Antologi: Senandung Ramadhan

Antologi: Senandung Ramadhan

Hadiah Ramadhan

“Aku harus bertemu orang ini! Harus!” ujarku berulang-ulang di depan radio.
Benda berwarna hitam itu mampu menyedot perhatian! Ehm.. sebenarnya bukan radionya sih, tapi yang siaran. Aku ingat betul saat itu, peristiwa di satu malam di bulan Ramadhan 2005. Tak sengaja mendengarkan kajian di radio Kosmonita. Sebelum acara berakhir pemateri memutar kaset “jerit dari alam kubur”. Terdengar jeritan laki-laki perempuan yang menyebut asma Allah. Suara yang dominan adalah suara wanita. Teriakan yang tak putus-putus itu membuatku merinding.
Gara-gara rekaman itu, ada keinginan yang kuat untuk bertemu dengan beliau. Tapi bagaimana caranya? Tidak tahu nama ustadznya, tidak tahu nomor yang bisa dihubungi, maklum baru dengar pas acara mau berakhir.
Di kampus aku masih memikirkannya, bagaimana caranya aku bertemu dengan beliau. Apa aku langsung datang ke radio itu ya?
Beberapa hari berikutnya, masih dalam bulan Ramadhan, ada tawaran untuk mengikuti acara Dirasah Ramadhan yang diadakan SKI MIC FMIPA UM. Ntah mengapa aku langsung menganggukkan kepala, menyanggupinya, padahal saat itu ada kuliah. Hehehe. Aku dengan beberapa teman melarikan diri dari perkuliahan.
Dan betul! Nggak ada penyesalan ketika tidak mengikuti kuliah. Acaranya keren banget! Ada tiga pemateri, Ustadz Abdullah Hadromi, yang biasanya mengisi di masjid As-Salam, Pak Askan Setiabudi dari anggota TIPS Indonesia, dan Ustadz M Toufur.
Ustadz Hadromi, ndak usah ditanya bagaimana sepak terjangnya, beliau adalah salah satu ustadz favoritku.
Pak Askan, ini adalah kali pertama aku bertemu. Hal yang mengejutkan adalah ketika mendengarkan ceramah dari beliau. Beliau menceritakan tentang rekaman jeritan dari dalam kubur.
Jerit dari alam kubur? Ingatanku menerawang pada seseorang yang mengisi di radio. Dan setelah kutanyakan ternyata beliau adalah yang mengisi acara itu! Allah begitu cepat Engkau mengabulkan doaku.
Di akhir acara kuberanikan diri untuk bertanya, “Pak, bolehkah saya membeli CD nya” beliau kelihatannya tergesa-gesa.
“Sebenarnya tidak apa-apa kalau mbak mau beli ini, tapi saat ini saya tidak bawa copiannya. Dan nanti malam harus mengisi di MAN.” Beliau menjelaskan. Aku murung beberapa saat.
“Mbak kos dimana?” mungkin beliau tahu perasaanku saat itu.
“Jalan Bogor pak,” jawabku.
“Ooo Jalan Bogor, saya nanti malam ngisi di MAN 3 di jalan Bandung, dekatkan? Nanti malam sekitar jam sembilan mbak datang aja kesana, nanti saya berikan copiannya.”
“Benar pak? Tapi kalau ditanya oleh pihak sekolah bagaimana?” ragu.
“Bilang saja mbak anggota dari kami, TIPS Indonesia” katanya sebelum berpisah. Lisanku terus bertasbih pada Allah. Aku benar-benar bertemu dengan orang yang di radio!
Sampai di kos aku menceritakan hal ini pada teman-teman dan meminta mereka untuk menemani pergi ke MAN 3. Tapi sayang teman-teman banyak tugas, jadi tidak bisa mengantar.
Bagaimana ini? kuputar otak. Akhirnya aku mengajak penduduk kos tetangga depan yang baru kenal (kenal karena terawih bareng). Dan ternyata sebagian besar dari mereka adalah siswa MAN 3, trus yang punya kos adalah salah satu gurunya. Wuits… Allah terima kasih.
Selesai sholat terawih, kami berjalan bersama menuju MAN 3. Sesampai di sana, seperti yang kuduga, pihak sekolah menanyakan siapa dan darimana aku? Seperti yang dipesankan pak Askan, kukatakan aku dari anggota TIPS Indonesia.
