.”
Ia melangkahkan kaki menuju gudang, mengambil sepeda dan mengayuh jauh-jauh. Tiba-tiba ia ingin pergi ke suatu tempat. Tempat yang biasa gunakan untuk bercanda, diskusi, dan menyelesaikan masalah dengan Hajdari.
Lelaki itu mempercepat laju sepeda. Tak dihiraukannya buliran keringat membentuk bulatan besar-besar membasahi bajunya.
Hampir mendekat. Aroma kedamaian mulai terasa, satu rasa nyaman yang sulit terungkap. Bahkan ia bisa merasakan harum wangi parfum Hajdari.
Ah tak mungkin dia ke sana, segera kusingkirkan pikiran itu jauh-jauh,” batin Luis.
Hamparan hijau itu terlihat sudah, ia meninggalkan sepeda. Berlari dan berteriak kencang. Inilah yang biasa ia lakukan bersama wanita yang ia kasihi ketika ada masalah.
Seketika ia menghentikan teriakan, remang-remang telinganya menangkap suara wanita menangis. Luis perlahan berjalan menuju arah datangnya suara. Nampak seseorang di sana, entah lelaki entah perempuan berbaju coklat sedang duduk menundukkan kepala membelakanginya. Dari suara, sepertinya perempuan.
Luis mendekati, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya. Tak ada balasan.
“Baiklah, maaf saya mengganggu, permisi,” dia meninggalkannya.
“Luis,” ujarnya lirih.
Suara itu, segera Luis membalikkan badan, menatapnya lekat, wajah Hajdari pucat. Tangisnya pecah.
“Ada apa denganmu? Kamu sakit? Pucat sekali?” tanya Luis bertubi-tubi. Tak ada jawaban, hanya tangisan.
Hajdari, aku ingin kau taruh sakit dan dukamu pada pundak ini,” Luis hanya bisa mengucapkan kalimat ini dalam hatinya.  
“Maafkan aku,” Hajdari melangkah menjauhi.
“Hajdari, sungguh aku tak tega melihatmu menderita seperti ini. Bicaralah padaku apa yang sebenarnya terjadi. Aku tahu Burnneshas yang kau lakukan itu tidak atas kehendakmu sendiri.”
“Terlambat, aku sudah mengucapkan sumpah itu,” samar antara terdengar dan tidak.
Tak ada jawaban, mereka terdiam, perempuan menunduk. Yang terdengar hanyalah alunan nafas. Semenit kemudian Hajdari melihat jam di tangannya.
“Maaf aku harus pergi,” sambil membersihkan celananya yang kotor.
“Hajdari, aku ingin orang yang di sampingmu itu selamanya aku,”
“Semoga kau mendapatkan yang lebih baik dari diriku,” bayang tubuhnya semakin menjauh.
           
                                                            Hurriyah, November 2010

Previous
Next Post »

Senang sekali jika teman-teman berbagi komentar di lapak saya :)

EmoticonEmoticon

Bukuku

Bukuku