Apa yang terjadi? Guru-guru menyambutku seperti tamu kehormatan. Beliau memberiku jamuan kue, buah dan minuman serta mempersilahkan aku duduk di ruang guru.
Waduh jadi nggak enak. Dalam hati aku tertawa atas kelucuan ini dan bersyukur pada Allah karena bisa merasakan kue itu.
Beberapa saat kemudian terlihat rombongan Pak Askan memasuki ruangan. Karena beliau harus segera mengisi acara, jadi kami belum bisa bertemu so ini berarti aku harus menunggu sampai acaranya selesai.
Acara yang diikuti siswa lelaki dan perempuan ini membahas tentang aborsi dan pergaulan bebas. Mereka antusias mendengar materi dari sang trainer. Ehmmm.. pokoke teope begete deh isinya.
“Semoga suatu saat nanti aku bisa lebih mengenal beliau, bisa menjadi trainer, dan bisa belajar dari beliau,” harapku saat itu.
Di tengah acara, tiba-tiba ada perempuan berjilbab mendekatiku. Surprise! Dia adalah murid ibuku ketika di SMP! Satu murid yang lumayan dekat denganku. Nggak nyangka kami bisa bertemu disini. Ternyata dia meneruskan di MAN 3. Allah, kembali aku berucap syukur pada-Mu.
Satu jam, dua jam, tak terasa begitu cepat waktu bergulir.
 “Waduh kok belum selesai-selesai? Sudah jam sebelas malam,” perasaanku was-was. Bagaimana dengan bapak dan ibu kos nanti. Tidur dimana aku kalau sampai pintu kos di kunci. Tadi cuma izin sampai sekitar jam sepuluh.
Akhirnya acara selesai. Aku bernapas lega. Namun sebelum pulang, ada acara sesi salam-salaman. Hiks kok lama banget, kapan ngambil CD nya?
Aku minta tolong pada salah satu siswa untuk memanggil Pak Askan. Namun yang datang bukan beliau, salah satu tim yang lain. Kujelaskan maksud kedatanganku, Alhamdulillah. CD kudapatkan. Gratis!
Sekarang pikiranku berkecamuk, waktu mendekati jam 12 malam, jalanan pastinya sepi! Kira-kira kos sudah dikunci apa belum? Pastinya sudah! Trus ntar aku tidur dimana?
“Kalau pintu kos sampeyan sudah terkunci, tidur di kosku saja,” Mbak Iin, tetangga depan kos sepertinya tahu kegelisahanku.
“Iya nanti ta’ bilangin ibu kos,” ujar yang lain.
“Nggak papa?” tanyaku.
“Iya nggak apa-apa,” jawabnya.
“Ok deh makasih ya. Jadi ngrepotin,”
Mendekati kos, ku misscall teman-teman. Alhamdulillah sebagian dari mereka belum tidur.
. . .
Di tahun 2010 aku menemukan catatan harian di atas, satu pengalaman yang terjadi  pada tanggal 22 Oktober 2005. aku membacanya berulang-ulang… antara percaya dan tidak percaya.
Saat ini, di tahun 2010 diriku menjadi salah satu tim TIPS Indonesia yang dipimpin oleh Pak Askan Setiabudi. Hal yang membuatku senang adalah aku banyak belajar dari beliau, sering mendapat pelatihan gratis, bahkan keluar kota bersama teman-teman satu tim.
“Semoga suatu saat nanti aku bisa lebih mengenal beliau, bisa menjadi trainer, dan bisa belajar dari beliau,” harapku saat itu.
Satu petikan dari diary di atas kubaca sekali lagi…
Satu harap yang benar-benar terjadi! Sungguh, Allah adalah Penulis Skenario terhebat!
Hal yang tak kalah mengejutkan, di tahun yang sama, putra dari Ustadz Hadromi sekolah di TK tempat aku mengajar, benar-benar kami mendapatkan murid istimewa!


8 Juni 2010
Previous
Next Post »

2 comments

Write comments
10 July 2013 at 06:30 delete

Kunjungan perdana
Salam kenal
http://masfadjar.blogspot.com/

Reply
avatar
24 March 2014 at 13:12 delete

salam kenal juga..
terimakasih sudah mampir ke blog saya :)

Reply
avatar

Senang sekali jika teman-teman berbagi komentar di lapak saya :)

EmoticonEmoticon

Bukuku

Bukuku